KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 21 : MBAH IYEM


Aku terhenyak begitu mengingat cerita Gatot. Ia menyebutkan bahwa ada arwah perempuan tua berkebaya ungu di warung Bu Mat, arwah mantan asisten Bu Mat.


"Mbah Iyem???" pekikku sambil mundur beberapa langkah menjauhi perempuan berkebaya ungu tersebut. Raut wajah perempuan tua yang semula ramah bersahabat, tiba-tiba memucat dan terlihat marah. Kedua tangannya diacungkan ke depan layaknya orang yang akan mencekik leherku. Dari sudut mata aku melihat perempuan itu tidak sedang berjalan di tanah, melainkan melayang di atasnya.


"Toloooooooong ...," Aku berteriak sambil berlari menjauhi perempuan tua itu. Aku tidak menoleh-noleh lagi ke belakang karena enggan melihat wajah seramnya. Aku berlari secepat kilat menuju teman-temanku yang lain yang ada di masjid.


"Kenapa Kamu lari-lari sampai ngos-ngosan begitu, Im?" tanya Gatot.


Lama aku tidak menjawab karena napas masih tersenggal. Setelah dapat mengatur napas barulah aku menjawab pertanyaaan si hulk tersebut.


"Benar kata Kamu, Tot. Aku menjumpai sendiri hantu Mbah Iyem di kantin," ujarku dengan napas berat.


"Lah, aku kan sudah bilang sama Kamu, jangan kesana sendirian. Bu Mat saja tidak berani berada sendirian di kantin," ujar Gatot.


"Ada apa ini?" tanya Fajar yang baru saja datang.


"Ini, Jar. Si Imran baru saja ketemu hantu Mbah Iyem di kantin sekolah," jawab Gatot.


"Mbah Iyem, hantu kebaya ungu di kantin? Aku mendapat informasi dari Lidya tadi," ujar Fajar.


"Iya, benar Jar. Ini si Imran sampai ngos-ngosan dikejar hantu tersebut," pungkas Gatot.


"Ya sudah. Sekarang lebih baik kita bersiap-siap sholat Jumat terlebih dahulu, teman-teman sudah bersiap diri semuanya. Habis sholat Jumat, kita kumpul di kelas sebelum penjelajahan," cetus Fajar.


"Oke, came on" jawabku sambil beranjak mengeluarkan sarung dan baju koko dari dalam tas ransel bermerek JO yang dibelikan Bapak di pasar kampung sebelah.


*


Sholat Jumat di masjid sekolahku juga dihadiri oleh warga yang tinggal di sekitar sekolah. Yang menjadi khatib dan imam pada waktu itu adalah guru agamaku, Pak Bahar. Sholat Jumat berjalan dengan khidmat sampai sekitar jam setengah satu siang. Ada waktu setengah jam bagi anak-anak untuk sekedar makan siang atau beristirahat. Aku lebih memilih berkumpul di dalam kelas sesuai instruksi dari Fajar tadi.


"Teman-teman yang lain mana, Jar?" kataku karena di dalam kelas hanya ada kami berlima.


"Mereka aku beri tugas pergi ke perpustakaan untuk mencari soal-soal post test tahun lalu, supaya besok bisa mendapatkan nilai bagus," jawab Fajar sambil cengengesan.


"Dasar Kamu, Jar. Tambah dosa kita ini kepada mereka, mereka niat-niat ingin mendapatkan nilai bagus, malah kita berlima mau mendapat nilai jelek supaya bisa masuk ke gudang arsip. Bener-bener nich bocah?" cetus Gatot sambil geleng-geleng kepala.


"Tapi yang akan kita lakukan ini juga demi kebaikan kita semuanya, kan? kita nggak mau, kan hantu bayi itu terus-terusan mengganggu warga sekolah ini," kata Fajar.


"Iya, Tot. Kita terpaksa melakukan ini semuanya. Sudah tidak ada pilihan yang lain," jawab Lidya.


"Si Rossa sama Mery gimana?" tanya Fajar lagi.


"Sementara aman, Jar. Aku menasehati Mery untuk menggunakan kamar mandi sebelah utara saja sementara, dan juga jangan sampai sendirian selama berada di area sekolah ini," jawab Lidya.


"Si Rossa sementara aman juga, Jar. Kalau dia mah anaknya emang nggak bisa berdiam sendirian, kalau perlu ke kamar mandi, dia harus ada temannya," jawab Gatot.


"Asal jangan Kamu saja yang menemani dia ke kamar mandi," cetus Lidya.


Gatot nyengir kuda.


"Kamu, Im. Apa sudah ketemu dengan Mita?" tanya Gatot tiba-tiba.


"Eh-belum, Jar. Biarin saja dah, mungkin dia sudah sibuk dengan teman-temannya," jawabku berusaha enteng padahal hati masih bertanya-tanya.


"Paham, Ketua." Jawab kami kompak.


"empat menit awal, tampilkan pertunjukan seelok mungkin. Menit-menit sisanya kita mulai ancurin penampilan kita. Bisa dengan menjatuhkan ublang, melambatkan gerakan, dan sebagainya. Jelas?" ucap Fajar.


"Jelas banget, Ketua!" jawab kami kompak kembali.


"Oke. Untuk urusan post test, tolong disalahkan semua ya, soalnya aku khawatir lima anak yang lain malah dapat bagus. Kayaknya mereka pinter-pinter semuanya, beda sama Kamu, Tot" cetus Fajar.


"Mau ngajak berantem, nich" Gatot mengepal tangannya sambil menggemeretakkan giginya.


"Bercanda loh, Tot" rajuk Fajar sambil tersenyum lebar. Yang lainnya senyum-senyum saja melihat reaksi teman kita si hulk itu.


Beberapa saat kemudian bel tanda berkumpul dibunyikan. Semua anak berkumpul di lapangam sesuai timnya masing-masing. Kakak-Kakak kelas memberikan instruksi di depan perihal kegiatan penjelajahan hari ini. Vokalis band itu yang menyampaikan pengumuman di depan.


"Siang ini Kalian akan melakukan kegiatan penjelajahan mengelilingi kampung di sekitar sekolah ini ...," ujar vokalis itu.


"Horeeee ...," Semua siswa baru berteriak gembira.


"Stop! Jangan senang dulu, ini bukan rekreasi. Tempat yang akan Kalian lewati ini bukan tempat biasa. Nama dusunnya, Kampung Karangjati. Kampung ini terkenal angker, tolong selama penjelajahan jangan melakukan hal-hal yang melanggar etika atau merusak lingkungan seperti membuang sampah sembarangan, merusak tanaman, urakan, kencing sembarangan, atau pacaran. Kalian akan diberikan peta, satu tim satu peta. Jangan sampai hilang, karena tanpa peta tersebut, mustahil Kalian bisa menyelesaikan penjelajahan ini. Akan ada tiga beberapa pos di sepanjang rute. Antara tim yang satu dengan tim yang lain akan diberi jarak waktu sepuluh menit. Ketika melewati kuburan, jangan lupa membuka sepatu kalian. Ingat satu pesan saya, apapun yang terjadi jangan pernah masuk ke rumah penduduk. Jika mau menumpang buang air kepada warga, gunakan kamar mandi umum yang tersebar di kampung tersebut. Ingat sekali lagi! Jangan pernah masuk ke rumah warga! dan satu lagi, ketika melewati kebun kopi, jangan pernah menoleh ataupun menyahut ketika ada yang memanggil nama Kalian. Paham??" teriak lantang vokalis tersebut.


"Pahaaaam!!!" jawab semua siswa baru.


"Baiklah, silakan berangkat dulu tim harimau. Petanya akan diberikan di pintu gerbang sekolah," ucap rekan si vokalis.


Satu persatu tim berangkat, aku menyimpan rasa penasaran.


"Fren, Kalian tau alasannya kenapa kita tidak boleh masuk ke rumah warga dan nggak boleh menoleh kalau dipanggil di kebun kopi?" tanyaku.


Semua menggelengkan kepala, kecuali Cindy.


"Itu mitos yang berlaku di Kampung Karangjati. Konon dulu pernah ada sekelompok mahasiswa memasuki kampung tersebut, ada satu temannya masuk ke salah satu rumah dan menghilang selama beberapa hari. Pas ketemu anaknya jadi linglung. Kalau di kebun kopi itu, konon dulu bekas tempat pembantaian massal. Yang memanggil-manggil di sana konon arwah-arwah penasaran itu ...," Cindy menjelaskan dengan suara mendesah.


"Tim Serigala, berangkat!!!" teriak kakak vokalis sambil menatap garang ke arah kami.


Bersambung


Gimana, Kak ceritanya? Semoga berkenan ya.


Jangan lupa baca novel saya yang satunya yang bergenre horor dan sudah tamat (20 episode). Judulnya MARANTI (Makanan Orang Mati).


Aku tunggu komentar kalian, ya?


Yang komen lancar rejeki


Yang ngelike lancar jodoh


Yang ngevote lancar segalanya


Makasih ya