
" Masih ada dua perguruan lagi yang harus kita habisi " kata shen sambil terus berjalan.
" Sayang sekali, kamu mengeluarkan ku hanya sebentar " kata sheng.
" heeeh, itu karena aku masih mampu mengalahkan mereka "
" Tidak perlu terlalu senang dulu, perguruan awan terbang sekarang sudah hancur.
bisa di pastikan perguruan sinar matahari dan laut darah akan mempersiapkan semua untuk melawan mu " kata mo.
" Bagus, semakin mereka mempersiapkan semuanya semakin seru untuk kita " jawab shen.
Chiktan berlari dan berhenti tidak jauh dari perguruan sinar matahari. Shen memperhatikan pintu gerbang perguruan sinar matahari yang di jaga empat orang tingkat jendral tahap akhir.
Cih... hanya tingkat jendral tahap akhir seperti nya mereka meremehkan ku " dalam hati shen.
Shen berjalan dengan santai nya dan berdiri di depan ke empat penjaga gerbang.
" aku ingin masuk buka pintunya " kata shen.
" Kamu fikir kamu siapa bisa menyuruh kami seenak nya " kata salah satu penjaga gerbang.
" Kalian tidak tahu aku siapa " kata shen.
" Tidak " jawab mereka bersamaan.
" Aku adalah malaikat pencabut nyawa kalian" kata shen sambil menarik pedangnya.
whhhhhhhheeeesss... Shen Mengayunkan pedang nya membuat ketiga penjaga gerbang terluka dan satu melarikan diri masuk ke dalam perguruan.
" Musuh datang, musuh datang " teriak seseorang yang berlari masuk ke dalam.
Shen memperhatikan ke tiga penjaga yang masih memegang luka nya.
" Aku tidak ada waktu bermain main dengan kalian " kata shen.
" Kamu berfikir luka kecil seperti ini bisa membunuh kami " kata salah satu penjaga gerbang.
" Siapa yang bilang luka itu bisa membunuh kalian " teriak shen.
Shen berhenti sejenak menaruh pedang nya kembali. Shen menatap mereka bertiga dengan senyum licik nya.
Jurus Halilintar " teriak shen mengarah kan jurus nya ke arah ke tiga orang penjaga gerbang.
Duuuuuuuuuuuuuaaaaarrrrrr, duaaaaaaaaarrrrr...
suara sambaran tepat mengenai ketiga orang di depan nya.
" Ckkk, sampah seperti ini masih di suruh menjaga gerbang " kata shen
Shen masuk ke dalam perguruan sinar matahari seolah tidak terjadi masalah apa apa. Empat ketua perguruan sinar matahari berjalan mendekati Shen yang baru masuk beberapa langkah dari pintu gerbang.
" Tidak ku sangka perguruan awan terbang bisa hancur karena satu orang saja " teriak salah satu ketua yang berjalan paling depan.
Nama nya tain zi ketua utama perguruan sinar matahari yang membantu perguruan laut darah.
Tiga di belakang nya bernama ketua lun zi, sian zi dan satu satu nya ketua wanita di perguruan sinar matahari bernama nai zi.
Ke empat ketua berjalan mendekati shen dan mengelilingi nya.
" Hanya satu orang seperti ini bisa menghancurkan satu perguruan, kenapa aku tidak bisa percaya " kata ketua nai zi yang terus memperhatikan shen.
" hehehehehe " shen tertawa menutup mulut nya.
" Nyawa mu sudah di tangan kami untuk apa kamu tertawa " kata ketua tain zi yang berjalan dan berdiri di depan shen.
Shen terdiam dan menatap ketua tain zi dengan serius. Shen mengepalkan tangan nya seolah menggenggam pedang di tangan nya.
Shen tersenyum licik sambil mengangkat tangannya.
Jurus pedang tanpa wujud " teriak shen.
Bhaaaaaaaaam... suara benturan yang sangat keras terdengar jelas.
Katua tain zi terlempar dan terbentur batu besar yang berada di pinggiran perguruan nya. Ketiga ketua yang melihat merasa kaget dan langsung berlari menghampiri ketua tain zi.
" Ketua tain zi kamu tidak apa apa " tanya ketua sian zi yang memperhatikan darah keluar dari dada ketua tain zi.
" ternyata aku salah sudah meremehkan dia " kata ketua tain zi yang berusaha untuk berdiri.
Shen hanya tersenyum sambil memperhatikan dari kejauhan.
" ketua tain zi istirahat saja biar kami yang menghadapi nya " kata ketua nai zi sambil mengepalkan tangannya.
" Aku tidak percaya kamu lebih kuat dari kami bertiga " kata ketua lun zi yang berdiri tepat di depan shen.
"Cuiiiih, Kalau tidak di coba kalian tidak akan tau " kata shen sambil meludah di depan ke tiga ketua.
" Dia berani meludahi kita, habisi saja jangan beri dia ampun " kata ketua nai zi sambil mengeluarkan Pedang nya.
ketua Lun zi langsung menarik pedang nya dan bersiap menyerang shen.
Whhhhheeesss... Angin tebasan pedang ketua Nai zi meleset tidak mengenai shen.
" Hahahahaha " shen tertawa sangat keras.
" Sial, kalau berani jangan menghindar " teriak ketua Nai zi yang sangat emosi.
Ketua Sian zi dan ketua Lun zi berpencar sambil terus mengelilingi shen dengan cepatnya.
Whhhhheeeesss...
Whhhhhhhhhhhhheeeesss....
Shen menghindari setiap tebasan ketua Lun zi.
" Kita sudah di permainankan nya, aku tidak terima " teriak ketua Lun zi yang berlari ke arah shen sambil mengayunkan pedangnya.
Treeeeng
Treeeeeernnnng...
Suara tangkisan pedang terdengar sangat jelas, ketua lun zi merasa sangat kesal ternyata shen tidak hanya bisa menghindar tapi pintar memainkan pedang nya.
Tidak bisa di biarkan aku harus membantu ketua lun zi " dalam hati ketua nai zi.
Ketua nai zi mengambil kesempatan untuk menyerang shen yang masih fokus melawan pedang ketua lun zi.
Jurus pedang langit bumi " teriak ketua nai zi sambil mengayunkan pedangnya ke arah shen dan ketua lun zi yang masih bertarung pedang.
Duuuuuuuuuuaaaaarrrrrr... suara ledakan yang sangat dahsyat membuat tanah sampai bergetar.
" Akhirnya selesai juga " kata ketua nai zi yang terduduk lemas.
Ketua nai zi terlalu banyak memakai tenaga nya hingga tidak kuat lagi untuk berdiri.
Kabut asap masih menutupi tempat shen dan ketua lun zi yang terkena jurus ketua nai zi.
Shen keluar dari asap dengan santai nya dan berjalan mendekati ketua nai zi.
" Bagaimana ini bisa terjadi, kenapa kamu masih baik baik saja " kata ketua Nai zi sambil memperhatikan shen.
" Tidak perlu terkejut seperti itu " jawab shen.
Whhhhhhheeeesss... Shen mengayunkan pedang nya menghilang kan kabut asap yang berada di belakang nya.
" tidak mungkin " teriak ketua Nai zi.
Ketua Lun zi sudah terbaring tidak bernyawa dengan tebasan di tengah perut nya.
" Apa yang tidak mungkin, dia kamu yang bunuh. selamat ya " kata shen sambil tersenyum.
" Ini semua karena kamu " ketua Nai zi berusaha untuk bangkit berdiri.
" Aku tidak punya waktu untuk bermain main dengan mu "
Wheeeeesss... Shen menebas leher ketua Nai zi membuat kepalanya bergulir seperti bola.
Shen memperhatikan sekitar nya mencari ketua Sian zi yang sudah tidak ada lagi dan membawa ketua Tain zi pergi.
" Arrrrrrrrkkkkkhhhhh " teriak shen yang merasa sangat kesal.
Dari sudut ruangan puluhan murid memperhatikan shen tapi tidak berani keluar.
" Bagaimana dengan mereka, apa kamu akan menghabisi mereka juga " kata sheng.
" Tidak perlu, jika aku menghabisi mereka sama saja kita membiarkan kedua ketuanya lari begitu saja " jawab shen.
Shen memutar badan nya dan pergi meninggalkan perguruan sinar matahari.
" Kita masih hidup, kita masih hidup " teriak murid yang langsung keluar dari ruangan setelah melihat shen pergi.
Shen yang mendengar teriakan itu hanya tersenyum dan melanjutkan perjalanan nya mencari ke dua ketua perguruan sinar matahari yang melarikan diri.