Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 184


Shen yang mengikuti xieyu mei dari belakang semakin mempercepat langkahnya, shen behenti tepat di depan xieyu mei sambil menggenggam tangan xieyu mei dengan erat.


" Terima kasih sudah menerimaku " ucap shen.


" Iya " sahut xieyu mei dengan singkat.


" Kamu kenapa, apa kamu marah padaku " ucap shen.


" Tidak " sahut xieyu mei.


" Haaah, aku tahu pasti sulit bagimu menerima kenyataan seperti ini, maafkan aku" ucap shen sambil menghela nafas.


" Aku hanya butuh menenangkan diri sudahlah jangan merasa bersalah seperti itu " sahut xieyu mei.


" Senior senior " panggil beberapa junior yang berlari menghampiri shen.


" Ada apa? " tanya shen.


" Kami sudah tidak sabar ingin kembali berlatih " sahut seorang murid dengan penuh semangat.


" Pergilah " ucap xieyu mei yang langsung berjalan meninggalkan shen.


" Mari kita kelapangan, hari ini aku ingin melihat gerakan ayunan pedang kalian satu persatu " ucap shen.


" Baik senior " sahut seluruh murid di depan shen serentak.


Bagaimanapun juga wanita pasti tidak rela berbagi suami, saat ini pasti hatinya merasa sakit " ucap sheng.


" Diamlah, aku masih harus melatih junior ku jangan sampai karena perkataanmu malah membuatku kehilangan fokus " sahut shen.


" Aku berbicara yang sebenarnya, kalau kamu tidak mau mendengarnya ya sudah " ucap sheng.


" Ayo ambil kembali pedang kalian, aku ingin melihat seberapa mahir kalian mengayunkannya " ucap shen dengan nada tinggi.


Beberapa murid yang melihat shen sedikit berbeda dari kemarin mulai saling berbisik, walau merasa shen berbeda tidak menyurutkan semangat mereka untuk berlatih.


Shen yang mengawasi juniornya merasa benar-benar tidak fokus, perkataan sheng terus teringat di pikirannya.


" Senior apa kamu baik-baik saja?" tanya seorang murid sambil berjalan ke arah shen.


" Aku tidak apa-apa kamu teruslah berlatih " sahut shen mencoba tetap tenang.


Satu hari yang terasa panjang telah berakhir shen yang bersiap beristirahat tiba-tiba teringat dengan xieyu mei, shen yang tidak ingin membuat calon istrinya menjadi tidak nyaman memutuskan untuk pergi ke kamarnya.


Tok, tok, tok...


Tok, tok, tok...


Shen yang berulang kali mengetuk pintu kamar xieyu mei namun tidak ada tanda-tanda xieyu mei akan keluar memutuskan untuk menunggu, setelah menunggu cukup lama xieyu mei yang awalnya masih tidak ingin menemui shen akhirnya keluar dari kamarnya.


" Ini sudah malam, ada apa?" tanya xieyu mei.


" Aku hanya ingin melihat keadaanmu " sahut shen.


" Aku baik-baik saja kamu tidak perlu khawatir" ucap xieyu mei.


" Tapi "sahut shen yang langsung menghentikan perkataannya.


" Kamu tenang saja aku sudah memikirkan semuanya, aku juga sudah bisa membayangkan tinggal dengan mereka di satu atap sepertinya semua tidak terlalu buruk " ucap xieyu mei.


" Aku bisa mengerti kamu beristirahatlah " sambung xieyu mei sambil tersenyum.


" Kalau begitu aku pergi dulu " sahut shen yang langsung pergi meninggalkan xieyu mei.


Aku berusaha mengerti kamu, ku harap nanti kamu bisa menjadi suami yang adil " dalam hati xieyu mei sambil memegang dadanya yang terasa sangat sakit.


Hari-hari berlalu begitu cepat shen yang fokus melatih juniornya hampir saja melupakan sesuatu yang sangat penting, jika bukan xieyu mei yang memperingatinya shen mungkin tidak mengingat lagi jika dirinya harus melamar putri yun lie dan putri shie.


Ketua xu long in yang sudah menunggu shen di depan gerbang membuat shen merasa gelisah, shen gelisah bukan karena dirinya harus melamar untuk yang kedua dan ketiga kalinya melainkan dia benar-benar tidak tega melihat xieyu mei yang bersedih karena dirinya.


" Pergilah dan segera kembali aku menunggumu " ucap xieyu mei yang duduk di samping shen.


" Apa kamu yakin kamu tidak apa-apa " sahut shen.


" Tentu saja, cepat pergi ketua sudah menunggumu " ucap xieyu mei yang langsung mencium pipi shen dan bergegas pergi.


Shen yang merasa sedikit lega langsung berjalan keluar gerbang, dua kereta kuda yang sudah di siapkan membuat shen bergegas naik dan bersandar.


" Aku tidak apa-apa, aku yakin shen pasti bisa berlaku adil nantinya " sahut xieyu mei.


" Dia melamarmu pertama karena memang dia benar-benar mencintaimu, aku percaya sampai kapanpun dia tetap akan mencintaimu " ucap ketua xu ling.


" Aku berharap begitu " sahut xieyu mei sambil terus menatap kereta kuda yang di naiki shen semakin menjauh.


Shen yang menaiki kereta kuda membuat perjalanannya terasa lebih singkat, setelah menempuh perjalanan satu hari satu malam shen dan ketua xu long in akhirnya tiba di kerajaan.


" Bagaimana apa kamu sudah siap?" tanya ketua xu long in.


" Sudah ketua " ucap shen.


" Bagus " sahut ketua xu long in yang langsung berjalan di depan shen.


Beberapa penjaga yang melihat ketua xu long in datang bersama shen bergegas melapor, sang raja yang mendengar laporan penjaganya langsung meminta para pelayan dan seluruh anggota kerajaan membuat sambutan besar untuk shen dan ketua xu long in.


Pangeran wang lie yang bertugas menyambut kedatangan shen dan ketua xu long in langsung menghampiri keduanya, walau awalnya pangeran wang lie tidak setuju adiknya harus berbagi suami dengan sangat terpaksa ikut menyetujuinya setelah di yakinkan oleh putri yun lie sendiri.


" Selamat datang kembali ketua perguruan langit biru " ucap pangeran wang lie.


" Terima kasih sudah bersedia menjemput kami " sahut ketua xu long in.


" Tidak masalah, Shen aku tidak menyangka kita sebentar lagi akan menjadi keluarga " ucap pangeran wang lie sambil berjalan ke arah shen.


" Iya calon kakak iparku " sahut shen sambil tersenyum.


" Jangan terlalu senang, jujur saja aku tidak setuju adikku harus berbagi suami " ucap pangeran wang lie yang menatap shen dengan tajam.


" Aku juga sebenarnya tidak ingin hanya saja ini sudah di luar kendaliku, jika adikmu tidak menikah denganku seumur hidupnya tidak akan pernah menikah " sahut shen sambil berbisik.


" Jangan pernah menyakiti adikku atau kamu akan terima akibatnya " ucap pangeran wang lie.


" Kakak, ayahanda telah menunggunya " ucap seorang pangeran yang sebelumnya pernah bertarung dengan shen.


" Calon kakak ipar bagaimana keadaanmu, ku harap kamu sudah berubah tidak seperti dulu lagi " sahut shen yang langsung memeluk pangeran jang lie.


" Hahaha, sebenarnya tidak menjadi masalah jika aku kembali bertarung denganmu hanya saja hukuman dari ayahandaku terlalu kejam dan aku tidak ingin mengulanginya " ucap pangeran jang lie.


" Sudah basa-basinya ayahanda dan ibunda telah menunggu di dalam " sambung pangeran jang lie sambil berjalan pergi meninggalkan shen dan kakaknya.


Shen yang sudah memasuki aula istana langsung di sambut dengan meriah, tidak hanya keluarga kerajaan yang ada di aula seluruh menteri turut hadir di sana.


" Salam yang mulia raja dan yang mulia ratu " ucap shen dan ketua xu long in serentak.


" Duduklah, kami sudah lama menunggu kedatangan kalian " sahut yang mulia raja.


Putri yun lie yang duduk tepat di samping pangeran wang lie terus tersenyum menatap shen, perasaannya yang sangat bahagia membuatnya menjadi salah tingkah.


" Sebelumnya kedatangan hamba sudah menjelaskan situasinya, baginda raja dan ratu juga sudah menyetujuinya kalau begitu kami langsung saja mengutarakan tujuan kami " ucap ketua xu long in sambil menatap shen.


" Sebelumnya aku minta maaf kepada seluruh anggota keluarga kerajaan pernikahan yang rumit ini harus terjadi karena kecerobohanku, walau begitu aku berjanji akan memperlakukan putri yun lie dengan sangat adil nantinya " ucap shen.


" Kami percaya padamu, lagipula yun lie sangat mencintaimu tidak ada alasan untuk kami tidak menyetujuinya " sahut yang mulia raja.


" Terima kasih yang mulia, aku yang sudah menganggap shen sebagai anakku hanya bisa memberikan ini " ucap ketua xu long in sambil memberikan sebuah kotak ke para pengawal yang langsung memberikannya kepada sang raja.


" Ini pil panjang umur, aku sangat berterima kasih pada ketua karena pil ini memang yang selama ini ku cari " ucap yang mulia raja.


" Aku sangat bersyukur jika yang mulia menyukainya " sahut ketua xu long in.


" Maaf yang mulia aku juga ingin memberikan ini sebagai bukti ketulusanku " ucap shen yang sudah menyiapkan batu jiwanya.


" Batu jiwa sebanyak ini kami pasti menerimanya " sahut yang mulia raja sambil tersenyum puas.


" Semua yang berada di sini menjadi saksi bahwa aku menyetuji putriku untuk menikah dengan mu, hanya saja aku ingin meminta sesuatu padamu " ucap yang mulia raja sambil menatap shen.


" Katakan saja yang mulia selagi aku mampu aku akan memenuhinya " sahut shen.


" Aku ingin meminta bantuanmu jika saja kerajaan akan berperang melawan kerajaan besar lainnya kamu bersedia membantu" ucap yang mulia raja.


" Aku bersedia, karena aku menjadi menantu kerajaan sudah kewajibanku membantu " sahut shen.


" Bagus bagus, sekarang mari kita rayakan lamaran putriku secara meriah. Berikan pada rakyatku lima keping emas untuk setiap keluarga " ucap yang mulia raja.