
Shen yang berjalan semakin menjauh kembali menghentikan langkahnya, shen merasa penasaran kemana lagi harus pergi mencari api keabadian.
" Sepertinya aku sudah cukup jauh, sekarang kemana kita harus pergi?" tanya shen.
" Api keabadian berada di sebuah goa yang tidak jauh dari sini, kamu tenang saja kali ini tidak akan memakan banyak waktu " sahut sheng.
" Memang tidak memakan banyak waktu tapi energi yang di keluarkan cukup banyak " sahut mo.
" Sudahlah yang terpenting kita bisa sampai di sana dengan cepat, masalah lama atau tidaknya bisa kita lihat saat sudah mengetahui situasinya " ucap shen.
" Kalau begitu pergilah ke selatan, setelah menyebrangi sungai kamu akan sampai di goa itu " sahut sheng.
Emmmmm....
Shen kembali berjalan mengikuti perkataan sheng, sampai di pinggir sungai shen memutuskan mencuci mukanya dan meminum air sungai di depannya sebelum melanjutkan perjalanannya.
" Airnya terasa sangat menyegarkan " ucap shen.
" Awas " teriak mo yang membuat shen terkejut.
Byuuuuuuuuuur...
Tepat setelah mo berteriak ikan besar bersiap menyerang shen.
" Kamu terlalu ceroboh " ucap mo.
" Aku tidak tahu sungai ini memiliki penunggu" sahut shen.
" Cepat pergi, aku merasa ada yang aneh dengan sungai ini " ucap mo.
" Baiklah " sahut shen yang langsung melompati sungai dan berjalan menuju goa.
Arrrrrrrrkkkkkhhhhhhhhh...
Teriak shen yang tiba-tiba merasa kesakitan.
Seluruh badannya yang terasa seperti di cabik-cabik membuat shen tidak kuat menahannya.
Mo yang mendengar shen terus berteriak bergegas keluar dari dalam pedang, mo yang memperhatikan tubuh shen tiba-tiba menjadi biru membuatnya merasa sangat terkejut.
" Air itu ternyata bukan sembarang air " ucap mo.
" Apa maksudmu?" tanya shen sambil berusaha menahan rasa sakitnya.
" Tidak ada waktu menjelaskannya, cepatlah duduk dengan benar aku akan membantumu menetralkan air itu " sahut mo.
Shen yang mendengar perkataan mo langsung berusaha duduk bersila, shen juga bergegas menutup matanya sambil menahan rasa sakit di dalam tubuhnya.
Buuuug, buuuuug...
Mo yang sudah menotok aliran darah shen langsung menetralkan air yang berada di dalam tubuh shen, mo tidak menyangka air yang baru saja di minum shen terus bergejolak dengan liar.
" Akhirnya " ucap mo.
Mo kembali melepas totokannya, shen yang masih merasakan sakit di dalam tubuhnya langsung menggunakan jurus embun saljunya.
" Apa yang terjadi mo, kenapa air itu seperti mencabik ku?" tanya shen.
" Aku juga tidak tahu kenapa air bisa seperti itu, di dalam tubuhmu air itu sangat sulit di netralkan " sahut mo.
" Sudahlah aku harus segera sampai di goa itu secepatnya " ucap shen yang langsung berdiri.
" Kamu sebaiknya menunda untuk pergi ke goa itu " sahut mo.
" Tidak bisa aku harus pergi, aku tidak boleh menundanya aku takut xieyu mei tidak bisa menunggu lebih lama lagi " ucap shen yang langsung berjalan.
Mo hanya menggelengkan kepalanya, sudah biasa baginya melihat shen yang tidak mendengarkan perkataannya.
Shen yang sudah sampai di depan mulut goa bergegas masuk ke dalam, Hawa yang sangat panas mulai terasa saat shen baru beberapa langkah memasuki goa.
" Kamu harus bisa menguasai api keabadian bagaimanapun caranya " ucap sheng.
" Aku akan berusaha " sahut shen.
" Apa kamu lupa apa yang ku katakan?" tanya mo.
" Aku mengingatnya, aku pasti akan mengeluarkan seluruh energiku untuk menguasai api keabadian itu " sahut shen.
Shen yang semakin masuk ke dalam goa semakin merasakan hawa panas yang luar biasa, walau merasa hampir tidak bisa menahan hawa panas di sekitarnya shen tidak berniat untuk menyerah.
" Api itu berada tepat di depanmu " ucap sheng.
" Coba gunakan energimu " ucap sheng.
Shen yang sudah tahu apa yang harus di lakukan langsung mengeluarkan energinya, benar saja setelah mengeluarkan energinya shen bisa melihat dengan jelas api keabadian yang berada di depannya.
" Keluarkan lebih banyak lagi energimu, setelah kamu melihat api keabadian itu mengecil segera pegang dan serap " ucap sheng lagi.
" Ya aku mengerti " sahut shen yang langsung mengeluarkan energinya lebih banyak lagi.
Shen yang melihat api energi mulai mengecil langsung memegangnya, belum sempat shen menyerap api di tangannya tiba-tiba api kembali membesar dan membakar tangannya.
Arrrrrrrrkkkkkhhhhh...
Teriak shen sambil memegangi tangannya.
" Sial kenapa api itu tiba-tiba membesar seperti itu " ucap shen.
" Energi yang kamu keluarkan belum cukup, tubuhmu yang masih belum pulih tidak akan bisa mengeluarkan energi yang lebih besar lagi " sahut mo.
" Kalau begitu aku hanya bisa mencobanya lagi " ucap shen.
Arrrrrrrrrrrrkkkkkkkkkhhhhhhhh...
Shen kembali berteriak, rasa sakit yang sebelumnya menghilang tiba-tiba terasa kembali.
Wheeeeeeeeeeeessssssssssssss....
Shen yang berusaha menahan rasa sakit tidak sengaja memegang api di depannya, panasnya api yang bercampur sakit di tubuhnya seakan menyedot habis energinya.
Shen yang tidak bisa menahannya lagi membuatnya tidak sadarkan diri.
" Aduh " ucap shen yang baru tersadar.
" Bagaimana, apa rasa sakitnya enak " sahut mo yang tiba-tiba berdiri di depan shen.
" Rasa sakit dan panasnya membuat ku tidak kuat, aku tidak menyangka masih bisa hidup " ucap shen.
" Aku sudah memberitahumu tapi kamu tidak mendengarkanku, untung saja kedua api sucimu bergabung menjadi satu menetralkan air yang bergejolak di dalam tubuhmu " sahut mo.
" Bagaimana dengan api keabadian?" tanya shen.
" Kamu seharusnya bersyukur karena api sucimu berhasil menetralkan air di tubuhmu, air itu juga yang membantumu menyerap api keabadian " sahut mo.
" Apa ini berarti aku sudah berhasil " ucap shen.
" Bisa di bilang begitu, sekarang kamu sudah memiliki ketiganya tapi lebih baik kamu memulihkan tubuhmu dulu " sahut mo.
" Baiklah, kali ini aku akan menurutimu " ucap shen yang langsung duduk bersila.
Shen yang menutup matanya kembali berusaha mengumpulkan energinya, kekuatannya yang perlahan pulih kembali membuat tubuhnya jauh lebih baik.
Tiga hari berlalu begitu cepat, shen yang sudah pulih sepenuhnya kembali membuka matanya.
" Tubuhku terasa jauh lebih baik sekarang " ucap shen.
" Kalau begitu lebih baik kamu cepat menyatukan ketiganya " sahut sheng.
" Bagaimana caranya?" tanya shen.
" Gunakan kedua api sucimu dan api keabadian untuk menyatukan tulang dan darah itu " sahut sheng.
" Baiklah aku akan melakukannya " ucap shen sambil berjalan keluar goa.
Shen yang sudah berada di luar goa langsung mengeluarkan kedua api sucinya dan api keabadiannya, belum sempat shen menyatukan ketiga apinya suara tidak asing tiba-tiba terdengar di belakangnya.
" Aku sudah bilang aku tidak akan membiarkanmu berhasil " ucap wu gi.
" Kamu lagi " sahut shen yang merasa kesal melihat pria di depannya.
" Serahkan tulang darah dan ketiga api itu " ucap wu gi.
" Kenapa aku harus menyerahkannya padamu" sahut shen.
" Karena aku memintanya bukankah itu sudah jelas " ucap wu gi.
" Apa karena kamu yang meminta aku akan memberikannya dengan mudah, bagaimana nantinya jika kamu meminta nyawaku apa aku juga harus memberikannya " sahut shen.
" Sepertinya memang seperti itu, sudahlah aku tidak ingin bicara omong kosong denganmu, cepat berikan padaku " ucap wu gi.
" Kalau kamu mampu ambillah " sahut shen sambil tersenyum.