Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 172


Shen yang berhasil memetik mawar surga bergegas berbalik pergi. Sampai di jalan bercabang sebelumnya shen bergegas mengambil jalan yang belum di laluinya, sambil terus berjalan shen berharap batu jiwa yang di carinya berada di tempat saat ini dia berada.


" Aku merasakan ada sesuatu di sekitarmu " ucap sheng.


" Sesuatu apa?" tanya shen yang langsung menghentikan langkahnya.


" Cari saja di sekitarmu, itu pasti tidak jauh " sahut sheng.


Shen yang merasa penasaran mulai mencari apa yang di katakan sheng, shen membuka satu persatu bebatuan yang berada di dinding tidak jauh darinya sambil mendekatkan api sucinya sebagai penerang.


" Apa ini yang kamu maksud " ucap shen yang langsung berjongkok sambil terus menatap pohon kecil di depannya.


" Sepertinya memang itu " sahut sheng.


" Tanaman apa ini, bagaimana bisa tanaman sekecil ini sudah berbuah " ucap shen yang masih merasa tidak habis pikir.


" Buah mutiara " sahut mo yang tiba-tiba berdiri di samping shen.


" Buah mutiara " ucap shen mengulang perkataan mo.


" Buah ini termasuk langka dan kegunaan buah ini mampu meningkatkan tingkatan pelatihan " sahut mo.


" Buah yang sangat berguna, kalau begitu aku harus mengambilnya " ucap shen.


" Tunggu, buah itu memang mampu meningkatkan tingkatan pelatihan hanya saja khasiatnya tidak berguna bagi anak muda sepertimu dan satu lagi " sahut mo.


" Apa " ucap shen.


" Buah itu harus di campur beberapa bahan lain sebelum di jadikan pil "sahut shen.


" Oh begitu, berarti buah ini tidak berguna bagiku " ucap shen yang langsung berdiri.


" Buah ini tidak berguna bagimu tapi buah ini berguna bagi orang tua itu " sahut mo.


" Ketua xu long in maksudmu " ucap shen.


" Benar, anggap saja kamu memberikannya sebagai hadiah " sahut mo.


" Kalau begitu baiklah aku akan mengambilnya, lumayan aku sudah mendapat dua hadiah sangat di sayangkan untuk ketua xu ling tidak ada " ucap shen yang langsung memetik buah mutiara di depannya dan memasukannya ke kotak ruangnya.


" Belum tentu tidak ada, terus saja berjalan siapa tahu kamu akan menemukannya " sahut mo yang kembali menghilang.


Semoga saja " sahut shen dalam hati.


Shen yang baru berjalan beberapa langkah di kejutkan dengan guncangan hebat, walau sangat susah untuk melangkah shen berusaha sekuat tenaganya berjalan maju ke depan.


" Apa ada hewan spiritual lagi, kenapa guncangannya sangat kuat sudah seperti gempa bumi " ucap shen sambil berjalan selangkah demi selangkah.


" Menurutku ini bukan perbuatan hewan spiritual " bisik mo.


" Lalu apa?" tanya shen.


" Kita tidak tahu jawabannya sebelum melihatnya " sahut mo.


" Sepertinya tempatnya juga tidak jauh lebih baik kamu cepat pergi ke sana " sambung mo.


" Ini juga aku mau ke sana, tapi semakin aku berusaha berjalan guncangannya semakin kuat " ucap shen.


" Emm, Guncangannya kenapa tiba-tiba berhenti" sambung shen.


" Bagus ambil kesempatan ini untuk pergi ke sana, siapa tahu nanti guncangannya kembali terjadi lagi "sahut mo.


" ya " ucap shen.


Shen yang sudah tidak sabar ingin melihat sesuatu yang membuat guncangan hebat langsung melangkah dengan sangat cepat, setelah berjalan cukup jauh shen yang tidak menemukan apapun mulai memperlambat langkahnya.


" Katamu sudah tidak jauh mo, aku sudah berjalan hampir dua ratus meter kenapa tidak juga menemukan apapun " ucap shen sambil memperhatikan sekelilingnya.


" Aku juga tidak tahu, lagipula guncangan itu sudah tidak ada kita tidak tahu dari mana asalnya " sahut mo.


" Ya sudah kalau gitu kita tidak perlu mencarinya " ucap shen yang kembali berjalan pergi.


" Tunggu " sahut sheng.


" Perhatikan yang di bawahmu " sahut sheng.


Shen yang mendengar perkataan sheng langsung melihat ke bawah, shen menatap tanah yang di injaknya tiba-tiba bergetar walau tidak seperti sebelumnya.


" Apa mungkin guncangan tadi berasal dari sini " ucap shen.


" Sepertinya begitu " sahut sheng.


" Kalau begitu harus segera di gali" ucap shen yang bersiap menghentakan kakinya.


Tap, tap, tap...


Duuug, duuuug, duuuuuug...


Hentakan kaki shen membuat tanah di bawahnya tergali dengan sendirinya.


Shen yang melihat sesuatu dari dalam tanah terus bergerak naik membuatnya merasa sangat terkejut.


" Cacing " ucap shen sambil terus memperhatikan.


" Itu bukan cacing " sahut mo yang berdiri di samping shen.


" Lalu apa?" tanya shen yang merasa kebingungan.


" Cobalah ambil " sahut mo.


" Emmm " ucap shen yang langsung mengambil sesuatu dari bawahnya itu.


" Kamu benar ini bukan cacing, ini lebih terlihat mirip dengan akar " ucap shen sambil memperhatikan yang baru saja di ambilnya.


" Itu memang akar " sahut mo.


" Kira-kira apa kegunaan akar ini, apa aku harus membawanya juga " ucap shen.


" Jujur saja aku belum pernah melihat akar ini sebelumnya, aku juga tidak tahu kegunaannya" sahut mo.


" Semua yang berada di sini sangat berharga tidak ada salahnya kamu membawanya " ucap sheng.


" Baiklah sementara aku akan membawanya jika ada yang lebih bagus dari ini aku akan meninggalkannya di sini " ucap shen yang langsung mengambil kotak ruangnya dan menyimpannya.


" Aku mendapatkan ketiganya yang berasal dari tanaman, apa jangan-jangan batu jiwa tidak ada di sini " sambung shen.


" Belum tentu " sahut mo yang lagi-lagi menghilang.


Sudahlah aku terus berjalan saja, jika memang batu jiwa tidak berada di sini lebih baik aku segera keluar " dalam hati shen sambil terus berjalan.


Shen yang terus berjalan tanpa henti di bawah tanah tidak mengetahui sudah berapa hari dia berada di sana, shen yang merasa lelah terus berjalan langsung terduduk sambil menatap sekelilingnya yang terlihat sangat gelap.


" Aku berpikir jika memang batu jiwa tidak berada di sini aku harus segera keluar, tapi sekarang setelah berjalan tanpa henti membuatku sadar mungkin tidak ada yang namanya jalan keluar " ucap shen.


" Kamu berada di tempat ini hanya karena terjatuh ada kemungkinan besar jalan keluarnya berada di atas " sahut mo.


" Sepanjang jalan aku sudah memperhatikan segala arah tapi tetap saja tidak ada melihatnya " ucap shen.


" Sudahlah aku harus terus mencari jalan keluar, semakin cepat aku keluar maka akan semakin baik " sambung shen yang langsung kembali berdiri dan berjalan pergi.


Shen yang kembali berjalan di buat silau cahaya dari kejauhan, shen yang mengira cahaya itu berasal dari jalan keluar membuatnya menjadi bersemangat kembali.


" Ternyata bukan jalan keluar " ucap shen sambil menatap banyaknya batu jiwa di depannya.


" Pantas saja tidak ada yang pernah menemukannya, batu jiwa ini ternyata terpendam di dalam tanah " sahut mo.


" Kira-kira berapa jumlah keseluruhan batu jiwa ini ?" tanya shen.


" Tidak perlu di hitung lebih baik kamu menggunakan untuk pelatihanmu " sahut mo.


" Jangan lupakan aku, aku juga membutuhkannya sekarang " ucap sheng.


" Karena aku masih belum tahu di mana jalan keluarnya aku akan menyerapnya di sini saja " sahut shen.