Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 206


Shen yang kembali ke tenda membuat putri shie terkejut, putri shie tidak menyangka shen kembali sangat cepat.


" Syukurlah kamu baik-baik saja " ucap putri shie yang tiba-tiba berlari memeluk shen.


" Aku tentu saja tidak apa-apa, hanya saja aku harus pergi " sahut shen yang membiarkan putri shie memeluknya.


" Pergi, apa kamu mau kembali ke perguruan?" tanya putri shie.


" Tidak, sebelum aku kembali ke perguruan aku harus menyelesaikan semuanya terlebih dulu " sahut shen.


" Menyelesaikan apa?" tanya putri shie lagi.


" Sudah kamu tidak perlu mengetahuinya, segera bawa kembali pasukanmu aku berani menjamin mereka tidak akan menyerang lagi " sahut shen.


" Tapi " ucap putri shie sambil menatap shen.


" Aku harus pergi sekarang jangan mengkhawatirkanku, satu lagi jangan mencariku aku pastikan aku akan segera kembali secepat mungkin " sahut shen.


" Jika aku kembali nanti, kita akan hidup bersama aku berjanji di saat itu aku akan membuatmu dan yang lainnya bahagia " sambung shen sambil tersenyum.


Apa maksudnya jika kembali, apa dia akan pergi ke kerajaan Bara seorang diri. Tidak, aku tidak bisa membiarkannya mengambil resiko sebesar itu " dalam hati putri shie sambil menatap shen yang berjalan meninggalkannya.


" Ketua prajurit aku memerintahkanmu membawa kembali semua prajurit, aku bisa memastikan mereka tidak akan berani menyerang lagi dan satu lagi " ucap putri shie.


" Silahkan katakan panglima " sahut ketua prajurit.


" Beritahu ayahanda dan ibunda aku sementara waktu harus pergi " ucap putri shie yang langsung menunggangi kudanya.


" Jika yang mulia bertanya Anda pergi ke mana saya harus menjawab apa " sahut ketua prajurit.


" Bilang saja tidak tahu " ucap putri shie yang langsung pergi meninggalkan prajuritnya.


Hiaa, hiaa, hiaa...


Putri shie terus mempercepat kudanya, bagaimanapun juga dia harus segera sampai ke kerajaan putri yun lie dan memberitahukannya tentang shen.


Tap, tap, tap...


Tap, tap, tap...


Putri shie yang sampai di istana kerajaan bergegas mencari putri yun li, hari yang mulai malam tidak menyurutkan semangatnya.


" Di mana putri yun lie " teriak putri shie di depan pintu istana.


" Ini sudah malam, putri yun lie sedang istirahat " sahut seorang prajurit.


" Aku ingin bertemu dengannya sekarang suruh dia keluar " teriak putri shie.


" Harap tuan putri shie mengerti hari sudah malam, putri kelelahan baru menyelesaikan perang " sahut prajurit lainnya.


" Aku tidak bisa menunggu hari esok, aku ingin bertemu dengannya " teriak putri shie.


Pangeran wang lie yang tidak sengaja melihat keributan di depan istana perlahan berjalan keluar, pangeran wang lie yang melihat putri shie masih menggunakan jubah berperangnya sambil terus berteriak merasa sangat terkejut.


" Ada apa ini?" tanya pangeran wang lie yang berdiri di belakang prajuritnya.


" Aku ingin bertemu putri yun lie sekarang " sahut putri shie.


" Sabar tuan putri shie, hari sudah malam adikku sedeng beristirahat " ucap pangeran wang lie.


" Bawa aku ke kamarnya, aku yakin dia tidak akan marah padaku karena mengganggunya " sahut putri shie.


" Baiklah, aku akan membawamu ke kamarnya tapi tolong jangan berteriak lagi " ucap pangeran wang lie.


" Tidak masalah aku akan diam, bawa aku sekarang ke kamarnya " sahut putri shie.


" Kalau begitu ikuti aku " ucap pangeran wang lie sambil berjalan pergi.


Putri shie yang melihat pangeran wang lie berjalan pergi bergegas mengikutinya dari belakang.


" Tinggalkan aku sendiri " sahut putri shie.


" Aku akan menjauh tapi aku tidak bisa membiarkanmu hanya berdua dengannya, aku takut kamu malah menyerangnya " ucap pangeran wang lie.


" Baiklah, kalau begitu silahkan menjauh " sahut putri shie.


Tok, tok, tok...


Tok, tok, tok...


Putri shie yang melihat pangeran wang lie berjalan menjauhi dirinya langsung mengetuk pintu kamar putri yun lie.


" Siapa yang berani menggangguku beristirahat " teriak putri yun lie yang merasa sangat kesal mendengar pintu kamarnya terus di ketuk.


" Ternyata kamu " ucap putri yun lie sambil menatap putri shie yang berdiri di depannya.


" Ada yang ingin ku bicarakan padamu " sahut putri shie.


" Ini sudah malam, apapun yang ingin kamu bicarakan mari bicarakan besok saja " ucap putri yun lie.


" Tapi ini tentang shen " sahut putri shie.


" Tentang shen, apa yang terjadi padanya?" tanya putri yun lie.


Shen pergi menyerang kerajaan Bara seorang diri " bisik putri shie.


" Apa " teriak putri yun lie yang merasa sangat terkejut.


" Bagaimana bisa dia pergi sendiri " ucap putri yin lie.


" Aku ke sini juga karena aku mengkhawatirkannya, karena kamu juga istrinya mangkanya aku tidak sungkan datang kemari " sahut putri shie.


" Dia pergi kesana sama saja mengantar nyawa, prajurit kerajaan Bara dua kali lipat banyaknya jika dia pergi sendiri aku takut dia akan " ucap putri yun lie yang langsung menutup mulutnya.


" Tidak ini tidak bisa di biarkan, kita harus kesana membantunya " sambung putri yun lie.


" Sebenarnya dia tidak mengizinkan kita untuk membantunya, tapi bagaimanapun juga kita akan tetap pergi membantunya " sahut putri shie.


" Aku akan meminta prajurit ikut bersamaku " ucap putri yun lie.


" Jika kamu membawa prajurit sama saja dengan mencari mati untuk prajuritmu sendiri, sepertinya kita tidak memiliki pilihan lagi selain meminta bantuan ketua perguruan langit biru " sahut putri shie.


" Baiklah, kalau begitu aku akan meminta kakakku untuk menyampaikan surat itu kita bisa berangkat sekarang " ucap putri yun lie.


Di sisi lain pangeran wang lie yang melihat adiknya dan putri shie sedang berbicara sangat serius menjadi penasaran apa yang mereka bicarakan, pangeran wang lie yang tidak bisa menahan rasa penasarannya bergegas menghampiri keduanya.


" Apa yang kalian bicarakan, kenapa sepertinya itu sangat serius " ucap pangeran wang lie.


" Aku akan bersiap " sahut putri yin lie yang langsung menutup pintu kamarnya.


" Bersiap kemana, ini sudah malam " ucap pangeran wang lie.


" Rahasia para wanita " sahut putri shie.


Putri yun lie yang selesai bersiap dan menulis suratnya bergegas keluar, sang kakak yang melihat adiknya kembali keluar menggunakan jubah perangnya merasa semakin penasaran


" Kamu mau kemana? ini sudah malam " ucap pangeran wang lie.


" Aku dan putri shie harus segera pergi, aku titip surat ini, aku mau surat ini sampai ke ketua perguruan langit biru secepatnya " sahut putri yun lie yang langsung memberikan surat di tangannya ke kakaknya.


" Tapi " ucap pangeran wang lie yang melihat putri yun lie dan putri shie berjalan menjauh.


" Sudahlah, mungkin memang masalah rumah tangga, bagaimanapun juga adikku sudah menikah melihatnya bisa berteman dengan istri lain suaminya membuatku sedikit tenang " ucap pangeran wang lie sambil berjalan pergi.


Putri yun lie dan putri shie yang sudah menaiki kudanya bergegas pergi, langkah kudanya yang semakin berlari cepat memecah keheningan malam.