Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 152


" Heh, sekarang kamu akan pergi ke mana?" tanya sheng.


" Tentu saja mencari batu jiwa sebanyak-banyaknya " sahut shen.


" Mencarinya di mana?" tanya sheng lagi.


" Tidak tahu " sahut shen dengan santai sambil melanjutkan langkahnya.


Shen yang melanjutkan perjalanannya di jalan berpapasan dengan seorang pria muda dan seorang wanita yang sibuk bercerita, keduanya yang asyik bercerita sambil berjalan membuat shen tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka.


" Aku ingin sekali pergi, tapi sayang istriku baru saja melahirkan " ucap seorang pria sambil melanjutkan langkah kecilnya.


" Suamiku juga sebenarnya ingin pergi tapi aku melarangnya, kamu tahu sendiri tingkat keberhasilannya sangat rendah taruhannya nyawa " sahut wanita di samping pria itu.


Shen yang merasa penasaran langsung menghentikan langkahnya dan memutar badannya.


" Maaf aku tadi tidak sengaja mendengarnya, kalau boleh tahu pergi ke mana?" tanya shen.


Keduanya yang mendengar suara dari belakang mereka serentak memutar badan dan berjalan ke arah shen.


" Kamu dari desa mana, bagaimana bisa kamu tidak mengetahuinya " ucap seorang pria sambil menatap shen.


" Aku bukan dari desa sekitar sini, aku hanya pengembara saja " sahut shen.


" Oh pantas saja kamu tidak mengetahuinya, kalau begitu biar ku jelaskan saja padamu " ucap wanita itu.


" Biar aku saja yang menjelaskannya. Di kota yang tidak jauh dari sini baru beberapa hari yang lalu mengeluarkan pemberitahuan penting " sahut pria itu sambil menatap shen.


" Pemberitahuan apa?" tanya shen lagi.


" Siapa saja yang bisa menangkap hewan spiritual penghuni hutan terlarang hidup atqu mati akan mendapatkan lima ratus batu jiwa " sahut pria itu menjelaskan pada shen dengan serius.


" Apa alasan pemimpin kota berusaha menangkap hewan spiritual penghuni hutan terlarang itu bukannya spiritual itu tidak mengganggu siapapun?" tanya shen lagi.


" Kalau masalah itu kami tidak mengetahuinya, tapi kami sarankan kamu agar tidak pergi ke hutan terlarang itu " sahut wanita itu yang langsung melanjutkan langkahnya.


" Terima kasih sudah memberitahuku " ucap shen.


Shen yang melihat keduanya telah berjalan menjauh kembali melanjutkan langkahnya, shen terus berpikir lima ratus batu jiwa tidaklah sedikit lalu kenapa pemimpin kota berani mengeluarkan sebanyak itu hanya untuk menangkap hidup atau mati spiritual penunggu hutan terlarang.


" Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya mo yang tiba-tiba berdiri di samping shen.


" Aku bingung saja, kenapa pemimpin kota berani mengeluarkan lima ratus batu jiwa hanya demi spiritual penunggu hutan terlarang " sahut shen.


" Jika penasaran kenapa kamu tidak pergi saja ke hutan terlarang itu " ucap mo.


" Hemm, benar juga kamu sepertinya aku memang harus ke sana " sahut shen yang langsung kembali melanjutkan perjalanannya.


" Ehhh, tapi aku tidak tahu di mana hutan terlarang itu" sambung shen.


" Sudah jalan lurus saja, nanti ku beritahu jalannya " sahut mo.


" Baiklah " ucap shen.


Shen yang terus berjalan mengikuti arahan mo tanpa sadar menatap ke arah langit yang mulai gelap, shen menghentikan langkahnya sambil bertanya pada mo apakah masih jauh perjalanan menuju hutan terlarang.


" Hutan terlarang berada di depan, tapi hari sudah mulai malam lebih baik kamu memasuki hutan itu esok pagi saja " ucap mo.


Siapa yang membangun gubuk di tempat seperti ini" dalam hati shen.


" Kalau menurutku gubuk ini di bangun oleh seseorang dan sepertinya tujuannya membangun gubuk ini untuk beristirahat menunggu hari esok sama sepertimu " sahut sheng.


" Aku tiba-tiba berpikir semua tidak sesederhana yang ku perkirakan, yang pertama bagaimana bisa pemimpin kota berjanji memberikan imbalan yang begitu besar dan yang kedua setidaknya yang pernah datang ke sini tidak hanya satu atau dua orang saja lalu bagaimana bisa mereka tidak ada yang berhasil menangkap hewan spiritual itu" ucap shen.


" Sudahlah dari pada kamu hanya menduga-duga saja lebih baik kamu beristirahat, besok jika kamu masuk ke dalam hutan itu kamu akan mengetahui segalanya " sahut sheng lagi.


" Mungkin kamu benar, aku lebih baik beristirahat saja dulu malam ini " ucap shen yang langsung berbaring sambil menutup matanya.


Shen yang tidur pulas samar-samar mendengar suara teriakan, suara yang terdengar semakin keras membuat shen langsung membuka kedua matanya.


" Tolong, tolong mereka semua mati " teriak seorang pria sambil berlari ke arah shen.


" Siapa yang mati?" tanya shen.


" Teman-temanku mereka semua mati menggenaskan " sahut pria itu sambil menarik nafas dan membuangnya perlahan.


" Cobalah sedikit lebih tenang dan jelaskan padaku apa yang terjadi " ucap shen.


" Aku dan kelima temanku memasuki hutan itu sebelum matahari terbit tadi, sampai di dalam hutan kami mencari hewan spiritual itu tapi tidak juga menemukannya " sahut pria itu lagi.


" Lalu bagaimana bisa teman-temanmu mati menggenaskan?" tanya shen.


" Setelah kami tidak menemukannya kami memutuskan untuk pulang, tapi tiba-tiba dari belakang kami lidah yang sangat panjang menarik satu persatu temanku dan memakannya dengan sadis, aku yang sangat ketakutan langsung melarikan diri " sahut pria itu.


" Bagaimana ciri-ciri hewan spiritual itu?" tanya shen lagi.


" Lidah yang sangat panjang berwarna kehitaman, mulut yang membuka sangat lebar dengan gigi tajam yang tadi di pakai mengunyah kelima temanku membuat ku merasa sangat jijik " sahut pria itu.


Sepertinya ada yang aneh dengan pria ini, jika benar hewan itu memiliki lidah yang panjang bagaimana dia bisa berhasil melarikan diri " dalam hati shen.


" Karena kamu sudah berhasil keluar apa yang akan kamu lakukan?" tanya shen.


" Aku akan menunggu di sini saja " sahut pria itu.


Shen yang mendengar perkataan pria itu langsung tersenyum, shen akhirnya mengerti apa yang aneh dari pria di depannya itu.


" Kalau begitu aku akan masuk ke dalam hutan terlarang itu, kamu berhati-hatilah " ucap shen yang langsung berdiri dan bersiap berjalan pergi.


Shen yang baru berjalan beberapa langkah langsung membalikkan badannya, pedang yang baru saja di tariknya langsung di arahkannya ke pria yang masih terus menatapnya itu.


Wheeeeeeeessssssss...


Satu tebasan pedang shen langsung membuat pria yang menatapnya itu mati di tempat.


" Kenapa kamu membunuhnya?" tanya sheng.


" Sudah ku bilang semua tidak sesederhana apa yang kita pikirkan, sama dengan pria itu sebenarnya pria itu sengaja di biarkan pergi untuk memata-matai setiap orang yang akan datang. Pikiran dan hatinya sepenuhnya sudah di kendalikan hewan spiritual penunggu hutan terlarang itu " sahut shen.


" Dan sekarang kedatangan kita akan langsung di sambut hewan spiritual itu " sambung shen sambil berjalan memasuki hutan terlarang.


" Kamu tunggu sebentar di sini, aku akan pergi melihat di mana ke beradaan hewan spiritual itu akan lebih baik jika kita menghindarinya terlebih dulu " ucap mo.


" Baiklah " sahut shen yang langsung menghentikan langkahnya.