Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 68


Shen memperhatikan pria tua itu yang ingin mengayunkan lagi tangan nya.


Duuuuuuuuaaaarrrr...Pohon di belakang shen terbelah menjadi dua.


Untung saja shen berhasil menghindari serangan pak tua itu. Shen berlari ke arah pak tua itu dengan jurus yang sudah ada di tangan nya.


Jurus Halilintar " teriak shen menyerang pak tua itu.


Duuuuuaaaarr, duuuuuaaarrr... serangan shen tepat mengenai pak tua itu.


" Jurus mu masih terlalu lemah anak muda " kata pak tua itu yang berjalan ke arah nya.


Bagaimana mungkin pak tua itu tidak terluka sedikit pun " dalam hati shen.


Brrrrrrruuuuuaaakkkk... Pak tua itu menendang shen hingga terlempar ke belakang


" Bangun anak muda, apa hanya jurus itu yang kamu punya " pak tua itu terus menatap shen.


Shen berusaha berdiri walau badannya sudah terasa sakit semua. Shen sudah mengeluarkan jurus sisik pelindung tubuh dan tulang besi tapi tidak berguna, serangan pak tua itu tiga kali lebih hebat dari musuh musuh sebelum nya.


" Pak tua ini hanya latihan atau kamu memang sengaja ingin membunuh ku " kata shen sambil menatap pria tua itu.


" Ini hanya latihan, kalau aku ingin membunuh mu mungkin dari tadi kamu sudah mati.


Yang harus kamu lakukan hanya menyerang ku atau kamu yang aku serang "


Shen mengepalkan tangan nya dan berlari ke arah pak tua yang berdiri terus menatap nya.


Tinju sembilan dewa " Teriak shen.


Buuuuuggg, buuuuggg, buuugggg...


Tinju shen berkali kali lipat menyerang pak tua itu hingga termundur kebelakang.


Shen memperhatikan pak tua itu menangkis dengan mudah tinju sembilan dewa yang di kuasai nya dengan susah payah.


" Haaaah, haaaah " Shen mengatur nafas nya sudah tidak beraturan.


" kamu masih muda, apa tidak malu baru beratih sebentar dengan pak tua seperti ku sudah kelelahan " kata pak tua itu mendekati Shen.


Whhhhheeeesss.... pak tua itu mengayunkan tangan nya.


Shen melompat menghindarinya.


Walau hanya serangan seperti angin tapi kecepatan dan kekuatan nya mampu membuat shen terlempar sangat jauh.


" Kalau kamu seperti itu terus, aku tidak menjamin kamu bisa menjadi lebih kuat " kata pria tua itu sambil berjalan mendekati nya.


Pak tua ini pasti ingin menyerang ku lagi " dalam hati shen.


perlahan shen merasa dari ujung kaki nya seperti tersetrum dan semua aliran setrum itu mengalir ke tangan nya.


Shen memperhatikan tangan nya yang terus bergetar dan mengeluarkan asap.


Tanpa berfikir panjang shen berlari ke arah pak tua itu dan menyerang nya.


Duuuuuuuuuuuuuaaaaaaarrrrrr.... Suara sambaran yang terdengar sangat keras.


Shen terduduk lemas dia tidak kuat lagi untuk berdiri. Perlahan pak tua tadi keluar dari dalam rumah dan memperhatikan nya.


Shen merasa sangat heran bukan nya pak tua itu berada di depan nya dan baru tersambar petir yang keluar dari tangan nya.


" Aku tahu apa yang kamu pikirkan " pak tua itu terbang ke arah shen.


" Bagaimana bisa " shen menatap pria tua yang berdiri di depannya.


" Yang melawan mu hanya belahan tubuh ku. aku tidak menyangka kamu bisa mengeluarkan petir yang baru saja merasuk ke dalam tubuh mu. Bisa di bilang kekuatan mu lumayan " pria tua itu terbang meninggalkan shen yang masih terduduk lemas.


Dari jauh shen melihat linlin berlari ke arah nya. Linlin membantu shen berdiri dan membawa nya ke sebuah kamar.


" Kamu istirahat dulu " linlin tersenyum ke arah shen dan pergi meninggalkan nya.


Shen bersila dan menutup matanya.


Perlahan shen merasa ada sesuatu yang mengalir di tubuh nya dan membuat badan nya terasa sangat sejuk.


Shen kembali membuka mata nya, badan nya tidak lagi terasa sakit bahkan badan nya lebih sehat dan segar dari sebelumnya.


Linlin masuk ke kamar membawa air untuk mengelap luka shen betapa terkejutnya dia melihat shen sudah sehat dan tidak ada luka di badan nya.


" Kamu bagaimana bisa " Linlin menghampiri shen dan memeriksa tangan shen.


Shen hanya terdiam melihat linlin seperti kebingungan sendiri.


" kenapa tidak ada luka, aku sangat yakin kalau di tangan mu tadi penuh dengan luka " kata linlin sambil menatap shen.


" Aku sendiri juga tidak tahu " jawab shen. dia tidak mungkin memberitahu kalau dia memiliki jurus penyembuh embun salju.


" Ya sudahlah, bagus juga kamu sudah sembuh " linlin berjalan keluar meningalkan shen.


Sebenarnya siapa pria tua itu, siapa linlin sebenarnya kenapa mereka berdua mau membantu nya.


Tanpa sadar shen menutup matanya dan tertidur. Suara ayam berkokok membangunkan nya dan shen bergegas keluar.


Shen melihat pria tua itu berdiri di tempat latihan nya kemarin dan menatap ke arah nya.


Shen berjalan menghampiri pria tua itu.


" apa kita akan latihan lagi " tanya shen.


" Tidak latihan mu sudah cukup kemarin saja, sekarang ada yang ingin aku berikan padamu" kata pria tua itu.


Shen terdiam, hati nya bertanya tanya apa yang ingin di berikan pria tua itu pada nya.


" Duduk lah " kata pria tua itu sambil menatap shen.


Tanpa bertanya shen duduk di depan pria tua itu dan menutup mata nya.


Rasa yang begitu menyakitkan menusuk ke seluruh tubuh nya. Shen mencoba menahan nya dan berusaha untuk tidak berteriak.


" Buka mata mu " kata pria tua itu sambil menepuk pundaknya.


" Apa yang sebenarnya terjadi " tanya shen.


" Aku memberikan tenaga dalam ku pada mu, karena waktu ku sudah tidak lama lagi " pria tua itu berjalan meninggalkan shen.


Ingin rasa nya shen bertanya apa maksud pak tua itu, tapi mulut nya seperti terkunci dan tidak bisa bersuara.


Linlin datang menghampiri shen dan membantu nya untuk berdiri.


" ikut aku dulu " kata linlin sambil menarik tangan shen.


Linlin membawa shen masuk ke dalam sebuah ruangan dan menjelaskan semuanya.


" Sebenarnya dari pertama kamu datang, guru ku sudah tahu apa yang terjadi padamu " kata linlin.


" maksudnya " shen masih tidak mengerti.


Linlin menjelaskan semua hubungan tentang guru nya dengan ketua xu long in, dan guru nya tidak terima semua itu terjadi.


" Aku berterimakasih pada mu dan guru mu, aku berjanji akan membalas dendam ini sampai tuntas " kata shen.


" Pergilah setelah selesai semua jangan lupa kembali lagi ke sini " kata linlin sambil terus menatap shen.


" Bagaimana dengan mu " tanya shen.


" Aku akan tetap di sini menjaga sisa hidup guru ku dan menjaga tempat ini "


" Kalau begitu aku pergi dulu " kata shen sambil berjalan keluar ruangan itu dan mengambil pedang nya.


Shen memperhatikan sheng yang sudah selesai menyerap inti hati yang di berikan linlin.


" Sudah saatnya membuat perhitungan.


Darah harus di bayar dengan darah " teriak shen sambil meninggalkan tempat itu.


Linlin tidak berhenti menatap shen sampai shen menghilang sepenuhnya dari pandangan nya.