Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 111


" Cepat bawa ke tabib sebelum keadaannya kembali memburuk " ucap shen.


Ayah yi lieng yang mendengar perkataan shen langsung meminta beberapa muridnya membantu membawa ayahnya ke ruang pengobatan, sedangkan ayah yi lieng sendiri langsung bergegas mengikuti muridnya dari belakang.


" Cih, masih sangat lemah mencoba melawan ku " ucap sheng yang langsung masuk kembali ke dalam tubuh shen.


" Aku tidak menyangka kamu bisa menjadi jauh lebih kuat " sahut shen.


" Tentu saja kamu tidak menyangkanya, inti hati hewan iblis yang kamu berikan membuat ku menjadi jauh lebih kuat sekarang " ucap sheng lagi.


" Karena kalian sudah menjadi kuat bisakah aku berbicara sesuatu yang penting sekarang " sahut mo.


" Bicaralah mo, hal penting apa yang ingin kamu bicarakan " ucap shen.


" Sekitar lima kilometer dari sini sebuah perguruan bersiap melakukan penyerangan, sebenarnya masalah ini tidak ada hubungannya dengan mu lebih baik kamu langsung berbicara dengan ketua perguruan Diyu zi dan bergegas pergi dari sini " ucap mo lagi.


" Sepertinya aku tahu perguruan yang kamu maksud, baiklah lebih baik kita bicarakan terlebih dulu lagi pula ayah yi lieng berhutang penjelasan pada ku " sahut shen yang langsung berjalan mencari ayah yi lieng.


Shen yang terus berjalan tiba tiba mendengar suara tangisan dari sebuah ruangan tepat di sampingnya, shen yang mengetahui suara tangisan itu tangisan yi lieng langsung membuka pintu ruangan itu.


" Kakek cepatlah sembuh aku tidak ingin melihat kakek terbaring seperti ini " ucap yi lieng sambil terus menangis.


" Dasar cucu ku yang bodoh, kakek mu ini hanya butuh istirahat apa yang kamu tangisi " sahut kakek yi lieng.


Huhuhuhu... yi lieng masih terus menangis di samping kakeknya.


" Maaf mengganggu " ucap shen yang mengejutkan semua yang berada di dalam ruangan itu.


Ayah yi lieng yang melihat shen berdiri di depan pintu langsung menyuruhnya masuk dan menyuruh yi lieng untuk segera keluar.


Yi lieng menatap shen lalu berjalan meninggalkan ruangan tempat di mana kakeknya di rawat, shen yang melihat yi lieng berjalan menjauh langsung masuk ke dalam ruangan dan berdiri di sebelah ayah yi lieng.


" Ayah aku ingin menjelaskan sesuatu sebenarnya dia tidak bersalah, andai saja dia tidak mendekati cermin itu dan melepaskan roh penjaga ruang nirwana suatu saat aku pasti akan tetap melepaskannya sendiri.


Kalau ayah ingin bertanya alasannya nanti aku akan menjelaskan inti dari semua perkataanku hanya ingin bilang kalau dia tidak bersalah " ucap ayah yi lieng menjelaskan.


" Lalu kenapa kamu ingin menghukum mati dirinya " sahut kakek yi lieng yang berusaha untuk duduk.


" Dari awal kedatangannya aku sangat tidak menyukainya " ucap ayah yi lieng.


" Kamu sudah tua masih saja mementingkan keegoisan mu, andai dari awal aku tahu semua hanya karena kamu tidak menyukainya aku tidak akan mengaktifkan susunan titik segitiga untuk melindungi mu " sahut kakek yi lieng dengan kesal.


" Sudah cukup penjelasannya, sebelum aku pergi aku ingin memberitahu sesuatu yang sangat penting " ucap shen.


" Katakan anak muda " ucap kakek yi lieng.


" Beberapa kilometer dari sini sebuah perguruan akan melakukan penyerangan, kalian pasti bisa menebak perguruan mana yang akan menyerang " sahut shen.


" Perguruan Angxi " ucap kakek dan ayah yi lieng serentak.


" Sialan kenapa mereka melakukan penyerangan di saat aku masih belum kembali pulih " sambung kakek yi lieng.


" Yi lieng kembali dalam bahaya, darah yin murninya pasti ingin di manfaatkan oleh perguruan Angxi itu " sahut ayah yi lieng.


" Aku hanya ingin mengabari masalah itu sekarang aku harus pergi, aku tidak ingin ikut campur urusan kalian " ucap shen sambil melangkah ke arah pintu.


" Ada apa ketua " ucap shen yang langsung menghentikan langkahnya.


" Kamu memiliki spiritual dan kamu juga cukup kuat bisakah kamu membantu ku untuk yang terakhir kalinya " ucap kakek yi lieng.


" Maaf aku tidak bisa " sahut shen dengan cepat.


" Aku akan memberikan apa yang kamu mau asal kamu bersedia membantu ku " ucap kakek yi lieng.


Shen terdiam sambil berpikir apakah dia harus membantu perguruan Diyu zi, di satu sisi shen merasa berhutang budi dan di sisi lain shen teringat perlakuan ayah yi lieng yang ingin membunuhnya.


" Begini saja jika kamu membantu perguruan Diyu zi aku akan mengizinkan mu mengambil satu kitab dari ruang nirwana " sambung kakek yi lieng.


" Satu kitab untuk membahayakan nyawa sepertinya tidak sebanding, aku tidak mau " sahut shen.


" Aku akan memberikan mu kitab perubah wujud asal kamu mau membantu ku " ucap kakek yi lieng.


Kitab perubah wujud kitab seperti apa itu, kenapa aku baru mendengarnya " dalam hati shen.


" Kitab perubah wujud adalah kitab level tinggi, yang memiliki kitab ini biasanya hanya kaum siluman sangat jarang ada di dunia manusia. Sepertinya kitab itu bagus untuk mu " sahut mo.


" Bukannya kamu bilang aku tidak perlu ikut campur, kalau aku ingin kitab itu aku harus membantu mereka " ucap shen.


" Apa susahnya aku bisa membantu mu, kitab itu sangat penting kamu akan membutuhkan nya suatu hari nanti " sahut sheng.


" Baiklah karena kalian yang meminta aku akan menerimanya " ucap shen dengan pasrah.


" Bagaimana anak muda apa kamu menyetujuinya " tanya kakek yi lieng yang melihat shen terdiam.


" Ehem, baiklah aku akan membantu tapi aku tidak bisa menjamin kemenangan. Satu lagi jangan lupa apa yang kalian janjikan " sahut shen.


Shen yang berjanji akan membantu perguruan Diyu zi bergegas kembali ke tempat peristirahatnya, shen yang terus menunggu tidak juga ada tanda tanda penyerangan dari perguruan Angxi.


" Mereka sudah sampai sepertinya mereka menunggu malam hari untuk menyerang " ucap mo mencoba mengingatkan shen.


" Akan menjadi malam yang sangat panjang malam hari ini " sahut shen.


Shen meminta ketua perguruan Diyu zi dan beberapa murid terkuatnya untuk terus berjaga, shen juga mengingatkan kalau akan ada penyerangan di malam hari.


Krrreeetak...


Suara ranting pohon yang patah terdengar dari samping perguruan Diyu zi, tanpa banyak berbicara shen langsung berjalan ke asal suara itu.


" Diamlah kamu akan membangunkan mereka " ucap seorang pria sambil memukul temannya.


Shen yang melihat dua orang pria sedang mengintai perguruan Diyu zi hanya bisa diam sambil terus memperhatikan dari kegelapan, shen mendengar pembicaraan kedua pria itu sebelum kedua pria itu memutuskan menjauh dari perguruan Diyu zi.


" Mereka hanya ingin memastikan keadaan perguruan Diyu zi, sepertinya mereka bersembunyi tidak jauh dari sini " ucap sheng.


" Cepatlah kembali beritahu semuanya untuk bersiap menyambut kedatangan musuh " sahut mo.


Shen yang berada di luar perguruan Diyu zi bergegas masuk ke dalam dan meminta ketua beserta muridnya bersiap menyambut musuh yang akan datang.


Suara langkah kaki yang sangat cepat terdengar jelas di depan perguruan Diyu zi, shen dan para murid yang sudah bersiap langsung membuka pintu gerbang perguruan dan berdiri dengan santai menyambut ketua perguruan Angxi beserta muridnya.