
Shen yang melihat putri shie memasuki sebuah tenda bergegas mengikutinya dari belakang, walau sudah menjadi istrinya shen masih merasa canggung jika dirinya hanya berdua di dalam tenda tersebut.
" Duduklah dulu " ucap putri shie sambil menuangkan segelas air untuk shen.
" Ya " sahut shen yang langsung duduk di kursi tepat di depan putri shie.
" Minum dulu, kamu pasti sangat lelah melawan prajurit musuh seorang diri " ucap putri shie yang langsung memberikan segelas air yang sudah di pegangnya.
Glek, glek, glek...
Tanpa banyak bicara shen langsung mengambil segelas air yang di berikan putri shie dan meminumnya.
" Sekarang bisakah kamu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi " ucap shen.
" Waktu itu aku dan yun lie masih berada di perguruan langit biru, kami berencana menunggumu hingga pulang baru kembali ke kerajaan tapi sesuatu yang tak terduga tiba-tiba terjadi, dua merpati pengantar pesan memberikan masing-masing surat pada kami dan isi surat itu adalah prajurit musuh yang menyerang secara mendadak " sahut putri shie menjelaskan.
" Aku dan Yun lie tidak memiliki pilihan selain harus kembali, sampai di kerajaan peperangan ternyata sudah di mulai " sambung putri shie.
" Lalu kenapa kamu tidak memberitahukannya pada ketua xu long in atau ketua xu ling " ucap shen.
" Saat itu kami berpikir jika meminta bantuan perguruan langit biru akan terkena masalah, jadi kami sepakat untuk tetap diam tidak memberitahukannya " sahut putri shie.
" Haaah, menurutmu apa peperangan dua kerajaan ini di lakukan satu kerajaan saja " ucap shen.
" Aku kurang tahu, tapi kemungkinan besar iya" sahut putri shie.
" Apa yang membuatmu yakin?" tanya shen.
" Jika kita berpikir sejenak mungkin tidak akan bisa memperkirakan seperti itu, yang membuatku yakin semua bisa saja terjadi karena kami istrimu dan tidak mungkin bagi mereka menyerang sebuah perguruan " sahut putri shie.
" Haaaah, sepertinya memang benar semua ada kaitannya denganku tapi sebelumnya aku tidak pernah memiliki masalah dengan kerajaan manapun " ucap shen sambil menghela nafas panjang.
" Lapor panglima, Tiga orang prajurit musuh menuju kemari " ucap seorang prajurit yang tiba-tiba masuk ke dalam tenda.
" Maaf, saya lancang " ucap prajurit itu yang melihat shen menatapnya.
" Sudah, tidak masalah, sekarang mereka ada di mana?" tanya shen.
" Di perbatasan, haruskah kita langsung menyerang " sahut prajurit itu.
" Kita harus ..." ucap putri shie yang melihat shen tiba-tiba mengangkat tangannya.
" Tidak perlu, prajuritmu banyak yang terluka jika mereka menyerang sama saja dengan mencari mati " sahut shen.
" Biarkan aku dan Nagaku yang pergi kesana, kamu tetap di sini " sambung shen sambil menatap putri shie.
" Tapi " ucap putri shie yang langsung memeluk shen dari belakang.
" Ingat perkataanku tetaplah di sini" sahut shen sambil mengenggam tangan putri shie.
" Aku pergi dulu " ucap shen.
Shen yang melihat sheng masih tertidur pulas bergegas menghampirinya.
" Bangunlah, kita harus kembali bertarung " ucap shen.
Hoooooooeeeeeeeerrrrrr...
" Di mana pasukan musuh itu kenapa aku tidak melihatnya " sahut sheng.
" Tidak ada pasukan, hanya ada tiga orang prajurit saja " ucap shen.
" Hanya ada tiga kenapa kamu membangunkanku " sahut sheng yang bersiap menutup matanya kembali.
" Apa kamu berpikir musuh akan mengirim tiga orang lemah cari mati di tangan kita " ucap shen.
" Baiklah, Baiklah jangan cerewet lagi ayo kita pergi, semakin cepat kita menghabisi mereka semakin cepat aku kembali tidur " sahut sheng.
" Kalau begitu ayo kita berangkat " ucap shen yang langsung menaiki sheng.
Putri shie yang melihat shen terbang menaiki naganya hanya bisa diam, bukan maksud hatinya tidak mempercayai shen hanya saja dia khawatir jika terjadi sesuatu pada suaminya itu.
" Aku berharap kamu baik-baik saja " ucap putri shie.
" Panglima apa panglima yakin kita tidak mengirim prajurit untuk membantunya?" tanya seorang ketua prajurit.
" Tidak perlu, jika dia yang turun tangan aku yakin bahkan seribu orang hebat akan di kalahkannya dengan mudah " sahut putri shie.
" Tapi walau kita tidak mengirim prajurit ke sana aku ingin prajurit kita tetap siaga " sambung putri shie.
" Baik panglima " ucap ketua prajurit itu yang langsung berjalan pergi.
Whuuuuuuuuuuuuuussssssss...
Whuuuuuuuuuuuuuussssssssss...
Kepakan sayap sheng membuat ketiga prajurit musuh menatap shen, sebelumnya mereka sempat mendengar jika ada naga di pihak musuh akhirnya mereka bisa mempercayai itu setelah melihatnya sendiri.
" Apa hanya kalian " ucap shen.
" Heeeeh, jangan berpikir karena kamu menunggangi naga kami jadi takut padamu " sahut salah satu prajurit itu sambil tersenyum.
" Perkenalkan kami tiga bersaudara akan membunuhmu dan juga nagamu " ucap seorang prajurit lainnya.
" Giu, gai, gui kami bertiga tidak akan kalah darimu " teriak seorang prajurit lainnya sambil menatap shen dengan tajam.
" Banyak bicara, ayo saudaraku kita serang dia" teriak giu pria yang paling tua di antara ketiganya.
" Serang " sahut kedua adiknya serentak.
Shen yang melihat giu dan adiknya mengelilinginya hanya tersenyum.
"Aku dua kamu satu, adil bukan " ucap shen sambil menatap sheng.
Hoooooooeeeeeerrrrrrrrr...
Sahut sheng yang langsung mencengkram gai dan membawanya terbang menjauh.
" Kenapa kamu pisahkan dia dari kami " teriak gui.
" Tidak perlu banyak bertanya. majulah " sahut shen dengan santai.
Arrrrrrkkkkhhh...
" Kamu membuatku kesal, akan ku buat kau tidak ingin hidup lagi" teriak giu sambil berlari ke arah shen.
Wheeeeeeeessssssss...
Wheeeeeeeeeessssssss...
Giu yang terus mengayunkan pedangnya ke arah shen semakin merasa kesal, pergerakan shen yang sangat cepat seperti sedang mempermainkannya.
" Aku akan membantumu kak " ucap gui yang langsung berlari ke arah shen.
Pedang saudara yang di pakai giu dan adiknya langsung di ayunkannya secara bersamaan.
Whuuuuuueeeeesssssssssss...
Duuuuuuuuaaaarrrr...
Duuuuuuuuuuaaaaaaarrrrrrr...
Serangan pedang yang sangat kuat seketika membuat ledakan berulang kali.
" Hahahaha, ini baru dua pedang saudara dia sudah mati bagaimana jika kita menggabungkan ketiganya " ucap giu sambil terus tertawa.
" Apa dengan serangan seperti itu kamu berhasil membunuhku, heeeeh, sepertinya kamu terlalu meremehkanku " sahut shen yang terbang tinggi jauh di atas ledakan.
" Dia bisa menghindarinya " ucap gui yang terkejut melihat shen tidak terluka sedikitpun.
" Aku mengira kalian sangat kuat hingga aku membutuhkan bantuan nagaku, ternyata kalian tidak ada bedanya dengan prajurit biasa " sahut shen.
" Kalau begitu kita akhirnya saja pertarungan ini " sambung shen.
Cheeeeeetttaaaaaak...
Shen yang menjentikan jarinya langsung membuat runcingan tombak dari tanah.
" Awas gui " teriak giu yang bergegas menghindar.
Arrrrrrrrkkkkkhhhhh...
Giu yang tidak sempat menghindar langsung tertusuk rucingan tombak dari tanah yang di buat shen.
" Kamu membunuh adikku " ucap giu.
" Ya, sekarang giliranmu " sahut shen.
" Tunggu, biarkan aku pergi, aku akan memberitahumu semua yang terjadi " ucap giu.
" Memberitahuku apa, dan kenapa aku harus mendengarkanmu " sahut shen.
" Apa kamu tidak penasaran kenapa kerajaan Bara menyerang kedua kerajaan istrimu " ucap giu.
" Hem, sebenarnya aku memang perasa, kalau begitu beritahu aku apa alasannya " sahut shen.
" Sebelum peperangan beberapa orang dari perguruan datang ke kerajaan Bara, mereka meminta agar kerajaan Bara menyerang kedua kerajaan istrimu " ucap giu.
" Perguruan apa?" tanya shen.
" Perguruan Darah " sahut giu.
" Hemm, aku sudah mengerti " ucap shen sambil berjalan mendekati giu.
" Terima kasih informasinya, aku akan mewakili rajamu untuk membunuhmu " sambung shen sambil menusukan pedangnya ke perut giu.
" Kamu, membunuhku " sahut giu yang langsung menutup matanya.
Kamu berada di pihak musuh, jika aku melepaskanmu aku tidak tahu rencana apa lagi yang kamu dan rajamu gunakan untuk menjebakku" dalam hati shen sambil berjalan pergi.
" Kamu lambat sekali, tiga orang itu berada di tingkat langit tahap dua apa susahnya mengalahkan mereka " ucap sheng.
" Tidak masalah lama sedikit, yang terpenting aku sudah mendapat informasi penting " sahut shen.
" Informasi apa? " tanya sheng.
" Nanti juga kamu mengetahuinya " sahut shen.