
Shen yang berjalan menjauh tiba-tiba merasa ingin kembali melihat gambar pemberian xilung yang di genggamnya, rasa penasaran antara percaya atau tidak dengan gambar yang di pegangnya membuat shen memutuskan untuk membukanya.
Shen yang sudah keluar jauh dari kota Angdai memutuskan mencari tempat untuk beristirahat.
Sepertinya pohon itu cocok untuk beristirahat " dalam hati shen sambil berjalan ke arah sebuah pohon besar.
Shen yang menyandarkan badannya di bawah pohon langsung membuka kembali gambaran yang di berikan xilung, shen memperhatikan keseluruhan gambar yang terlihat sangat jelas.
" Apa benar di tempat ini terdapat batu jiwa"ucap shen.
" Hem, sepertinya aku mengetahui tempat ini" sahut mo yang tiba-tiba berada di samping shen.
" Benarkah mo kamu mengetahuinya " ucap shen.
" Dataran berpasir ini tempat yang sangat jauh, jika hanya berjalan kaki takutnya tidak akan pernah sampai " sahut mo.
" Masalah jauhnya bisa di pikirkan nanti, hanya saja aku masih ragu apa benar di tempat itu terdapat banyak batu jiwa " ucap shen.
" Setahuku dari dulu dataran berpasir memang terdapat banyak batu jiwa, aku masih bingung apa sampai sekarang tidak ada yang berhasil menemukannya " sahut mo.
" Karena kamu bilang memang ada batu jiwa di sana aku sudah tidak ragu lagi, kita akan berangkat sekarang " ucap shen yang langsung berdiri.
" Berangkat, apa kamu pikir kamu bisa sampai di sana " sahut mo.
" Mo apa kamu melupakan sesuatu " ucap shen sambil tersenyum.
" Melupakan apa?" tanya mo.
" Aku menguasai jurus dua dunia kemanapun aku pergi itu sangat mudah, hanya dengan gambar ini kita akan sampai di sana dengan sangat cepat " sahut shen.
" Heeh, benar juga kenapa aku bisa melupakannya " ucap mo yang langsung menghilang.
Shen kembali menatap gambar di depannya sambil berusaha mengingat semua yang berada di gambar, setelah merasa yakin telah berhasil mengingat semuanya shen bergegas menggulung kembali gambar tersebut dan menyimpannya di dalam kotak ruangnya.
Shen yang sudah berdiri tegap tanpa banyak berpikir langsung menutup kedua matanya, bayangan gambar yang terlihat sangat jelas saat shen menutup mata membuat shen langsung mengeluarkan jurus dua dunianya.
" JURUS DUA DUNIA " ucap shen dengan suara lantang.
Shen yang masih menutup mata perlahan kembali membuka matanya.
Kenapa di sini sangat panas, matahari terasa sangat dekat di sini " dalam hati shen.
" Aku lupa memberitahumu, panas di dataran berpasir sepuluh kali lipat lebih panas dari tempat biasanya " sahut mo.
" Sudahlah, lagipula sudah terlanjur aku tidak akan menyerah hanya karena panas matahari " ucap shen sambil menatap padang pasir di depannya.
Shen yang tidak tahu harus berjalan ke arah mana membuatnya mengambil sembarang arah, shen berjalan lurus tanpa menghiraukan panas yang seakan membakar seluruh kulitnya.
" Panasnya di sini membuatku terasa sangat haus, ke mana aku harus mencari air sekarang " ucap shen.
" Ini dataran berpasir sangat sulit untuk mendapatkan air, walaupun ada kita tidak tahu di mana letaknya " sahut mo.
" Sebelumnya aku tidak pernah merasa seperti ini " ucap shen sambil terus berjalan.
" Lurus saja, aku merasa ada air tidak jauh dari sini " sahut sheng yang suaranya tiba-tiba terdengar.
" Shen akhirnya aku kembali mendengar suaramu, aku kira kamu" ucap shen tidak melanjutkan perkataannya.
" Apa kamu berpikir aku selemah itu " sahut sheng.
" Cepatlah pergi mencari air itu, lalu segeralah dapatkan batu jiwa untukku " sambung sheng.
" Kamu tenang saja " ucap shen sambil terus berjalan.
" Mo cobalah kamu lihat di sana, apakah air yang du katakan sheng masih jauh " ucap shen.
" Tunggulah " sahut mo yang langsung pergi meninggalkan shen.
Mo yang melihat sebuah danau tidak jauh dari tempat shen memutuskan untuk segera kembali.
" Ada danau tidak jauh dari sini, tapi berhati-hatilah aura hewan spiritual sangat kuat di tempat itu " ucap mo yang langsung menghilang.
" Tidak masalah, mau hewan spiritual atau apapun itu selagi bisa menghilangkan rasa haus aku akan menghadapinya " sahut shen sambil berusaha kembali berdiri.
Shen yang berjalan dengan tenaga yang tersisa merasa sedikit lega saat melihat danau tepat di depannya, shen yang sudah tidak bisa menahan panas langsung menceburkan dirinya ke danau.
" Sangat nikmat, akhirnya panas di kulitku tidak lagi terasa dan aku juga sudah tidak haus lagi " ucap shen yang merasa sangat lega.
Shen yang masih menikmati kesegaran di buat terkejut dengan suara yang semakin mendekatinya, suara yang terdengar semakin jelas membuat shen bergegas naik sambil terus memperhatikan sekelilingnya.
" Awas " ucap mo.
Seutas benang putih yang mengarah dengan sangat cepat membuat shen langsung menghindarinya dengan cara melompat jauh ke belakang, shen tersenyum sendiri sambil memperhatikan benang putih yang menggantung di antara kedua pohon tepat di depannya.
" Hanya benang tipis sepert ini ingin melukaiku jangan bermimpi " ucap shen.
" Itu bukan sembarang benang lebih baik kamu berhati-hati saja " sahut mo mencoba memperingati shen.
Tapi jika di pikir lagi di dataran pasir seperti ini bagaimana bisa ada benang, lagipula tidak mungkin ada manusia yang menjadikan benang sebagai senjata " dalam hati shen.
" Aku tahu hewan apa yang menjadikan benang putih ini sebagai senjata, karena benang ini terlihat lebih besar sudah pasti hewan ini juga besar " ucap shen.
" Awas ada lebih banyak lagi yang mengarah padamu " sahut mo kembali memperingati shen.
Sialan " dalam hati shen sambil terus melompat menghindari banyaknya benang putih yang mengarah padanya.
Shen yang terus menghindar hanya bisa menggelengkan kepalanya saat benang yang menyerangnya membentuk sebuah jaring, jaring yang sangat besar seakan bersiap menjebaknya.
Suara yang sebelumnya di dengar shen kembali terdengar, asal suara yang semakin mendekatinya membuat shen menjadi sangat waspada.
" Dia datang " bisik mo.
Shen hanya terdiam menatap laba-laba raksasa yang berjalan ke jaring besar di depannya sambil terus menatapnya dengan tajam.
" Aku belum pernah melihat laba-laba sebesar ini " ucap shen.
" Tentu saja kamu belum pernah melihatku, aku penunggu dataran berpasir selama aku hidup tidak pernah meninggalkan tempat ini " sahut laba-laba raksasa.
" Ternyata kamu bisa berbicara " ucap shen.
" Bukannya sudah biasa hewan spiritual bisa berbicara " sahut laba-laba raksasa.
" Kalau boleh tahu kenapa kamu langsung menyerangku?" tanya shen.
" Aku belum menyerangmu " sahut laba-laba raksasa.
" Apa kamu berpikir aku bodoh, kalau tadi aku terkena satu saja benangmu bukannya aku akan terperangkap " ucap shen sambil tersenyum.
" Hehehe, aku tidak menyangka ada manusia yang mengetahui kehebatanku " sahut laba-laba raksasa.
" Jujur saja aku memang belum pernah melihat laba-laba sebesar kamu, tapi bukan berarti aku tidak pernah melihat laba-laba biasa yang berukuran kecil " ucap shen.
" Oh ya satu lagi, di tempatku hewan seperti kamu sangat nikmat di jadikan makanan " sambung shen yang sengaja ingin membuat marah laba-laba di depannya.
" Kalau begitu kebetulan sekali di sini manusia sepertimu akan menjadi santapan lezatku " sahut laba-laba raksasa yang langsung bersiap mengeluarkan benangnya.