
Shen yang terus berjalan tiba-tiba menghentikan langkahnya, shen terdiam sesaat menatap sebuah perdesaan yang berada tepat di depan matanya tersebut.
"Hemm, Aku sepertinya harus ke sana " ucap shen sambil berpikir.
" Untuk apa?" tanya mo.
" Aku merasa penasaran sekarang kita berada di mana, jika kita tidak bertanya kita tidak akan mengetahuinya " sahut shen yang kembali melanjutkan langkahnya.
Shen yang sudah berada di perumahan warga mencoba bersikap santai, banyaknya mata yang menatapnya sambil berbisik satu sama lain membuat shen merasa sedikit curiga dan tidak nyaman.
" Ada apa dengan mereka " ucap shen dengan suara pelan.
" Mereka menatapmu seperti ada sesuatu yang aneh " sahut mo.
" Aku juga berpikir begitu " ucap shen sambil terus berjalan.
Sepanjang jalan warga yang bertemu dengan shen satu-persatu menghindarinya, tatapan mereka yang seoalah mencurigai shen membuatnya semakin yakin ada sesuatu yang terjadi di desa tempatnya berpijak saat ini.
" Kakak kemarilah " ucap seorang anak laki-laki sambil melambaikan tangannya ke arah shen.
Shen yang mencoba tetap ramah langsung tersenyum sambil berjalan menghampiri anak laki-laki yang memanggilnya.
" Kakak bukan orang sini, kakak berpihak di perguruan mana?" tanya anak laki-laki itu sambil menatap shen.
" Aku memang bukan orang sini, aku hanya seorang pengembara yang tidak sengaja melewati desa ini " sahut shen.
" Oh ya dik, sebenarnya apa yang terjadi di sini kenapa para warga menatapku dengan aneh " sambung shen.
" Kakak orang jauh jadi tidak mengetahuinya, perguruan Baise yang tidak jauh dari desa ini sedang dalam bersitegang dengan perguruan lain " ucap anak laki-laki itu.
" Bersitegang masalah apa?" tanya shen yang merasa penasaran.
" Kata ibuku sudah lebih dari tiga tahun mereka seperti itu dan masalahnya hanya karena murid perguruan lain mati di perguruan Baise, setiap pertarungan desa kami selalu terkena masalah itu sebabnya para warga tidak menyambut kakak " ucap anak laki-laki itu.
" Hemm, jadi para warga mengira aku salah satu pihak perguruan musuh Baise " sahut shen.
" Berarti bisa di bilang para warga berpihak pada pergurun Baise saat ini " sambung shen.
" Tidak juga, para warga tidak berpihak pada perguruan manapun hanya saja mereka takut dengan perguruan Baise " ucap anak laki-laki itu.
" Aku harus pergi, kakak berhati-hatilah " teriak anak laki-laki itu sambil berlari meninggalkan shen.
" Ternyata hanya karena perkelahian dua perguruan saja " ucap shen yang kembali melanjutkan perjalanannya.
" Sekarang bagaimana?" tanya mo.
" Kita hanya bisa berjalan terus, jika kita kembali akan membuat warga semakin curiga " sahut shen.
" Memangnya kenapa jika mereka curiga " ucap mo.
" Bisa saja mereka langsung menghalangi jalanku dan mengepungku, jika sudah seperti itu kamu pasti tahu apa yang terjadi bukan " sahut shen.
" Apa susahnya sekarang kamu kan kuat " ucap mo.
" Walau aku kuat bukan berarti aku bisa membunuh sembarang orang, lagipula nyawa mereka bukan berada di tanganku "sahut shen dengan tegas.
" Bagus, sekarang kamu sudah menjadi semakin dewasa setelah berhasil meningkatkan satu tingkatan lagi kamu sudah sangat pantas mendampingi ketiga wanitamu " ucap mo.
" Heeeemmm " sahut shen sambil tersenyum.
Shen yang terus berjalan tanpa sengaja melihat sebuah perguruan besar tidak jauh darinya, shen yang merasa dirinya tidak ingin ikut campur langsung terus berjalan tanpa melihat ke arah perguruan yang di lewatinya.
Dua murid yang berjaga di gerbang merasa ketakutan setelah melihat shen melewati perguruan mereka, dua murid itu yang mengira shen adalah mata-mata bergegas melapor kepada salah satu ketuanya.
" Ketua gawat " ucap kedua murid itu serentak.
" Seseorang baru saja melewati perguruan, auranya terlihat sangat kuat " ucap salah satu murid mencoba memberitahu ketuanya.
" Siapa, apa dia mata-mata perguruan itu " sahut ketua itu yang terlihat sangat marah.
" Kami tidak tahu pasti " ucap salah satu murid lainnnya.
" Bagaimana ciri-cirinya?" tanya sang ketua.
" Seorang pria membawa sebuah pedang di belakang punggungnya " sahut kedua murid serentak.
" Kalian berdua kembali berjaga di gerbang aku akan melihatnya sendiri, jika benar dia mata-mata hari ini juga aku akan membunuhnya " ucap sang ketua yang langsung melesat pergi dengan sangat cepat.
Shen yang semakin berjalan jauh tiba-tiba merasa seseorang sedang mengarah padanya, walau mengetahui seseorang mengarah padanya shen terus berjalan berpura-pura tidak mengetahuinya.
Buuuuug...
Pendaratan sempurna ketua Baise membuat shen tersenyum tipis.
" Siapa kamu?" tanya seorang pria tua ketua perguruan Baise.
" Aku bukanlah orang penting " sahut shen yang kembali melanjutkan langkahnya.
" Apa kamu tidak tahu sopan santun, bagaimana bisa kamu meninggalkan orang tua yang sedang berbicara " ucap ketua perguruan Baise.
" Aku katakan sekali lagi aku bukan orang penting, aku juga bukan mata-mata perguruan musuhmu " sahut shen.
" Hahahahaha, perkataanmu malah meyakinkanku jika kamu sebenarnya mata-mata. Bagaimana bisa orang yang memiliki kekuatan sepertimu mengetahui permasalahan itu " ucap ketua perguruan Baise sambil tersenyum tertawa.
" Percaya atau tidak itu bukan urusanku " sahut shen yang terus berjalan tanpa menghiraukan ketua perguruan Baise.
Sialan kamu sepertinya meremehkanku, kalau begitu jangan salahkan aku " dalam hati ketua perguruan Baise sambil bersiap menyerang shen.
" Matilah kamu " teriak ketua perguruan Baise sambil mengarahkan tinjunya dengan kekuatan penuh.
" Dengan tinju seperti itu ingin membunuhku, kamu terlalu memandang tinggi dirimu sendiri " sahut shen yang langsung menangkap tangan ketua perguruan Baise.
Walau aku tidak mengeluarkan jurus tapi tinju itu sudah memakai kekuatan penuh, aku masih tidak percaya dia menangkap tanganku dengan satu tangan" dalam hati ketua perguruan Baise.
" Itu hanya permulaan, seranganku yang sesungguhnya baru akanku lakukan sekarang " ucap ketua perguruan Baise sambil mengarahkan tangan kirinya ke arah shen.
Buuuuuuuuuuuuuuuuuuuug...
Suara tinjuan yang saling bertemu membuat ketua perguruan Baise langsung melompat ke belakang.
" Kamu menangkis tinju dengan tinju dan itu hanya menggunakan satu tangan aku tidak mempercayainya jika tidak melihatnya sendiri " ucap ketua perguruan Baise.
" Apa kamu percaya padaku sekarang " sahut shen.
" Aku mempercayainya hanya saja maukah kamu singgah ke perguruan Baise " ucap ketua perguruan Baise.
" Aku pengembara jujur saja aku tidak tertarik ikut campur dengan urusan kalian " sahut shen.
" Tidak masalah jika kamu tidak membantuku, aku berharap kamu bisa singgah ke perguruan Baise " ucap ketua perguruan Baise sambil menatap shen.
" Siapa nama ketua?" tanya shen.
" Namaku Ba qi " sahut ketua perguruan Baise.
" Baiklah, Karena aku menghargaimu sebagai ketua aku bersedia mampir hanya saja aku tidak ingin terlibat perkelahian antara kalian " ucap shen.
" Tentu saja " sahut ketua perguruan Baise sambil tersenyum.
Anak ini terbilang masih sangat muda tapi kekuatannya sebanding denganku atau mungkin jauh di atasku, walau dia tidak membantuku setidaknya dia tidak berpihak pada musuh " dalam hati ketua perguruan Baise.