
Shen memperhatikan kitab dua dunia yang berada di tangannya sambil berulang kali memutarnya.
" Kitab ini apa benar berbahaya atau suara itu hanya ingin membohongi ku " ucap shen dengan suara pelan.
Shen membuka kitab dua dunia di pangkuannya sambil menutup matanya.
Keheningan membuat shen membuka mata dan melihat di mana dirinya berada, setelah membuka mata shen terdiam seakan tidak percaya dirinya berdiri di tengah dua dunia yang menggabungkan dunianya dengan dunia magaraj.
Shen memperhatikan dunianya yang seketika mulai hancur, tanah yang bergetar membuat pepohonan tumbang rumah yang berdiri kokoh perlahan rata dengan tanah.
Shen mengalihkan pandangannya memperhatikan dunia magaraj yang tidak jauh berbeda dengan dunianya.
Dunia magaraj yang damai tiba tiba di aliri lava panas yang perlahan menenggelamkan seisi dunia magaraj, shen yang melihat kedua dunia perlahan hancur tak berbentuk merasa sangat terpukul.
" Semua ini tidak mungkin nyata " teriak shen.
Shen yang masih belum bisa menerima apa yang di lihatnya tiba tiba mendengar suara yang berbisik di telinganya.
" Yang harus kamu lakukan saat ini bagaimana cara mu menyelamatkan kedua dunia, tidak perlu banyak berpikir setiap pergerakan mu memiliki waktu tertentu " ucap suara yang berbisik di telinganya.
Shen yang tidak ingin membuang waktu langsung turun mencari asal mula terjadinya getaran yang membuat pepohonan dan rumah di dunianya hancur.
Shen menyusuri setiap getaran yang terjadi tapi tidak juga menemukan penyebabnya, shen tiba tiba teringat getaran itu bukan berasal dari permukaan melainkan dari dalam tanah.
Shen mencoba mencari tanah yang terbelah lebar dan langsung masuk ke dalam, shen yang berada di dalam tanah seakan tidak percaya apa yang sedang di lihatnya.
Shen yang melihat seorang wanita terbaring di dalam tanah mencoba mendekatinya.
" Apa yang terjadi padamu, kenapa kamu bisa berada di dalam tanah?" tanya shen.
" Aku tidak bisa menjelaskannya tolong bantu aku " ucap wanita itu dengan suara pelan.
Shen yang tidak tega melihat wanita itu langsung berjalan mendekatinya dan bertanya apa yang bisa dia lakukan.
Wanita itu menunjuk perutnya yang terus bergerak, shen akhirnya menyadari ternyata wanita di depannya akan segera melahirkan.
Shen yang tidak tahu apa yang harus dia lakukan hanya memegang perut wanita itu dan mengelusnya perlahan.
Suara tangisan bayi terdengar sangat keras di antara kedua kaki wanita itu, shen yang melihatnya seakan tidak percaya hanya karena dia memegang perut wanita itu bayi di dalam perutnya bisa keluar dengan mudah.
" Tidak salah kamu memang pilihan yang tepat untuk menguasai dua dunia, dengan adanya kamu dua dunia akan menjadi damai " ucap wanita itu.
" Nama ku dadi nushen kamu bisa memanggil ku dewi bumi, terima kasih telah membantu melahirkan putra penerus ku " sambung wanita itu sambil tersenyum.
Shen membalas senyuman wanita itu dan bergegas pergi ke dunia magaraj yang masih membutuhkan bantuannya.
Shen yang keluar dari dalam tanah memperhatikan sekelilingnya yang telah kembali normal, tidak ada lagi getaran yang membuat rumah dan pepohanan hancur.
Shen bergegas kembali menuju perbatasan dua dunia dan langsung turun memasuki dunia magaraj.
Shen yan tidak ingin membuang waktu langsung terbang menuju sebuah pegunungan yang terus mengalirkan lava panas.
" Semua karena manusia aku dan dewi ku harus terpisah, aku tidak ingin lagi melihat manusia " ucap seorang pria dewasa sambil menghentakan tongkatnya.
Satu hentakan tongkat pria itu mampu membuat lava mengalir dari atas gunung dengan sangat cepat, shen yang melihatnya mencoba mendekati pria itu.
" Tidak baik seperti itu, karena tongkat mu dunia magaraj terendam lava panas dari gunung ini " ucap shen.
" Awas bodoh " ucap bayangan hitam yang langsung menghadang serangan tongkat pria itu.
Shen terdiam melihat lava panas mengenai bayangan hitam yang melindungi dirinya.
" Semua karena manusia, jika tidak ada manusia aku tidak perlu berpisah dengan dewi ku " ucap pria itu sambil bersiap mengarahkan tongkatnya ke shen.
Bayangan hitam di depan shen langsung melesat ke arah pria itu dan mencoba menahannya.
" Ambil tongkat itu dan coba hentikan lava yang terus mengalir " ucap bayangan itu.
" Tidak, kamu tidak boleh melakukan itu aku sangat membenci manusia dunia manusia harus ku hancurkan " teriak pria itu.
" Cepat lakukan aku tidak memiliki banyak waktu " ucap bayangan hitam.
Shen bergegas mengambil tongkat pria itu lalu menghentakannya ke gunung, perlahan lava dari gunung berhenti mengalir bahkan lava yang sudah keluar perlahan menghilang.
" Siapa kamu kenapa kamu merusak rencana ku ?" tanya pria itu.
" Aku hanya ingin menguasai jurus dua dunia, jika dua dunia hancur bagaimana aku bisa menguasai jurus itu " jawab shen.
" Kamu tidak seharusnya berbuat seperti ini, dewi bumi baru saja melahirkan seorang bayi laki laki calon penerus mu " sambung shen.
" Apa benar yang kamu katakan?" tanya pria itu.
" Tentu saja, aku melihatnya sendiri " sahut shen.
Shen memperhatikan pria itu yang mulai tersenyum, bayangan hitam yang membantu shen perlahan menghilang.
" Karena kamu ingin menguasai jurus dua dunia aku akan membantu mu, maafkan aku yang sudah menyerang mu " ucap pria itu.
" Tidak masalah " sahut shen.
Shen berjalan menghampiri pria itu dan mengembalikan tongkat yang berada di tangannya, pria itu mengambil tongkat dari tangan shen dan meminta shen duduk di depannya.
Tanpa banyak bicara shen menuruti pria itu, shen duduk di depan pria itu sambil menutup matanya.
Pria itu mengangkat tongkatnya tinggi tinggi dan langsung mengarahkannya pada shen.
Shen yang merasa sesuatu memasuki tubuhnya mencoba menahan sebisanya, rasa sakit bercampur panas itu perlahan masuk ke dalam kepalanya dan langsung menghilang.
Shen yang merasa telah menguasai jurus dua dunia langsung membuka matanya, shen memperhatikan dirinya yang sudah kembali berada di dalam ruangan nirwana.
" Untung saja aku menyelamatkan mu tepat waktu, kamu tahu kalau saja kamu terkena lava itu kamu tidak akan bisa kembali lagi " ucap suara tanpa wujud.
" Ya aku mengerti, terima kasih " ucap shen.
" Kamu berhutang satu permintaan pada ku, aku mau kamu mendekati cermin itu dan memegangnya " ucap suara tanpa wujud itu.
" Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang, sebelum aku masuk aku di larang mendekati cermin itu " sahut shen.
" Bukannya kamu juga di larang berbicara dengan ku, sudahlah kamu sudah berjanji pada ku kamu harus menepatinya " ucap suara tanpa wujud itu.
Ketua itu melarang ku pasti ada alasannya sendiri, tapi aku hanya mendekati dan menyentuhnya sedikit tidak mungkin berpengaruh " dalam hati shen.
" Kamu tidak perlu bingung, aku hanya menyuruh mu memegang cermin itu bukan memecahkannya " ucap suara tanpa wujud itu.