Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 171


Wessssssssssssst....


Wessssssssssssssst...


Benang putih yang lagi-lagi mengarah padanya membuat shen dengan sigap menghindarinya.


Jaring yang terpasang di mana-mana membuat shen harus lebih berhati-hati, satu saja langkahnya yang salah akan membuatnya terperangkap di jaring yang sudah di buat laba-laba raksasa di depannya.


" Cih, Apa hanya ini saja kemampuanmu " ucap shen.


" Tentu saja tidak " sahut laba-laba raksasa yang langsung melompat ke jaringnya satu persatu sambil terus melemparkan jaringnya ke arah shen.


Shen yang merasa terpojok mulai berpikir untuk menghancurkan jaring di depannya, jika tidak cepat atau lambat dia akan terperangkap di jaring laba-laba itu.


Wheeeeeeeeeeeessssssssttt...


Shen yang mengayunkan tangannya ke arah jaring-jaring di depannya membuat jaring di depannya satu persatu terputus, laba-laba raksasa yang tidak menyukai jaringnya di hancurkan tanpa banyak berpikir langsung mengeluarkan racun yang terletak di kepalanya.


Tidak butuh waktu lama racun yang keluar dari kepala laba-laba langsung membuat gumpalan asap berwarna ungu yang menyebar dengan sangat cepat ke arah shen, shen yang menyadari racun menyebar di tempatnya langsung mengeluarkan api suci untuk melindunginya.


" Racun itu setidaknya baru berreaksi setelah sepuluh menit kamu menghirupnya, semakin cepat kamu membunuhnya semakin cepat masalah terselesaikan " bisik mo.


" Em, kamu benar kalau begitu aku akan menghadapinya sekarang " sahut shen yang langsung melepaskan pelindugan api sucinya.


Shen yang masih tidak bisa melihat di mana laba-laba raksasa itu berada terpaksa menghentakan kakinya ke segala arah.


Duuuuug, duuuuuuug, duuuuuuuug...


Suara hentakan kaki shen yang sangat keras tidak lagi terdengar


Suara pasir-pasir di depannya menggantikan suara hentakan kaki yang seketika berhamburan dan membentuk ujung tombak tinggi, walau begitu shen masih merasa belum tenang apa lagi saat ini dirinya tidak bisa melihat keberadaan laba-laba raksasa itu.


Ini masih belum menjadi jaminan berhasil karena aku tidak bisa melihatnya, lebih baik aku tambah serangan terakhir saja " dalam hati shen yang langsung menarik pedangnya.


" PEDANG TANPA BAYANGAN "


" PEDANG TANPA BAYANGAN "


Teriak shen berulang kali sambil memutar badannya dan mengarahkan ayunan pedangnya ke segala arah.


Duuuuuuuuuuuuuuuuaaaaaaaarrrr...


Duuuuuuuuuuuuuuuuuaaaaaaaarrrrr...


Suara ledakan yang di sambut dengan getaran hebat membuat shen merasa sedikit tenang, waktu sepuluh menit yang berjalan sangat cepat membuat shen tersadar racun laba-laba raksasa telah menyebar ke seluruh tubuhnya.


" Sial aku sudah tidak bisa lagi menahannya " ucap shen yang langsung terduduk lemas dan tidak sadarkan diri.


Angin yang berhembus sangat kencang seketika membangunkan shen, hari yang mulai gelap membuat shen melihat ke arah sekitarnya di bantu api suci yang berada di tangannya.


" Tenang saja kamu berhasil membunuhnya " ucap mo yang tiba-tiba berdiri di samping shen.


" Di mana bangkai laba-laba itu?" tanya shen.


" Sudah hancur, inti hatinya sudah di ambil spiritualmu " sahut mo.


" Untung saja aku bisa memulihkan diri sendiri jika tidak mungkin aku sudah mati tadi " ucap shen sambil menghela nafas.


" Karena itu juga aku baru berani menyarankanmu langsung membunuh hewan itu, jika kamu tidak memilikinya apa mungkin aku menyarankanmu seperti itu " sahut mo.


" Sudahlah lupakan saja soal laba-laba itu, sekarang ke mana aku harus pergi " ucap shen yang langsung berdiri dan berjalan pergi.


Shen yang tidak tahu ke mana harus pergi terpaksa berjalan lurus, gelapnya malam dan dinginnya angin yang terus berhembus tidak membuat shen berpikir meninggalkan tempat itu.


Sreeeeeek, sreeeeeeek...


Sreeeeeek, sreeeeeeeek...


Suara pasir yang di tendang shen memecah keheningan malam, shen sesekali menatap langit yang tidak memberi penerang sedikitpun.


" Apa ini, kenapa kakiku tidak bisa di gerakan " ucap shen yang tiba-tiba kakinya seperti lengket di pasir.


" Kamu kenapa?" bisik mo.


" Tidak tahu kakiku tidak bisa di gerakan dan pasir ini perlahan menghisapku " sahut shen sambil berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan kakinya.


Arrrrrrrrrrkkkkkhhhh... teriak shen yang semakin tersedot dan masuk ke dalam pasir yang menghisapnya.


Shen yang di hisap pasir seketika terjatuh di sebuah tempat, tempat yang terlihat lebih gelap dari sebelumnya membuat shen lagi-lagi mengeluarkan api sucinya.


" Ini tempat apa " ucap shen sambil memperhatikan sekelilingnya.


" Sepertinya ini ruang bawah tanah " sahut mo yang berdiri di samping shen.


" Bagaimana bisa pasir tadi membawaku ke tempat seperti ini " ucap shen sambil berjalan mengikuti jalan di depannya.


" Siapa tahu tempat yang kamu cari berada di sini " sahut mo.


" Ya semoga saja " ucap shen sambil terus berjalan.


Shen yang baru berjalan beberapa meter dari tempatnya terjatuh tiba-tiba mencium bau sesuatu, bau harum yang serasa mengelilinginya membuat shen hampir saja kehilangan kendali.


Sadar sadar " dalam hati shen sambil memukul pipinya.


" Berhati-hatilah siapa tahu ada jebakan " ucap mo yang langsung menghilang.


" Mo apa kamu tidak menciumnya?" tanya shen.


" Mencium apa?" tanya mo balik.


" Ya sudahlah mungkin aku salah mencium saja " sahut shen yang kembali melanjutkan langkahnya.


Shen yang terus menerus mencium bau harum di sekitarnya memutuskan untuk mencari asal bau harum itu, tepat di jalan bercabang di depannya shen menghentikan langkahnya sejenak sambil terus menghirup bau harum yang semakin terasa dekat.


Bau itu berasal dari sana aku harus bergegas ke sana "dalam hati shen yang langsung berjalan mengikuti bau harum yang diciumnya.


" Di depan jalan buntu untuk apa kamu berjalan ke sana?" tanya mo.


" Aku masih penasaran dengan bau yang semakin menusuk hidungku, aku ingin melihat benda apa itu " sahut shen.


" Aku bisa melihat itu bukan sebuah benda " ucap sheng.


" Sheng akhirnya aku mendengar suaramu lagi " sahut shen.


" Inti hati hewan itu lumayan walau masih jauh dari kata cukup " ucap sheng.


" Lupakan dulu itu, di depan sana ada sebuah bunga " sambung sheng.


" Bunga, tidak heran bau harumnya terasa menyegarkan " sahut shen sambil terus berjalan.


Shen yang menghentikan langkahnya di ujung jalan tiba-tiba menatap ke atas, shen menggelengkan kepalanya berulang kali sambil terus menatap sekuntum bunga yang sangat cantik menggantung terbalik tepat di atas kepalanya.


" Bunga apa ini, bagaimana bisa dia tumbuh seperti itu " ucap shen.


" Walau aku tidak bisa mencium baunya aku merasa pernah melihatnya " sahut mo yang berdiri di samping shen.


" Jelas saja kamu pernah melihatnya, semua berkaitan dengan orang itu " ucap sheng.


" Haaah, benar aku mengingatnya sekarang " sahut mo.


" Mengingat apa?" tanya shen.


" Bukan apa-apa, bunga ini kalau tidak salah bernama mawar surga " sahut mo.


" Kenapa di namakan mawar surga sedangkan tumbuhnya di bumi " ucap shen.


" Kalau itu aku tidak tahu, tapi mawar ini sangat cocok untuk ketiga wanitamu " sahut mo.


" Mawar itu mampu memberikan ketenangan hati bagi siapa saja yang menghirupnya, dan tidak hanya itu saja setelah kelopak mawar itu terjatuh dari tangkainya siapa yang memakan satu kelopak bisa memiliki anak hingga sepuluh " sambung mo.


" Kalau begitu mawar itu berbahaya " sahut shen.


" Kenapa bisa berbahaya?" tanya mo.


" Kamu bayangkan saja jika satu kelopak saja bisa memiliki anak hingga sepuluh bagaimana jika ketiganya memakan lebih dari satu kelopak " sahut shen.


" Hahaha, bukannya bagus kamu jadi bisa membuat pasukan sendiri dengan anak-anakmu nantinya " ucap sheng yang langsung tertawa.


" Ambil saja, mawar itu berguna nantinya " sahut mo.


" Haaaah, baiklah aku akan mengambilnya " ucap shen sambil menghela nafas.