
" Anak kecil tidak seharusnya kamu berada di sini, karena ketua ingin kami membunuhmu maka jangan salahkan kami " ucap seorang murid sambil mengarahkan pedangnya ke leher anak laki-laki itu.
" Apa yang kamu lakukan " sahut shen sambil memegang erat pedang yang mengarah ke leher anak laki-laki di depannya.
" Kakak " ucap anak laki-laki itu sambil menatap shen.
" Pergilah, aku yang akan mengurus mereka " sahut shen sambil tersenyum.
" Terima kasih " ucap anak laki-laki itu sambil berlari pergi meninggalkan shen.
" Siapa kamu?" tanya pria tua yang terus menatap shen dengan tajam.
" Siapa aku tidaklah penting, karena kalian yang mencari masalah terlebih dulu jangan salahkan aku " jawab shen.
Praaaaaaaaaak...
Pedang yang di pegang shen seketika hancur berkeping-keping.
Wheeeeeeeeeessssssssss...
Bruuuuuuuuuuuuuuuaaaaaaakkk...
Shen yang mengayunkan tangannya langsung membuat murid di depannya terlempar jauh ke belakang.
" Kamu kasar sekali " ucap pria tua itu sambil menatap shen.
" Bagaimana dengan kalian yang menghancurkan rumah warga tanpa berbelas kasih " sahut shen.
" Heeeeh, mereka berada di tempat yang tidak ku sukai apa salahnya aku menghancurkannya " ucap pria tua itu dengan santai.
" Kalau begitu jujur saja aku tidak menyukai kalian, apa boleh aku menghancurkan kalian semua " sahut shen.
" Hahahaha, aku tahu kamu masih muda sangat berambisi tapi apa kamu sadar dengan ucapanmu itu "ucap pria tua itu yang langsung turun dari kudanya.
" Pria tua sepertimu tahu apa " sahut shen sambil tersenyum.
" Baiklah jujur saja aku tidak bisa melihat pelatihanmu, Bagimana jika kamu beri kesempatan " ucap pria tua itu.
" Aku tidak butuh kesempatan aku bisa menghabisi semua anak muridmu sekarang juga kalau aku mau " Sahut shen.
" Kamu terlalu sombong " ucap pria tua itu sambil tersenyum.
Ploooooook, plooooook, ploooooook...
" Siap ketua " ucap tiga murid sambil berdiri tegap.
" Habisi dia " sahut pria tua itu.
" Baik ketua " ucap ketiga murid serentak.
" Berhati-hatilah mereka sudah berada di tingkat langit walau usia mereka lebih muda darimu " bisik pria tua itu sambil menepuk pundak shen.
" Tunggu apa lagi serang dia " teriak pria tua itu memerintah ketiga muridnya.
Shen yang tidak ingin membuang waktu langsung menyerang ketiga murid pria tua itu terlebih dulu, pukulan dari jarak jauh yang di layangkan shen membuat ketiga murid pria tua itu terlempar sangat jauh.
Bruuuuuuuuuuuuuuaaaaakkkk...
Suara benturan keras dari ketiga murid pria tua di depan shen seketika membuat pria tua itu menatap shen dengan penuh kebingungan.
" Tidak mungkin " ucap pria tua itu.
" Semua mungkin saja terjadi di dunia ini " sahut shen.
" Sebenarnya kamu sudah di tingkat apa?" tanya pria tua itu sambil menatap shen.
" Jika ingin tahu jawabannya terima satu seranganku " sahut shen.
Dia sangat percaya diri aku jadi semakin penasaran dia berada di tingkat mana " dalam hati pria tua itu.
" Baik karena aku sendiri juga merasa penasaran aku akan menerima satu serangan darimu " ucap pria tua itu.
" Heeeh, ku harap kamu tidak menyesalinya " sahut shen.
" Itu tidak mungkin " ucap pria tua itu.
Aku berani menerima tantanganmu karena aku memiliki jurus pelindung, dengan jurus pelindungku sekuat apapun kamu tidak akan bisa melukaiku " dalam hati pria tua itu yang membuatnya tanpa sadar tersenyum sendiri.
Tinju tangan kosong, anak ini berpikir terlalu tinggi " dalam hati pria tua itu.
Boooooooooooooommmmmmmm...
Duuuuuuuuuuuuuuuuaaaaaaaaaarrrrrrrr...
Satu pukulan shen yang hampir menggunakan seluruh kekuatannya membuat ledakan dengan getaran hebat terjadi, ketua ba qi yang mengira shen sudah kalah dalam pertarungan langsung meminta muridnya bersiap mendatangi shen.
" Cepat, aku tidak percaya dia bisa kalah " teriak ketua ba qi.
Uhuk, uhuk, uhuk...
" Satu pukulanmu mampu menembus jurus pelindungku, sebenarnya kamu sudah berada di tingkat apa?" tanya pria tua itu sambil berusaha berjalan ke arah shen.
" Aku sama dengan ketiga muridmu tadi " sahut shen.
" Itu tidak mungkin, tapi kalau yang kamu katakan itu benar berarti kamu berada di tingkat langit tahap lima " ucap pria tua itu.
Uhuk, uhuk, uhuk...
" Bodohnya aku masih tidak menyadari kekuatan lawanku " sambung pria tua itu sambil terus memegangi dadanya.
" Sepertinya aku sudah tidak bisa bertahan " ucap pria tua itu yang langsung terjatuh di depan shen.
" Aku bisa menolongmu dengan satu syarat " sahut shen.
" Jika kamu bisa menolongku, apapun syaratmu akan ku penuhi " ucap pria tua itu.
Shen yang merasa puas dengan perkataan pria tua itu langsung menarik tangannya, dalam keadaan setengah tersadar pria tua itu merasa tubuhnya di aliri sesuatu yang sangat dingin.
" Untung saja masih sempat " ucap shen dengan suara pelan.
" Aku masih hidup " ucap pria tua itu yang perlahan kembali membuka matanya.
" Tentu saja " sahut shen yang duduk di samping pria tua itu.
" Katakan apa syaratmu?" tanya pria tua itu.
" Aki ingin perguruanmu dan perguruan Baise damai, sadarkah kamu pertempuran kalian itu melukai terlalu banyak jiwa " ucap shen.
" Walau sebenarnya ini dendam pribadi aku akan menurutinya " sahut pria tua itu.
" Terima kasih " ucap shen yang langsung menghilang dari samping pria tua itu.
" Kekuatannya sengguh di luar batasku " ucap pria tua itu.
" Di mana dia " teriak ketua ba qi.
" Sudah tidak ada " sahut pria tua itu.
" Apa maksudmu, apa kamu membunuhnya?" ucap ketua ba qi yang terlihat sangat marah.
" Dengarkan aku, dia sudah pergi dia meminta kita untuk berdamai jujur saja walau di dalam hatiku tidak setuju aku akan menurutinya " sahut pria tua itu.
" Apa benar yang kamu katakan " ucap ketua ba qi.
" Tentu saja, apa kamu meragukanku " sahut pria tua itu.
" Mulai dari sekarang dendam di antara kita menghilang walau begitu aku tetap tidak ingin berteman dengan perguruanmu " sambung pria tua itu sambil berjalan pergi meninggalkan ketua ba qi.
Lagi-lagi dia menolongku, aku belum meminta maaf padanya di lain waktu aku berharap masih bisa bertemu dengannya " dalam hati ketua ba qi.
" Ayo kita kembali " ucap ketua ba qi.
Ratusan murid yang sebelumnya di bawa keluar ketua ba qi dengan penuh rasa cemas akhirnya kembali masuk ke dalam perguruan tanpa adanya luka dan tanpa ada kehilangan nyawa.
" Kamu belum pernah ke sini sebelumnya " ucap mo yang berada di samping shen.
" Aku sendiri juga sedikit kebingungan " sahut shen sambil memperhatikan sekelilingnya.
" Apa karena kamu sudah jauh meningkat bahkan jurus dua duniamu sekarang bisa berpindah hanya dengan pemikiranmu " ucap mo.
" Mungkin saja " sahut shen.
" Tapi aku menyukai tempat ini aku rasa tempat ini sangat cocok untuk ku pakai berlatih " sambung shen sambil menarik nafasnya dalam-dalam.