
Setelah pesta lamaran berakhir shen dan ketua xu long in kembali melanjutkan perjalanannya, dengan tujuan yang masih sama seperti sebelumnya shen dan ketua xu long in tiba di wilayah kerajaan lainnya.
Shen yang baru saja turun dari kereta kudanya langsung di sambut dengan anak panah, anak panah yang berturut-turut mengarah padanya mampu di hindari shen dengan sangat mudah.
" Sebelumnya mereka sudah setuju, kenapa sambutan mereka terhadapmu seperti ini " ucap ketua xu long in sambil berjalan ke arah shen.
" Tidak tahu mungkin saja mereka berubah pikiran, tapi karena kita sudah sampai lebih baik kita bicarakan langsung saja dengan mereka " sahut shen.
" Ya sudah jika itu mau mu " ucap ketua xu long in yang langsung memutar kembali badannya.
Shen yang berjalan di belakang ketua xu long in menjadi sedikit waspada, shen memiliki firasat jika akan ada serangan demi serangan selanjutnya.
Sesuai dengan apa yang di perkirakan shen dan ketua xu long in yang baru saja memasuki gerbang kerajaan langsung di hadang dengan seorang pria.
" Biarkan aku saja ketua " ucap shen.
" Kita berada di wilayah orang lebih baik kamu tidak membunuhnya " sahut ketua xu long in.
" Baik ketua " ucap shen sambil berjalan mendekati pria yang menghadang jalannya.
" Pergilah jika tidak ingin mati " ucap pria itu.
" Kenapa aku harus pergi " sahut shen.
" Putri shie sebagai tuan putri dan juga panglima perang tidak mungkin menikah dengan orang sepertimu, apalagi kamu tidak hanya menikahinya seorang " ucap pria itu.
" Itu bukan urusanmu, jika memang dia tidak ingin aku akan membicarakan semua baik-baik dengannya " sahut shen dengan santai.
" Kalau itu maumu langkahi dulu mayatku " ucap pria itu sambil bersiap menyerang shen.
Shen yang mendengar perkataan pria itu hanya tersenyum, shen masih berdiri di tempatnya semula sambil menunggu pria di depannya menyerang.
" Hari ini akan menjadi hari terakhirmu " teriak pria itu sambil bersiap memukul shen.
Wheeeeeeeeesssssssssssss...
Gerakan tangan secepat kilat langsung mengarah ke shen yang masih terdiam.
Buuuuuug....
Satu pukulan besar langsung di tangkap shen sambil tersenyum.
" Kecepatan tangan kilatku bisa kamu tangkap dengan mudah " ucap pria itu.
" Kecepatan harus bisa di imbangi dengan kekuatan, jika kamu hanya mengandalkan kecepatan musuh akan lebih dulu menggunakan kekuatan terbesarnya untuk melawanmu " sahut shen.
" Yang mulia sudah menunggu kalian, cepatlah masuk " ucap pria itu.
" Tanpa kamu suruh kami juga akan masuk " sahut shen sambil berjalan.
Shen dan ketua xu long in yang baru mau memasuki aula kerajaan kembali di hadang, dua pria berbadan besar dengan pakaian khas kerajaan berdiri dengan tegap sambil menatap shen.
" Silahkan masuk " ucap kedua pria itu serentak.
" Terima kasih, aku mengira kalian juga ingin menghadang kami " sahut shen sambil berjalan.
" Tentu saja tidak " ucap kedua pria itu yang langsung mengikuti shen dan ketua xu long in dari belakang.
" Salam hormat dari kami " ucap ketua xu long in yang berdiri di depan shen.
" Ketua perguruan Langit biru anda terlalu sungkan " sahut yang mulia raja.
" Maaf sebelumnya jika kami datang mengganggu ketenangan yang mulia raja " ucap shen.
" Maafkan muridku yang mulia dia mengira dirinya tidak di sambut, Karena sewaktu kami baru saja turun anak panah langsung di arahkan ke kami " ucap ketua xu long in.
" Siapa yang berani mencari masalah dengan calon membantuku " teriak yang mulia raja.
" Aku " sahut wanita tua yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
" Ada apa bu, kenapa ibu ingin melukainya?" tanya yang mulia raja.
" Aku dari awal tidak menyukainya di tambah dia ingin shie menjadi salah satu istrinya, aku tidak setuju " sahut wanita tua itu.
" Nenek " panggil putri shie.
" Ini demi kebaikanmu " ucap wanita tua itu.
" Aku tetap akan menikah dengannya jika ada yang tidak merestuinya aku akan keluar dari istana " sahut putri shie.
" Jadi kamu mau melawanku " ucap wanita tua itu.
" Aku ingin mengejar kebahagiaanku sudah cukup lama aku selalu menuruti semua perkataan nenek " sahut putri shie.
" Padahal aku melakukan ini untukmu dan ini balasannya, kalau begitu semua terserah padamu saja " ucap wanita tua itu dengan pasrah.
" Terima kasih nek " sahut putri shie.
" Walau aku menyetujuinya dia harus memberikan sesuatu sebagai hadiah lamaran, jika aku menyukainya akan ku izinkan kamu menikah dengannya " ucap wanita tua itu.
" Anda tenang saja yang mulia aku sebagai ketua memberikan ini khusus untuk anda " ucap ketua xu long in.
" Apa ini, pil ini terlihat sangat buruk " sahut wanita tua itu.
" Pil panjang umur sangat cocok untuk yang mulia semoga hadiah itu bisa anda terima " ucap ketua xu long in.
" Aku menerimanya, tapi yang ku inginkan hadih yang di berikan langsung olehnya atau jangan-jangan dia tidak membawa hadih " sahut wanita tua itu sambil tersenyum.
" Apa ini bisa di sebut hadiah " ucap shen yang langsung mengeluarkan batu jiwa daru kotak ruangnya.
" Batu jiwa sebanyak ini kamu mendapatkannya di mana?" tanya wanita tua itu yang sengaja ingin menjebak shen.
" Aku mendapatkannya dari mana bukan urusan anda " sahut shen.
" Ya sudahlah akan ku anggap ini sebagai hadiah, aku tidak akan ikut campur lagi " ucap wanita tua itu yang langsung meminta para pelayannya untuk membawa batu jiwa pemberian shen.
" Maafkan nenekku " ucap putri shie.
" Tidak masalah " sahut shen sambil tersenyum.
" Bagaimana yang mulia apa lamaran kami di terima " ucap ketua xu long in.
" Maaf jika sebelumnya sambutan kami kurang menyenangkan hati, tapi kami sebagai orang tua pasti akan senang melihat anak kami bisa bahagia " sahut yang mulia raja.
" Shen ku titipkan putriku padamu untuk kedepannya aku hanya ingin melihatnya bahagia " sambung yang mulia raja.
" Yang mulia tenang saja, aku pasti akan berusaha membahagiakan putri shie " ucap shen.
" Sudah-sudah jangan terlalu tegang lagi kita akan menjadi satu keluarga, suamiku pestanya kita mulai saja " sahut yang mulia ratu sambil tersenyum.
" Baiklah secara resmi pesta lamaran putri di laksanakan sekarang, Jangan lupa rakyat juga harus merasakan kebahagiaan yang sama dengan kita sekarang " ucap yang mulia raja.
Putri shie yang duduk di samping ibunya hanya tersenyum menatap shen, penantiannya yang sangat lama akhirnya akan segera terbayar tuntas.
Masih sama seperti sebelumnya setelah pesta berakhir shen dan ketua xu long in bergegas pulang, ketua xu long in berpikir dia harus segera sampai ke perguruan agar bisa memikirkan hari yang tepat untuk hari besar shen.