Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 164


Shen yang menggenggam erat bola bening pemberian jin qu bergegas mengambil kotak ruangnya, shen yang berpikir tidak mungkin baginya untuk terus memegang bola di tangannya itu langsung memasukannya ke dalam kotak ruangnya.


" Apa itu yang kamu bilang barang berharga?" tanya mo yang berada di samping shen.


" Iya "sahut shen dengan singkat.


" Bagaimana bisa kamu mengetahui bola itu berharga, menurut penglihatanku bola itu sudah ada sebelum kamu lahir " ucap mo.


" Panjang ceritanya nanti akanku jelaskan, yang terpenting sekarang kita harus menemukan xilung sebelum sesuatu terjadi padanya " sahut shen yang langsung berjalan sangat cepat.


Gelapnya malam hari tidak membuat shen menghentikan langkahnya, shen yang di beritahu jiang er bahwa xilung berada di sebuah tempat bergegas mendatangi tempat itu.


" Tempat itu berada di depan, kamu tunggulah di sini aku akan melihat bagaimana keadaan di dalam " ucap mo yang tiba-tiba menghilang.


Mo yang sudah berada di dalam ruangan melihat seorang gadis sedang berlutut dengan tangan yang diikat dan lehernya di rantai, cambukan sesekali diarahkan ke gadis yang berlutut sesuai perintah seorang wanita yang duduk anggun bagaikan ratu di depan gadis itu.


" Aku menjadikanmu sebagai orang kepercayaanku, Aku tidak menyangka kamu malah berpihak pada mereka sebenarnya apa yang kurang kulakukan untukmu " ucap seorang wanita sambil berdiri dari tempat duduknya.


" Kamu menjadikanku sebagai orang kepercayaanmu hanya karena aku memiliki bakat alami yang tidak dimiliki banyak orang, sedangkan sisanya aku dan mereka sama-sama kamu pisahkan dari keluarga kami, Apa itu yang kamu bilang melakukan semua untukku " sahut xilung.


" Ayolah kamu bukan orang baru dan kamu menurutiku sudah hampir enam tahun lamanya, kenapa baru sekarang kamu berpikir untuk menjadi penghianat bukannya sejak saat itu kamu sudah terbiasa melihat anak buahku menculik dan membawa anak perempuan padaku. Tidak perlu menjadi orang munafik sebenarnya kamu juga memiliki bakat pemimpin sepertiku jika kamu menurutiku percayalah semua keinginanmu pasti akan terpenuhi " ucap sang wanita sambil berjalan ke arah xilung.


" Heeh, Dulu aku berpikir para anak perempuan dan semua gadis yang kamu culik hanya akan kamu jual menjadi budak untuk orang-orang kaya tapi semua tidak sesuai dengan perkiraan ku, tiga bulan yang lalu aku melihatnya dengan mata ku sendiri ternyata mereka semua yang kamu culik akan menjadi pengorbanan untuk kecantikanmu dan kekayaanmu " sahut xilung.


" Apa kamu tidak berpikir itu sangat kejam bagaimana bisa kamu membunuh mereka dengan sadis bahkan kamu meminum darah mereka dan membuat darah mereka menjadi kolam pemandian yang berada di kamarmu " sambung xilung.


" Oh, ternyata kamu sudah mengetahui semuanya kalau begitu aku tidak memiliki pilihan lain secepatnya kamu harus mati dan satu lagi darahmu akan menjadi yang spesial di antara semua darah yang pernah ku minum " ucap wanita itu sambil menginjak badan xilung.


" Kalau memang itu sudah menjadi takdirku aku akan menerimanya dan aku akan menganggapnya sebagai penebusan dosaku karena telah mengikuti mu selama ini " sahut xilung.


" Hahahahaha, bagus-bagus walaupun sangat disayangkan tapi akhirnya aku akan menikmati kecantikan yang lebih abadi dan kekayaan ku yang tiada henti " ucap wanita itu sambil terus tertawa.


" Kalian berdua bawa dia ke kamarku " ucap wanita itu memerintah dua pelayan wanitanya.


" Baik yang mulia khisa " sahut dua pelayan wanita itu bersamaan.


Namaku khisa selama aku menginginkannya tidak ada satupun yang bisa menghentikanku, tidak itu dewa ataupun yang lainnya " dalam hati wanita itu sambil tersenyum penuh arti.


" Aku harus secepatnya keluar memberitahu shen, jika sampai terlambat gadis itu bisa saja mati " ucap mo yang langsung kembali menghilang.


Shen yang sedari tadi berdiri menunggu kedatangan mo akhirnya melihat mo berdiri didepannya, mo tanpa banyak bicara langsung meminta shen bergegas masuk ke dalam sebelum semua terlambat.


" Apa yang terjadi?" tanya shen.


" Cepat pergi, gadis itu dalam bahaya " sahut mo yang langsung menghilang.


Shen menatap pintu gerbang yang tidak jauh di depannya sambil terus berjalan, lima pengawal yang berjaga di depan gerbang langsung melihat ke arah shen yang semakin mendekat.


" Kamu siapa, untuk apa datang kemari?" tanya salah satu pengawal sambil mengarahkan tombak di tangannya ke shen.


" Bukan urusanmu " sahut shen yang langsung memegang ujung tombak pengawal yang menghadangnya.


Tak, tak, tak...


Ujung tombak yang di pegang shen membuat tombak yang di pegang pengawal di depannya langsung terpatah menjadi beberapa bagian.


Pengawal yang melihat tombak temannya patah hanya karena di pegang shen merasa sangat terkejut.


" Aku ingin masuk, jika kalian berani menghalangiku tahu sendiri akibatnya " ucap shen.


" Sehebat apapun kamu tetap tidak boleh masuk kemari, ini sudah menjadi perintah " sahut seseorang pengawal lainnya.


Wheeeeeeeeeeeeessssss...


Shen mengibaskan tangannya ke arah lima pengawal di depannya hingga membuat kelimanya terlempar jauh ke belakang.


" Tidak tahu diri " ucap shen sambil berjalan memasuki gerbang yang sudah terbuka.


Shen yang melihat sebuah pintu tidak jauh darinya tanpa berpikir panjang langsung membukanya dan berjalan masuk ke dalamnya.


" Siapa kamu, bagaimana bisa kamu masuk?" tanya seorang pelayan wanita.


" Bukan urusanmu, pergilah " ucap shen sambil mengibaskan tangannya.


Bruuuuuuuaaaaaaak...


Suara benturan membuat ruangan yang sunyi langsung bergema, Khisa yang bersiap memasuki kamarnya bergegas menuju suara yang baru saja di dengarnya.


" Apa yang terjadi?" teriak khisa.


" Yang mulia tidak tahu dari mana dia bisa menerobos masuk " ucap pelayan wanita sambil berusaha kembali berdiri.


" Pengawal di luar apa mereka bodoh membiarkan orang asing ini masuk ke dalam rumahku " sahut khisa sambil mengepalkan tangannya.


" Sudahlah jangan menyalahkan pengawalmu mereka mungkin hanya kelelahan " ucap shen.


" Siapa kamu, kenapa kamu mencari masalah di rumahku?" tanya khisa yang langsung duduk menatap shen.


" Siapa aku tidaklah penting, apa kamu tahu apa kesalahanmu?" tanya shen balik.


" Hahaha kesalahan, orang sepertiku tidak memiliki kesalahan yang ada kamu bersalah karena sudah menerobos masuk rumahku. Kamu tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup " sahut khisa.


" Sudah ku duga kamu tidak akan merasa bersalah, lagi-lagi aku harus berurusan dengan pemuja iblis " ucap shen.


" Jangan mengira hanya karena bisa mengalahkan pengawal di depan gerbang kamu sudah merasa hebat, tunggulah kematianmu sudah semakin dekat " ucap khisa yang langsung bertepuk tangan.


Ploooooook, ploooooook, ploooooook...


Suara tepuk tangan yang menggema membuat shen tersenyum sendiri, khisa yang melihat pria di depannya seperti sedang meragukannya semakin mempercepat tepukan tangannya.


" Ada apa yang mulia memanggil kami " ucap tiga orang yang memakai pakaian hitam membungkuk di depan khisa.


" Berilah dia pelajaran, aku tidak ingin melihatnya hidup " sahut khisa sambil tersenyum.


Dengarkan aku, ketiga orang itu adalah pengawal bayangan hitam aku tidak bisa melihat tingkatan mereka, lebih baik berhati-hatilah " bisik mo.


" Baiklah, terima kasih sudah mengingatkanku" sahut shen.


" Wajahmu tidaklah asing, aku penasaran apakah aku pernah bertemu denganmu " ucap seorang pengawal bayangan hitam sambil berjalan ke arah shen.


" Kamu bukan orang pertama yang bicara seperti itu " sahut shen dengan santai.


Wheeeeeeeeeeessssssss...


Treeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng...


Tiga batu kecil yang di arahkan ke shen membuat shen langsung menarik pedangnya dan menangkis ketiga batu kecil itu.


" Cara yang menjijikan " ucap shen.


" Selamat kamu lulus serangan pertamaku, jujur saja batu tadi bukan sembarang batu jika batu tadi mengenai tubuhmu sudah bisa di pastikan tubuhmu akan hancur " sahut salah satu pengawal bayangan hitam sambil menatap shen.