Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 179


Shen yang berada di tengah-tengah banyaknya orang berkeliling membuatnya memiliki firasat buruk, dalam kegelisahannya shen terus mencari keberadaan bunglon yang menjadi temannya itu.


" Tidak ada di sini, di mana-mana juga tidak ada apa yang sebenarnya sudah terjadi " ucap shen sambil memperhatikan sekelilingnya.


" Hay kamu juga datang mencarinya ya, bagaimana apa kamu sudah menemukannya " ucap seorang pria yang berjalan menghampiri shen.


" Mencari apa maksudmu?" tanya shen sambil menatap pria yang berjalan ke arahnya.


" Sudahlah jangan berpura-pura aku tahu kamu sama seperti yang lain, kamu datang ke sini pasti mencari batu jiwa " ucap pria itu.


" Batu jiwa, bagaimana dengan hewan spiritual penjaga hutan ini apa kalian tidak takut padanya " sahut shen.


" Hahahahaha, kamu datang dari mana apa kamu tidak tahu kalau hewan spiritual itu sudah mati " ucap pria itu sambil terus tertawa.


" Apa maksudmu, coba katakan sekali lagi " sahut shen yang terlihat sangat marah.


" Kamu kenapa, ini bukan menjadi rahasia hewan spiritual itu mati sudah dua tahun lebih " ucap pria itu.


" Lancang, siapa yang berani membunuh teman ku " teriak shen.


" Apa maksudmu, kenapa hewan spiritual itu bisa menjadi temanmu?" tanya pria itu dengan tangan dan kaki yang terus gemetar.


" Aku menyuruhnya dengan susah payah agar tidak lagi membunuh dan kalian semua dengan sangat tega malah membunuhnya, apa kalian tidak memiliki hati " ucap shen.


" Bukan kami yang membunuhnya, tiga puluh orang yang berhasil membunuh hewan itu kini sudah hidup dengan santai apa saja keinginan mereka dapat terpenuhi " sahut pria itu.


" Aku membenci kalian yang sangat serakah, walau begitu aku berjanji untuk tidak membunuhmu dengan satu syarat " ucap shen.


" Katakan saja, asal aku bisa hidup aku akan berusaha memenuhinya " sahut pria itu sambil menundukan kepalanya.


" Beritahu tiga puluh orang itu bahwa seseorang tahu di mana tempat batu jiwa itu jika mereka menginginkannya silahkan datang kemari, dan satu hal lagi yang perlu kamu ingat siapa saja yang masih berada di sini dalam satu jam aku akan membunuhnya " ucap shen.


" Baik aku akan memberitahu mereka " sahut pria itu sambil berlari.


Pria itu yang mengingat jelas perkataan shen setiap bertemu seseorang langsung memberitahukannya, sebagian dari yang di temuinya tidak percaya apa yang di katakan pria itu walau begitu pria itu merasa dirinya sudah melakukan yang terbaik.


" Aku harus pergi memberitahukannya pada mereka ini demi keselamatanku sendiri, jika mereka bisa bertahan aku sangat bahagia tapi jika mereka mati aku akan lebih bahagia " ucap pria itu sambil terus berlari.


Pria itu mendatangi rumah-rumah orang yang mengaku telah membunuh hewan spiritual penjaga hutan larangan, tidak perduli asli atau tidak status orang itu pria itu berusaha menyelesaikan tugasnya.


Satu jam berlalu begitu cepat shen yang sebelumnya memberi peringatan namun banyak yang tidak perduli memutuskan membunuh siapa saja yang berada di dalam hutan terlarang, shen terbang secepat kilat sambil menggenggam erat pedang ditangannya setiap bertemu manusia selain dirinya shen akan langsung mengayunkan pedangnya.


" Kalian pantas mendapatkannya, kalian sangat serakah aku membenci kalian semua " teriak shen sambil terus mengayunkan pedangnya.


" Ampun aku tidak akan datang kemari tolong kasihanni aku istriku baru saja melahirkan " ucap seorang pria.


" Kenapa aku harus mengasihanimu jika kamu sendiri tidak mengasihani dirimu " sahut shen.


" Aku berjanji tidak akan menginjakan kaki lagi di sini ampuni aku " ucap pria itu sambil bersujud di depan shen.


" Aku tidak pernah begini sebelumnya tapi kamu pengecualian pergilah aku mengampunimu " sahut shen yang berbalik pergi.


Ingin aku pergi sebelum mendapatkan batu jiwa jangan bermimpi " dalam hati pria itu sambil berlari ke arah dan bersiap menancapkan pisau di tangannya ke pundak shen.


" Benar-benar tidak tahu diri " sahut shen.


Wheeeeeeeeeeeesssssss...


Shen yang memutar badannya sambil mengayunkan pedang di tangannya membuat pria di belakangnya kehilangan kepalanya.


" Sudah serakah tidak tahu diri, aku masih tidak habis pikir kenapa mereka masih bisa hidup " ucap shen sambil berjalan pergi.


Tap, tap, tap...


Tap, tap, tap.... ....


Suara langkah kaki yang mengarah pada shen membuatnya tersenyum, shen tidak mengira mereka dengan mudahnya percaya hanya dari perkataan seseorang.


" Mereka yang sudah membunuh hewan spiritual penjaga hutan terlarang " ucap pria yang sebelumnya di suruh shen.


" Pergilah " sahut shen sambil tersenyum.


" Terima kasih " ucap pria itu sambil berlari pergi meninggalkan shen.


" Heh, apa yang membuat kalian berpikir aku akan memberikannya " sahut shen.


" Lalu kamu memanggil kami untuk apa untuk bertarung denganmu " teriak pria yang berdiri di depan shen.


" Hahahahaha, bertarung apa kalian pantas " sahut shen sambil terus tertawa.


" Jika kamu mengetahuinya cepat katakan saja pada kami, kamu tidak perlu khawatir kami akan membaginya padamu " ucap seorang wanita yang berjalan menghampiri shen.


" Siapa namamu?" tanya shen.


" Nama tidaklah penting " sahut wanita itu.


" Sudah serakah sombong, kamu tidak pantas untuk hidup mati saja kamu " bentak shen.


Bruuuuuuuuuaaaaakkkkkkk...


Shen yang merasa kesal langsung mengangkat wanita itu dari kejauhan dan melemparkannya ke pohon besar tidak jauh darinya.


" Dia mati, sial sepertinya ini jebakan " ucap seorang pria sambil berusaha untuk kabur.


" Mau ke mana?" tanya shen yang langsung mengayunkan tangannya.


Arrrrrkkkkkhhhhhh...


" Mati, dia bahkan bisa membunuh tanpa menyentuh kita siapa dia sebenarnya " ucap seorang pria.


" Kalian kenapa tega membunuh temanku?" tanya shen.


" Dia sudah banyak berbuat salah sudah sepantasnya mati " sahut seseorang dari barisan belakang.


Wheeeeeeeeeeeeesss...


Shen yang tidak suka dengan perkataan orang itu langsung melesat dengan sangat cepat lalu mencekik orang itu sampai mati.


" Maafkan kami, kami mengaku salah " sahut puluhan orang yang langsung bersujud di depan shen.


" Heh, kalian tidak pantas mendapatkan maaf hari ini juga kalian harus mati " ucap shen.


" Tapi jika ada salah satu dari kalian yang menyerap inti hati temanku aku akan memaafkan kalian " sambung shen.


" Aku yang menyerapnya, bisakah kamu melepaskanku sekarang " sahut seseorang sambil berdiri.


" Hahahah " Shen tertawa sambil kembali mengayunkan tangannya.


Wheeeeeeeeessss...


Lagi-lagi kepala yang terlepas langsung menggelinding menjauh.


" Aku tidak bodoh, aku tahu seberapa kuat kalian dan seberapa lemah kalian " ucap shen.


" Jujur saja tidak ada salah satupun dari kami yang menyerapnya " sahut pria tua sambil berusaha berdiri.


" Apa maksudmu pak tua " ucap shen.


" Kami mengaku salah karena membunuh temanmu tapi bukan kami yang menyerap inti hatinya, saat kami baru selesai membunuh seseorang datang dan mengambilnya dari kami " sahut pria tua itu.


" Apa kamu tahu siapa orang itu?" tanya shen.


" Tahu, aku bahkan mengetahui tempat tinggalnya " sahut pria tua itu.


" Bagus, sekarang kamu menjauhlah dari mereka " ucap shen.


" Baik " sahut pria tua itu yang langsung berlari menjauh.


Duuuuuug, duuuuuug, duuuuuug...


Arrrrrrrrrrrrrrkkkkkkkkkkkhhhhhhhhh...


Shen yang menghentakan kakinya membuat tanah terbelah menjadi dua, puluhan orang yang tersisa langsung terkubur di dalam tanah yang kembali tertutup.