
Shen yang terus berjalan akhirnya sampai di sebuah desa di bawah gunung, desa yang terbilang kecil namun ramai penduduknya membuat shen tanpa ragu memasuki desa itu untuk sekedar melepas lelahnya.
Shen yang baru beberapa langkah memasuki desa kecil itu tiba-tiba di sambut seseorang, pria tua dengan tongkat di tangannya berjalan ke arah shen sambil tersenyum.
" Anak muda, kamu mau ke mana?" tanya pria tua itu sambil tersenyum.
" Aku mau mencari penginapan hanya untuk satu malam " sahut shen.
" Anak muda kamu pasti berjalan sangat jauh, mari aku akan mengantarmu ke sebuah penginapan yang tidak jauh dari sini " ucap pria tua itu lagi.
" Terima kasih " sahut shen yang langsung mengikuti pria tua itu dari belakang.
Shen yang memperhatikan pria tua di depannya tiba-tiba merasa sedikit aneh, shen bertanya-tanya pada dirinya sendiri siapa sebenarnya pria tua itu.
" Anak muda mari masuk ke dalam, penginapan ini masih saudaraku yang membukanya " ucap pria tua itu.
" Baik " sahut shen yang bergegas masuk ke dalam penginapan sambil memperhatikan sekelilingnya.
" Kamu tunggu di sini sebentar aku akan meminta satu kamar khusus untukmu " ucap pria tua itu yang langsung pergi meninggalkan shen.
" Baik " sahut shen lagi sambil menatap pria tua itu dengan penuh rasa heran.
" Aku mau satu kamar khusus untuknya, kamu beri dia pelayanan terbaik karena dia tamu spesial. Kamu pasti mengerti apa maksudku " ucap pria tua itu yang tersenyum penuh arti.
" Aku mengerti, anda tenang saja aku tidak akan mengecewakannya " sahut pria penjaga penginapan yang langsung tersenyum.
" Mereka berdua sangat mencurigakan " ucap sheng.
" Aku juga merasa begitu " sahut shen dengan suara pelan.
" Berapa yang harus ku bayar " ucap shen yang membuat pria tua itu merasa terkejut.
" Eh, aku sudah membayarnya ini kuncinya kamu beristirahatlah " ucap pria tua itu yang terlihat jelas sangat gugup.
" Kalau begitu terima kasih " ucap shen yang langsung mengikuti seorang pelayan yang di suruh menunjukkan kamar untuknya.
" Ini kamar anda, silahkan beristirahat " ucap pelayan itu sambil menundukan kepalanya.
Shen yang memegang kunci kamar langsung membuka kamar di depannya itu dan bergegas masuk ke dalam.
" Aku curiga mereka menyembunyikan sesuatu " ucap mo yang tiba-tiba duduk di depan shen.
" Aku juga merasa begitu, tapi aku sangat penasaran apa yang sedang mereka sembunyikan " sahut shen.
" Kamu selalu saja begitu, bukannya kamu bilang ingin menyerap batu jiwa kenapa kamu malah beristirahat di desa kecil ini?" tanya mo.
" Aku hanya ingin mencari tahu saja, lagipula tempat untuk menyerap batu jiwa sepertinya sangat bagus di atas gunung " jawab shen santai.
" Memang benar di atas gunung tempat yang paling bagus untuk menyerap batu jiwa, tapi kamu lebih baik berhati-hatilah sepertinya pria tua itu tidak berniat baik padamu " ucap mo.
" Ya aku juga mencurigainya dari tadi, kamu tenang saja aku akan mengingat pesanmu untuk berhati-hati, tapi mo kenapa kamu waktu itu marah padaku?" tanya shen.
" Nanti juga kamu akan mengetahuinya " sahut mo yang langsung kembali menghilang.
" Sudahlah aku lebih baik beristirahat saja, hawa di kamar ini sangat sejuk aku tidak bisa menahan mataku lagi " ucap shen yang sengaja mengeraskan suaranya.
" Heeeh, dia sudah tertidur " ucap pria penjaga penginapan yang mengintip shen dari lubang.
" Tenang saja, semua demi desa kita anda tidak perlu khawatir "sahut penjaga penginapan dengan santai.
" Baguslah, nanti malam ingat untuk membawanya keluar " ucap pria tua itu yang langsung pergi.
Hais, korban baru datang lagi " dalam hati penjaga penginapan yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
" Mereka sudah pergi " bisik mo.
" Ternyata benar, mereka merencanakan sesuatu " sahut shen yang langsung membuka matanya.
" Licik juga caramu berpura-pura tertidur seperti itu " ucap mo lagi.
" Taktik kecil, sebenarnya embun tidur tidak akan bisa mempengaruhiku " sahut shen.
" Lalu bagaimana bisa kamu tahu mereka sedang mengintipmu?" tanya mo.
" Mereka hanya penjahat kecil yang masih belum pintar, suara langkah kaki mereka terdengar sangat jelas saat aku masih berbicara padamu " sahut shen.
" Mereka akan menjebakmu nanti malam, apa yang akan kamu lakukan?" tanya mo lagi.
" Aku akan menunggu apa yang akan mereka lakukan " sahut shen yang kembali menutup matanya.
Shen yang baru menutup matanya di buat terkejut, suara ketukan pintu yang terus berbunyi membuat shen sangat sulit untuk tertidur.
" Iya, tunggu sebentar " ucap shen yang terpaksa bangkit dari tempat tidur.
" Ada apa?" tanya shen yang membuka pintu kamar sambil menutup matanya.
" Maaf mengganggu, aku mengantar makanan bolehkah aku masuk " ucap seorang wanita yang berpakaian seperti pelayan.
" Masuklah, taruh saja di atas meja "sahut shen yang langsung kembali ke tempat tidurnya.
" Maaf, apa ada yang kamu perlukan lagi aku bisa melayanimu " ucap wanita itu sambil duduk di samping shen.
Shen yang sudah menutup matanya tidak menjawab perkataan wanita yang duduk di depannya itu.
Wanita itu yang melihat shen menutup matanya mengira shen hanya berpura-pura tertidur, wanita itu dengan senyum licik di bibirnya perlahan membuka bajunya berharap shen yang berpura-pura tertidur langsung membuka matanya.
" Kalau badanku tidak bisa menggodamu, bagaimana jika aku melepas bajumu " ucap wanita itu sambil tersenyum.
Wanita itu yang mengira shen akan malu jika di buka bajunya tanpa banyak bicara langsung mendekatkat tubuhnya pada shen, tangannya yang sudah tidak sabar langsung membuka baju shen dengan cepat.
Wanita itu tidak hanya berhenti di situ setelah membuka baju shen wanita itu langsung mengelus dada shen sambil berharap shen terbangun dan langsung menyergapnya.
" Sial sial sial, dia ini pria atau bukan kenapa masih belum bangun juga " ucap wanita itu yang merasa kesal sendiri.
Wanita itu yang merasa rencananya gagal kembali memperbaiki bajunya lalu keluar dari kamar shen, shen yang memang dari awal hanya berpura-pura tertidur langsung duduk dengan cepat setelah melihat pelayan wanita itu meninggalkan kamarnya.
" Hahahahaha, pelayan wanita itu meragukanmu apa kamu masih pria atau bukan " ucap sheng.
" Aku tentu saja masih pria, hanya saja aku mencoba bertahan sekuat tenaga agar tidak bangun "sahut shen.
" Heeeh, benar juga untuk apa kamu tergoda dengan wanita pelayan itu, sedangkan kamu sendiri sudah memiliki tiga wanita yang menunggumu dengan pasrah " ucap sheng.
" Sudahlah jangan berkata seperti itu lagi, sekarang lebih baik aku tetap terjaga karena aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan " sahut shen.