Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 173


Shen yang bersiap menyerap batu jiwa di depannya bergegas mengeluarkan bola bening pemberian jin qu, shen menatap bola bening di tangannya sambil tersenyum.


" Apa kamu tahu kegunaannya?" tanya mo.


" Tentu saja " sahut shen.


" Bola ini akan meleburkan seluruh batu jiwa dan aku hanya perlu menyerapnya saja " sambung shen.


" Aku masih penasaran sebenarnya kamu tahu bola itu dari mana, bahkan kamu sampai tahu kegunaannya " ucap mo.


" Sangat sulit menjelaskannya "sahut shen.


Bagaimana aku memberitahunya, aku mengetahui tentang bola ini dari sejarah saat di kehidupanku dulu tidak mungkin aku memberitahukan mo tentang itu" dalam hati shen.


Shen yang tidak ingin berlama-lama langsung menaruh bola bening di depannya, sheng yang menyadari shen bersiap menyerap batu jiwa bergegas menghentikannya.


" Aku sudah bilang aku juga membutuhkannya " ucap sheng.


" Tenang saja ini banyak " sahut shen.


" Jika batu jiwa itu semua di leburkan aku tidak bisa menyerapnya " ucap sheng.


" Lalu kamu mau bagaimana?" tanya shen.


" Biarkan aku menyerapnya terlebih dulu, sisanya bisa kamu habiskan " sahut sheng.


" Haaah, kalau itu maumu aku akan mengalah lagipula kamu seperti itu juga karena aku. Kalau begitu cepatlah aku akan menunggumu menyelesaikannya " ucap shen yang langsung mengambil kembali batu jiwa di depan.


" Tunggu bagaimana kamu menyerapnya, tempat ini tidak besar tidak akan muat denganmu " sambung shen.


" Tidak perlu bingung, aku hanya perlu meminjam tubuhmu sebentar " sahut shen.


" Oh seperti itu " ucap shen.


" Bersiaplah, aku akan masuk ke dalam tubuhmu " sahut sheng yang langsung masuk ke dalam tubuh shen.


Arrrrrrrrrrkkkkkhhhh...


Teriak shen yang langsung terduduk, tubuhnya yang perlahan di penuhi sisik dan kuku yang panjang pertanda sheng telah berhasil mengambil alih tubuhnya.


" Cepatlah, jangan berlama-lama " ucap shen yang berada di alam bawah sadarnya.


" Cerewet " sahut sheng yang langsung maju selangkah demi selangkah.


Sheng menatap batu jiwa di depannya sambil menyeringai, sheng yang tidak ingin membuang waktu langsung mengambil beberapa batu jiwa dan menaruhnya di pangkuannya.


" Saatnya menyerap " ucap sheng dengan suara pelan.


Sheng yang sudah bersiap langsung menutup matanya dan menyerap batu jiwa di pangkuannya, perlahan batu jiwa yang di serap sheng menghilang dari pangkuannya.


Sheng yang sudah menyerap batu jiwa di pangkuannya bergegas mengambil lagi dan menaruhnya di pangkuannya, sheng yang terus melakukan penyerapan merasa badannya jauh lebih baik dan kekuatannya semakin bertambah.


Tidak terasa sheng yang terus menerus menyerap batu jiwa menghabiskan sepuluh hari lamanya, sheng yang merasa tubuhnya jauh lebih baik bahkan kekuatannya bertambah akhirnya mengakhiri penyerapannya.


" Lumayan " ucap sheng yang langsung berdiri.


" Lumayan apa, kamu sudah menyerap selama sepuluh hari dan meghabiskan kurang lebih seribu batu jiwa dan kamu bilang itu lumayan " sahut shen.


" Apa sudah selama itu, aku seperti merasa baru kemarin menyerapnya " ucap sheng dengan santai.


" Sudahlah cepat keluar, aku juga mau menyerapnya " sahut shen.


Sheng yang mendengar perkataan shen bergegas keluar dari tubuhnya.


" Ambil tubuhmu aku merasa sesak berada di situ " ucap sheng.


" Cih sekarang baru merasa sesak, sepertinya kemarin kamu menikmatinya " sahut shen.


Shen yang bersiap menyerap batu jiwa kembali mengeluarkan bola beningnya dan menaruhnya di tengah-tengah batu jiwa, shen yang mengetahui peleburan bisa saja melukainya perlahan mundur ke belakang.


Shen menatap satu persatu batu jiwa yang perlahan melebur dan masuk ke dalam bola beningnya, ribuan batu jiwa yang telah habis melebur dan masuk ke dalam bola beningnya membuat shen kembali berjalan menghampiri bola beningnya.


" Apa kamu akan menyerapnya sekarang?" tanya mo yang mengikuti shen mengambil bolanya.


" Mau bagaimana lagi, aku masih belum tahu di mana jalan keluarnya " sahut shen.


" Bukan itu maksudku, apa kamu akan menyerap semuanya sekarang. Di dalam bola beningmu itu ada kurang lebih dua tiga ribu batu jiwa dan itu akan memakan waktu yang sangat lama untukmu menyerapnya " ucap mo.


" Sudah kamu tidak perlu khawatir itu tidak butuh waktu lama " sahut shen yang langsung duduk sambil menggenggam bola bening di tangannya.


Shen yang dari awal sudah bersiap langsung menutup matanya, berbeda dari penyerapan batu jiwa utuh batu jiwa yang telah di leburkan lebih mempermudah merasuk ke dalam tubuh penyerapnya.


Hari demi hari berlalu begitu cepat tujuh hari setelah penyerapan shen akhirnya membuka matanya, shen terdiam saat melihat bola bening di tangannya sudah hancur berkeping-keping.


" Ternyata hanya satu kali pakai saja " ucap shen.


" Ini seperti tidak nyata, kamu berhasil menyerap tiga ribu batu jiwa hanya dengan tujuh hari " sahut mo.


" Ini berkat batu jiwa ini, aku sekarang merasa tubuhku berbeda dari sebelumnya aku bisa merasakan aura nadiku berwarna ungu " ucap sheng sambil mengepalkan tangannya.


" Aura nadi berwarna ungu dengan pelatihan tingkat langit tahap lima, untuk sekarang kamu lumayan kuat kamu harus ingat satu hal sekuat apapun kamu sekarang masih ada yang lebih kuat darimu " sahut mo.


" Aku tahu itu " ucap shen yang bersiap mencoba mengeluarkan kekuatannya.


Shen yang melihat jari telunjuknya di penuhi kekuatan langsung mengarahkannya ke atas.


Booooooooooommmmmm...


Duuuuuuuuuaaaaaarrrrrrrrrrrr...


Ledakan yang sangat dahsyat membuat lubang besar tepat di atas shen, shen menatap jarinya sambil tersenyum sendiri.


" Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tanya mo.


" Aku hanya tidak menyangka kekuatan yang di hasilkan tadi sangat kuat, dan yang lebih membuatku tidak menyangka ternyata sangat mudah mencari jalan keluarnya " sahut shen.


" Sudahlah lebih baik kita keluar dulu, aku sudah tidak sabar ingin melihat langit " sambung shen yang langsung melompat ke atas.


Shen yang sudah keluar sangat terkejut melihat sekitarnya, shen merasa tidak percaya dirinya sekarang sudah tidak berada di dataran berpasir lagi.


" Ini di mana?" tanya shen.


" Aku juga tidak tahu " sahut mo sambil memperhatikan sekelilingnya.


" Ternyata jalan di bawah seperti sebuah jalan rahasia " ucap shen.


" Lalu sekarang kamu akan ke mana?" tanya mo.


" Untuk sekarang aku ingin mencari tahu kita berada di mana " sahut shen.


" Setelah itu kamu akan mencari batu jiwa di mana lagi?" tanya mo.


" Batu jiwa, untuk apa?" tanya shen balik.


" Kamu masih kurang satu tingkatan apa kamu melupakan itu " sahut mo.


" Aku tidak lupa, hanya saja untuk kali ini aku tidak ingin mengandalkan batu jiwa " ucap shen.


" Aku ingin meningkatkan dengan usahaku sendiri dengan begitu hasilnya akan terlihat nyata " sambung shen.


" Bagus juga, tapi kamu harus ingat menaikan tingkatan ke tingkat langit tahap semesta membutuhkan waktu yang cukup lama dan usaha yang lebih keras " sahut mo.


" Kamu tenang saja apapun itu aku akan berusaha sekuat tenaga " ucap shen sambil berjalan pergi.