Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 169


" Pendekar akhirnya bangun juga " ucap jin qu yang berjalan ke arah shen di dampingi jiang er.


" Setelah tidur aku merasa badanku jauh lebih bertenaga " sahut shen.


" Iya tapi kasihan yang menjagamu dia mengira terjadi sesuatu padamu " ucap jin qu sambil melirik ke arah xilung.


" Emmmm " sahut shen sambil tersenyum.


" Oh ya shen sebentar lagi kapal akan bersandar, kita terpaksa berpisah lagi " ucap jin qu.


" Walau berpisah aku yakin suatu hari nanti kita akan bertemu, aku berharap saat bertemu nanti kamu sudah menikahinya " sahut shen yang lagi-lagi tersenyum.


" Semua tergantung padanya " ucap jin qu sambil menatap jiang er.


" Aku merasa berhutang budi padamu kalau bukan karena bola pemberianmu mungkin aku tidak bisa lepas sekarang " sahut shen.


" Sebelumnya kamu sudah menolongku dan pemberianku menolongmu anggap saja kita impas, lagipula bola itu tidak cocok di tanganku " ucap jin qu.


" Tetap saja aku merasa berhutang budi, di lain hari jika kita bertemu dan kamu sedang membutuhkan bantuan aku pasti akan membantumu " sahut shen.


" Kalau begitu kita sepakat " ucap jin qu yang langsung menggenggam tangan shen.


Kapal yang telah bersandar membuat shen bergegas turun, perjalanan yang berlawanan arah membuat shen dan jin qu kembali berpisah.


" Sepertinya hubunganmu dengannya sangat baik " ucap xilung yang berjalan di sebelah shen.


" Sebenarnya tidak juga, aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu " sahut shen.


" Oh begitu, sekarang apa aku boleh tahu namamu?" tanya xilung.


" Aku sangat yakin kamu sudah mengetahui namaku " sahut shen.


" Memang benar, tapi aku ingin mengenalnya langsung darimu " ucap xilung.


" Baiklah namaku shen, apa kamu sudah puas" sahut shen.


" Sudah sudah, oh ya kalau boleh tahu siapa yang menyuruhmu. Jujur saja aku di bawa pergi sudah sangat lama bahkan aku tidak yakin orang tuaku masih mengingatku " ucap xilung.


" Kepingan roh yang menyuhku, dia hanya bilang kalau kamu anak saudaranya " sahut shen.


" Apa maksudmu pamanku " ucap xilung.


" Mungkin saja " sahut shen.


Setelah bertanya xilung menjadi teringat sebuah kejadian, pamannya yang di maksud shen dulu sangat menyayanginya hampir semua keinginanya selalu di penuhi, xilung benar-benar tidak menyangka ternyata pamannya masih sangat peduli padanya.


" Ada apa?" tanya shen yang melihat xilung terus terdiam.


" Tidak ada apa-apa " sahut xilung yang langsung mengusap air matanya.


" Aku masih tidak tahu di mana rumahmu bisakah kamu memberitahunya " ucap shen.


" Ya tentu saja " sahut xilung.


" Kota Angdai, dari sini mungkin hanya membutuhkam waktu tiga jam " sambung xilung.


" Baguslah tidak terlalu jauh, aku bisa lebih cepat mengantarmu ke sana " ucap shen.


" Setelah mengantarku kamu mau ke mana?" tanya xilung.


" Masih belum tahu, yang pasti aku akan mencari sebuah tempat yang memiliki banyak batu jiwa karena aku akan terus berlatih " sahut shen.


" Oh ternyata kamu pengembara, aku mengira kamu masih bisa tinggal beberapa hari menemaniku di rumah " ucap xilung.


" Kamu masih sangat muda lebih baik jangan berpikir yang tidak-tidak, dari penglihatanku kamu masih sangat lemah lebih baik kamu menggunakan waktumu untuk berlatih " sahut shen.


" Baiklah " sahut xilung dengan suara pelan.


Shen yang terus berjalan akhirnya sampai di kota Angdai, perjalanan tiga jam tanpa henti di tambah sesekali menggendong xilung membuatnya merasa kelelahan.


" Kenapa kamu tidak terbang saja, bukannya lebih cepat dan tidak membuatmu lelah " bisik mo.


" Di depan yang lemah kita tidak boleh memamerkan kekuatan kita, lebih bagus jika terus merendah " sahut shen.


" Mo menurutmu bagaimana kondisi sheng sekarang " sambung shen.


" Dia kuat aku yakin dia akan baik-baik saja, tapi semakin lama dia mendapatkan inti hati atau batu jiwa semakin lama dia kembali pulih " sahut mo.


" Turunkan saja aku, aku tahu kamu sudah kelelahan " ucap xilung.


" Tidak masalah, sekarang kamu tinggal memberitahuku apa kita masih jauh " sahut shen.


" Tidak juga, setelah persimpangan ada rumah tepat di pinggir jalan di situ rumahku " ucap xilung.


" Baiklah kalau begitu aku akan membawamu ke sana " sahut shen yang semakin mempercepat langkahnya.


Shen yang mengikuti perkataan xilung setelah sampai di persimpangan shen pun menghentikan langkahnya dan menurunkan xilung.


" Ayah ibu aku pulang " teriak xilung sambil berlari ke arah sebuah rumah yang terbilang besar.


Tepat setelah sampai di depan pintu seorang pria tua dan wanita tua berjalan keluar sambil menatap xilung.


" Kamu mirip dengan putriku " ucap wanita tua itu sambil terus menatap xilung.


" Ayah ibu ini memang putri kalian, aku xilung" sahut xilung yang langsung memeluk wanita tua didepannya.


" Ternyata kamu memang benar putriku, akhirnya putriku kembali juga terima kasih dewa " ucap wanita tua itu yang langsung menangis dengan keras.


" Putriku putriku akhirnya kembali " sahut pria tua yang juga langsung memeluk xilung.


Sudahlah aku lebih baik pergi sekarang " dalam hati shen sambil membalikkan badannya.


" Tunggu " teriak xilung.


" Ada apa?" tanya shen yang kembali memutar badannya.


" Masuklah dulu ada yang ingin ku berikan padamu " sahut xilung.


" Tapi aku harus cepat, aku tidak bisa berlama-lama " ucap shen.


" Aku berjanji ini tidak lama " sahut xilung.


" Ayah ibu perkenalkan namanya shen dia yang menyelamatkanku " ucap xilung sambil menatap kedua orang tuanya.


" Kamu penyelamat putriku kami berterima kasih padamu " ucap wanita tua yang langsung membungkukan badannya.


" Anda tidak perlu berbuat seperti itu " sahut shen.


" Kami ingin berterima kasih padamu, katakan saja apa yang bisa kami bantu " ucap pria tua.


" Terima kasih tapi itu tidak perlu " sahut shen.


" Mari masuk, aku ingin memberikanmu sesuatu " ucap xilung yang langsung menarik tangan shen.


Shen yang merasa tidak enak untuk menolak terpaksa mengikuti xilung masuk ke dalam rumahnya, shen menghentikan langkahnya di ruang tamu bagaimanapun juga tidak baik pria dan wanita berdua di dalam rumah sedangkan orang tuanya masih berada di luar.


Xilung yang mengerti maksud shen bergegas masuk ke dalam rumahnya, xilung kembali ke ruang tamu membawa peralatan menulis dan menaruhnya di depan shen.


" Untuk apa ini?" tanya shen.


" Lihat saja nanti " sahut xilung yang langsung melukis di depan shen.


Walau tidak tertarik dengan karya seni shen mencoba melihat apa yang akan di tunjukan xuling padanya, dengan begitu akan lebih terlihat sedikit menghargai usahanya.


" Sudah selesai " ucap xilung.


" Apa itu?" tanya shen.


" Ini gambar sebuah tempat, bukannya tadi kamu bilang ingin mencari tempat yang terdapat batu jiwanya " sahut xilung.


" Aku pernah melihat gambar ini dulu, percayalah di tempat ini terdapat banyak batu jiwa "sambung xilung.


" Baiklah terima kasih " ucap shen.


" Tunggu sebentar ini masih belum kering " sahut xilung.


Shen yang mendengar perkataan xilung hanya tersenyum, shen mengeluarkan api sucinya dan membuat gambar lukisan xilung kering dengan sangat cepat.


" Terima kasih aku harus pergi sekarang " ucap shen.


" Tempat itu berbahaya, tapi aku percaya kamu bisa bertahan " sahut xilung.


" Berhati-hatilah " sambung xilung yang langsung memeluk shen.