Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 149


Shen yang berjalan meninggalkan duan dan molpi langsung mencari jalan keluar, walau wilayah suku suci telah memasang susunan bagi shen mencari jalan keluar tanpa menghancurkan susunan itu sendiri tidaklah mustahil.


Shen yang berdiri di perbatasan wilayah suku suci langsung mengeluarkan kedua api sucinya, api suci yang menyala terang di kedua tangan perlahan menyelimuti tubuh shen seakan membakar seluruh tubuhnya.


Hem, sepertinya ini sudah cukup " dalam hati shen.


Shen yang berdiri di perbatasan tanpa berpikir langsung keluar dari wilayah suku suci, puluhan orang yang melihat shen keluar dari dalam wilayah suku suci merasa sangat terkejut.


" Dia bisa menembus susunan ini hebat sekali dia " ucap seorang wanita yang duduk di atas pohon sambil menatap shen.


" Dia bukannya yang bersama ketiga anak itu kenapa dia hanya keluar sendiri " sahut seorang pria yang juga duduk di atas pohon sambil menatap shen.


Shen sekilas menatap ke arah puluhan orang yang sedang duduk di atas pohon, shen sengaja hanya diam dan tidak langsung menyerang.


Brruuuuuug...


Suara lompatan terdengar di dekat shen, shen yang mengetahui seseorang sedang berjalan ke arahnya berpura-pura tidak melihatnya.


" Hee, dimana ketiga temanmu itu?" tanya seorang wanita yang baru saja melompat dari atas pohon.


" Mereka sudah mati, semua yang masuk ke dalam wilayah suku suci telah mati " sahut shen dengan santai.


" Lalu bagaimana kamu masih bisa keluar hidup-hidup?" tanya wanita itu lagi.


" Hanya yang kuat yang bisa bertahan hidup " sahut shen.


" Sebenarnya aku sengaja keluar untuk menemui kalian, aku sarankan kalian mengurungkan niat kalian suku suci bukan sembarang suku yang bisa kalian bantai dengan mudah " sambung shen.


" Tunggu, kamu berbicara seperti itu bukan karena kamu berpihak pada mereka bukan?" tanya wanita itu lagi.


" Chi pertanyaanmu sungguh tidak berguna, jika dia bisa keluar wilayah suku suci hidup-hidup dengan mudah dan menyuruh kita pergi apa kamu masih belum mengerti " sahut seorang pria yang sebelumnya juga berada di atas pohon.


" Apa maksudmu dia berada di pihak musuh " ucap wanita itu lagi.


" Sudah pasti " Sahut pria itu lagi sambil tersenyum.


" Kalau begitu tunggu apa lagi, semua yang sudah berkumpul disini langsung saja habisi dia " teriak wanita itu.


Brruuuuuuuuug...


Brrruuuuuuuuuuug...


Brrruuuuuuuuuuuuug...


Satu persatu yang berada di atas pohon langsung turun dan berjalan ke arah shen.


" Kak chi, jika kami semua maju bukannya terlalu kejam " ucap seorang anak muda sambil tersenyum.


" Aku tidak perduli kejam atau tidak, aku hanya mau melihatnya mati sekarang. Jika kalian tidak bisa atau takut membunuhnya lebih baik kalian pergi saja " teriak wanita itu.


" Tunggu tunggu, sebenarnya aku tidak ingin berkelahi aku hanya memberi saran agar kalian mengurungkan niat kalian saja " ucap shen dengan santai.


" Tunggu apa lagi, habisi saja dia " teriak wanita itu lagi dengan tidak sabar.


" Haaaaah " shen menghela nafas sambil memperhatikan puluhan orang yang masih terus mengelilinginya.


" Kalian yang memaksaku " ucap shen sambil menarik pedangnya.


" Cepat serang dia " teriak wanita itu sambil mengepalkan tangannya.


Puluhan orang yang mengelilingi shen langsung berlari menyerang shen secara bersamaan, shen yang tidak memiliki cara lain terpaksa bersiap mengeluarkan jurusnya.


" Jurus pedang tanpa wujud " teriak shen.


Bruuuuuuuaaaaak...


Bruuuuuuuuuaaaaak...


Bruuuuuuuuuuuaaaaaak...


Satu persatu yang berlari di barisan depan shen terlempar jauh ke belakang, belasan orang yang telempar ke belakang perlahan bangkit berdiri menatap puluhan lainnya yang masih berada di sekitar shen.


Buuuug, buuuug, buuuug...


Suara pukulan demi pukulan terus terdengar .


Shen yang sudah memecah dirinya menjadi puluhan langsung menyerang puluhan orang di depannya.


Dari kejauhan shen menatap wanita dan seorang pria yang meminta puluhan orang itu untuk menyerangnya, tanpa berpikir panjang shen berjalan ke arah kedua orang itu dengan santai.


" Bukannya tidak bagus kalian berdua hanya memperhatikan dari kejauhan sedangkan yang lain sibuk bertarung " ucap shen yang berdiri di depan kedua orang itu.


" Jangan berpikir hanya karena kamu bisa memecah diri kami akan takut padamu " sahut pria di depan shen.


" Kalau begitu mari kita bertarung " ucap shen lagi.


" Kami tidak takut padamu " ucap wanita yang berdiri di depan shen.


Wheeeeeesssssss..


Ayunan pedang yang sangat cepat tiba-tiba mengarah pada shen.


Treeeeeeeeeeengggg...


Shen yang menyadari wanita di depannya mengeluarkan pedang ilusi dan mengayunkan ke arahnya langsung menangkisnya dengan cepat.


" Kamu " ucap wanita itu menghentikan perkataannya.


" Biar aku saja " sahut pria di samping wanita itu dengan sombongnya.


Aku tidak ingin membuang waktu dengannya, satu jurusku saja pasti bisa membunuhnya " dalam hati pria itu sambil tersenyum sendiri.


" Berhati-hatilah pria itu sepertinya tidak ingin bertarung fisik " bisik mo.


" Ya dari perkataannya aku bisa mengambil kesimpulan jika dia akan mengeluarkan jurusnya " sahut shen.


" Biarkan aku merasuki tubuhmu, aku sudah sangat lama tidak bertarung menggunakan tubuhmu " ucap sheng.


" Sepertinya tidak perlu, dia juga bukan lawan yang kuat " sahut shen.


" Sudah kamu tenang saja, jika aku yang bertarung aku akan menyelesaikannya dengan sangat cepat " ucap sheng yang langsung merasuki tubuh shen.


Sheng yang merasuki tubuh shen membuat shen menutup matanya, sisik yang keluar memenuhi tubuh shen membuat kedua orang di depannya merasa sangat terkejut.


" Dia kenapa?" tanya chi pada pria disampingnya.


" Aku tidak tahu, tapi sepertinya kekuatannya sedang melemah coba kamu lihat pecahan dirinya telah menghilang seluruhnya " sahut pria itu.


" Sepertinya dia tidak sesederhana yang kita kira " ucap chi lagi.


" Aku tidak perduli, aku akan menyerangnya sekarang " sahut pria di samping chi.


" Jurus semburan naga api " teriak pria itu sambil membuka mulutnya lebar-lebar.


Whuuuuuuuuuuuuuuuusssss...


Api yang keluar dari dalam mulut pria itu tepat mengenai shen yang masih menutup matanya, sheng yang telah menjadi satu dengan tubuh shen perlahan membuka matanya dan menatap pria yang baru saja menyemburkan api dari mulutnya itu.


" Heeeeh, apimu sama sekali tidak berpengaruh padaku " ucap sheng.


" Kenapa suaranya jadi berbeda " bisik chi ke pria disampingnya.


" Aku juga tidak mengetahuinya jangan bertanya padaku " sahut pria itu sambil bersiap melarikan diri.


" Heh ingin melarikan diri, jangan pernah bermimpi " ucap sheng yang langsung mengeluarkan apinya dari mulut shen.


Whuuuuuuuuuuuuuussssssss...


" Ini jurus apimu ku kembalikan " teriak sheng.


Arrrrrrrrrrrkkkkkkkkkkkhhhhhhh...


Arrrrrrrrrrrrrrkkkkkkkkkkkkkhhhhh...


Pria yang berdiri di samping chi terus berteriak, badannya yang mulai hangus terbakar perlahan membuat suaranya menghilang.


Chi yang melihat sheng masih terus menatap temannya yang terbakar langsung mengambil kesempatan untuk melarikan diri, chi segera berlari mencari puluhan pembunuh bayaran lainnya yang berpencar dengan anggotanya.


" Lihatlah wanita itu melarikan diri " ucap shen.


" Tidak masalah, aku sangat yakin dia akan datang kembali membawa pembunuh bayaran lainnya " sahut sheng.


" Biarkan aku yang melanjutkannya aku tidak lemah " ucap shen lagi.


" Aku tahu kamu tidak lemah tapi aku masih ingin bermain-main, kamu beristirahat saja aku masih harus menyelesaikan yang belum di selesaikan pecahan dirimu " sahut sheng yang langsung berjalan ke arah puluhan orang yang terluka.


Sheng yang tidak ingin membuang waktu bergegas menyelesaikan dengan sangat cepat, puluhan orang yang terluka parah langsung di habisinya tanpa belas kasihan.


Di satu sisi chi yang terus berlari akhirnya menemukan seorang pria yang memimpin pembunuh bayaran lainnya itu, chi dengan nafas yang masih tidak beraturan langsung menghampiri pria itu.


" Ini bukannya chi, pemimpin pembunuh bayaran yang meminta berpencar dengan kami " ucap pria itu sambil tersenyum.


" Jangan bahas itu lagi, guy lo sudah mati " sahut chi.


" Apa, bagaimana bisa adik sepeguruanku mati " ucap pria itu yang merasa sangat terkejut.


Pria yang awalnya merasa tenang setelah mendegar perkataan chi menjadi gelisah dan marah, pria itu masih tidak habis pikir bagaimana bisa adik sepeguruannya mati begitu saja.