Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 210


Shen yang sampai di perguruan darah tanpa banyak berpikir langsung menerobos masuk, sheng yang turun di tengah lapangan perguruan darah membuat seluruh murid merasa sangat terkejut.


" Naga, itu naga asli " ucap para murid yang saling berbisik.


Ketua perguruan darah yang sudah mengetahui kedatangan shen bergegas keluar, dirinya merasa persiapan yang di lakukannya dan putrinya sudah cukup matang untuk menangkap shen hidup-hidup.


" Heeeh, aku bisa menduga kalau kamu pasti akan kembali " ucap pria tua itu sambil tersenyum licik.


" Aku sudah pasti datang, jika tidak kamu akan terjadi menyakiti orang di sekitarku " sahut shen.


" Hahahaha, Hahahaha " pria tua itu yang tertawa sangat keras membuat shen mengernyitkan dahinya.


" Apa yang membuatmu merasa bahagia?" tanya shen.


" Aku bahagia karena kamu akhirnya datang, aku tidak menyangka ternyata mereka lebih penting dari nyawamu sendiri " sahut pria tua itu sambil tersenyum.


" Karena aku sudah datang apa yang akan kamu lakukan, jika kamu memintaku menikahi gladi aku tidak bisa " ucap shen.


" Apa hak mu berbicara seperti itu, kamu sudah berada di genggaman kami dan kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi " sahut gladi yang menghampiri shen menggunakan baju pengantin berwarna merah darah.


" Aku bisa melakukan apapun yang ku mau memangnya apa yang bisa kalian lakukan " ucap shen.


" Hahahaha, apa kamu berpikir kami tidak memiliki persiapan untuk menyambut kedatanganmu, Heeeh, kamu salah besar " sahut gladi sambil terus tertawa.


Sepertinya ada yang tidak beres, sheng ayo kita pergi terlebih dulu untuk mencari tahu apa yang mereka rencanakan " ucap shen yang bertelepati.


" Sheng " panggil shen berulang kali.


" Hahahaha, Sudah ku bilang, hari ini kamu tidak akan bisa berbuat apapun, awalnya aku berpikir untuk menyerap habis darahmu tapi jika di pikir lagi aku sudah jatuh cinta padamu dan aku ingin kamu menjadi milikku selamanya " ucap gladi sambil tertawa sangat keras.


Benar-benar buruk aku tidak mempertimbangkan semua sampai kesini, sekarang sheng tidak sadarkan diri bahkan kekuatanku tidak bisa di keluarkan, apa yang harus ku lakukan" dalam hati shen.


" Sudahlah nikmati saja hari ini, aku mencintaimu dan aku tidak akan menyakitimu, mari kita memulai kehidupan baru kita dan hidup bahagia aku ingin secepatnya memiliki anak darimu " ucap gladi yang tiba-tiba berdiri di depan shen sambil mengelus pipi shen.


" Apa kita bisa memulainya, ayah "ucap gladi.


" Ini masih siang hari, kita setidaknya harus menunggu hingga matahari terbenam " sahut pria tua itu.


" Tapi bukankah itu terlalu lama " ucap gladi.


" Menunggu sebentar jauh lebih baik atau sesuatu yang buruk akan terjadi " sahut pria tua itu.


" Bukannya dia dalam pengawasanmu, dia tidak akan bisa melarikan diri atau jika dia bisa melarikan diri kita langsung saja menyerap habis semua darah orang di sekitarnya " sambung pria tua itu yang tersenyum menatap shen.


Sial, apa mereka mengancamku " dalam hati shen.


" Berapa lama segel aliran hitam yang kamu pasang untuknya bertahan?" tanya gladi.


" Selama tidak ada yang masuk ke dalam perguruan kita dari luar segel itu akan terus bertahan " sahut pria tua itu.


" Tenang saja ini tidak butuh waktu lama, hanya menunggu tiga jam dari sekarang setelah itu dia akan menjadi milikmu " ucap pria tua itu sambil berjalan pergi.


" Dengarkan perintahku, tidak ada murid yang keluar hari ini bahkan yang sudah di luar tidak di perbolehkan masuk " teriak gladi.


" Ayolah sayang ikut denganku " ucap gladi.


Shen yang mendengar perkataan gladi tiba-tiba melangkah sendiri, kaki dan seluruh anggota tubuhnya bergerak dengan sendirinya mengikuti gladi dengan pasrah.


" Sudahlah ikut saja, semua yang kamu lakukan akan sia-sia, bukannya kamu tahu perguruan darah adalah perguruan sesat jurus yang ku pakai itu adalah salah satu jurus yang tidak mungkin bisa kamu lepaskan " ucap gladi yang memperhatikan shen dari kejauhan.


" Setidaknya aku akan berusaha dan terus berusaha " sahut shen.


" Kalau begitu selamat beruasaha, aku menunggumu di kamarku " ucap gladi yang kambali berjalan sambil tersenyum.


Disisi lain ketua xu ling dan yang lainnya terus berjalan tanpa henti, ketua xu ling yang baru menyadari kedua putri kerajaam itu belum tentu bisa bertahan langsung menghentikan langkahnya.


" Kita berhenti sebentar, ku rasa yun lie dan shie tidak butuh istirahat beberapa menit " ucap ketua xu ling.


" Tidak perlu ketua, kami masih sanggup berjalan " sahut putri shie.


" Iya, lagi pula kita tidak tahu apa shen baik-baik saja atau tidak di sana " sambung putri yun lie.


" Baiklah, kalau begitu kita kembali lanjutkan perjalanan jika kalian sudah tidak sanggup jangan di paksa " ucap ketua xu ling.


" Baik ketua " sahut putri shie dan putri yun lie serentak.


Ketua xu ling kembali melanjutkan perjalanannya, go giong yang berjaga di belakang putri shie dan putri yun lie terus berjaga-jaga dirinya tidak ingin terjadi sesuatu pada kedua istri tuannya.


Setelah berlari berjam-jam tanpa henti ketua xu ling dan yang lainnya akhirnya tiba di kota yang sudah tidak jauh dari perguruan darah, hari yang mulai semakin gelap membuat ketua xu ling tiba-tiba merasakan firasat buruk.


" Kita sudah dekat, cepat kita harus segera tiba di perguruan darah " ucap ketua xu ling.


" Baik ketua " sahut semuanya serentak.


Putri shie dan putri yun lie yang berlari di belakang ketua xu ling juga merasakan firasat yang sama, firasat buruk yang menyelimuti mereka seakan menjadi pertanda bahwa shen sedang dalam bahaya.


" Ini perguruan darah, tapi kenapa terlihat sangat tenang, apa shen belum sampai " ucap ketua xu ling.


" Tapi sepertinya itu tidak mungkin, dia menunggangi naga seharusnya dia tiba lebih dulu " sahut go giong.


" Mungkin shen sudah berada di dalam ketua, tapi kenapa dia belum memulai pergerakan atau jangan-jangan dia tertangkap " ucap putri shie.


" Kemungkinan besar seperti itu, kita harus segera masuk ke dalam " sahut ketua xu ling.


Di satu sisi shen yang tidak bisa mengendalikan tubuhnya akhirnya sampai di kamar gladi, gladi yang melihat shen sudah berdiri di depan kamarnya langsung menjulurkan lidahnya ke shen dengan tatapan nakalnya.


" Kemailah " ucap gladi.


Shen yang benar-benar tidak bisa mengendalikan kakinya langsung melangkah mendekati gladi dan duduk di sampingnya, gladi yang senang melihat shen tidak berdaya perlahan mengelus pipinya bibir bahkan leher shen.


" Aku benar-benar tidak sabar, ku harap matahari segera terbenam " ucap gladi yang semakin jadi.


Tangannya yang perlahan membuaka baju shen membuatnya tersenyum sendiri.


" Haaaah, aku harus bersabar sekarang " ucap gladi sambil terus licik melihat baju shen yang terbuka sebagian.