
" Kamu satu satunya yang keluar dari ruangan pembuka jiwa hanya dengan hitungan jam dan aku melihat kamu juga berhasil melewatinya " pria itu menepuk pundak shen.
" Hanya beruntung saja " shen mencoba merendahkan diri.
" Bagus bagus, kalau begitu kamu mau istirahat dulu atau langsung ketingkat tiga?" tanya pria itu.
" Langsung saja " sahut shen.
Pria itu mengantar shen ketingkat tiga dan berhenti di depan pintu sebuah ruangan.
" Ini tingkat tiga, dan ruangan ini bernama ruangan Pengendali pikiran. menurut ku ruangan ini tidak terlalu penting kamu bisa langsung naik saja ketingkat selanjutnya " ucap pria itu.
Shen memperhatikan pria di depannya diam diam, shen merasa pria itu menyembunyikan sesuatu darinya.
" Tidak perlu, aku ingin melewati semua tingkatan di dalam pagoda dewa ini " ucap shen sambil berjalan membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan di depannya.
Cih sombong sekali aku mau lihat sampai mana kamu bisa bertahan. " dalam hati pria itu.
Shen melangkah masuk kedalam ruangan dan tidak menemukan siapa pun selain dirinya disana, shen langsung duduk bersila dan menutup matanya.
" Lepaskan keluarga ku tidak bersalah, aku yang menghianati mu hukum saja aku dan tolong lepaskan keluarga ku " pria paruh baya berlutut di depan seseorang.
Shen yang tiba tiba mendengar suara perlahan membuka matanya.
" Penghianat seperti mu sudah pasti aku akan menghukum mu dengan kematian, tapi semua masalah dan kerugian yang kamu buat tidak cukup kamu bayar dengan nyawa mu sendiri. aku ingin anak dan istri mu yang membayar nya "
" Tuan ku mohon jangan melibatkan istri dan anak ku " pria paruh baya itu berlutut dan mencium kaki seseorang.
Doooorrrrr.... suara tembakan menggema di ruangan itu.
Pria paruh baya yang berlutut tadi terbaring dengan peluru yang tembus di kepalanya.
" Ini peringatan untuk kalian semua, jangan pernah berfikir untuk menghianati ku atau nasib kalian akan sama seperti nya. Aku Shen penguasa seluruh wilayah ini" ucap seorang pria yang berdiri dengan tegak.
Semua anak buah yang berada di depan pria itu langsung berlutut dan menundukan kepalanya.
" Itu aku sebelum aku perjalanan waktu ke dunia ini, bagaimana bisa itu terlihat dengan jelas di sini " Shen masih merasa kebingungan.
" Papa " panggil seorang anak kecil.
" Mengapa kamu membunuh papa ku " anak itu berlari menghampiri shen sambil terus menangis.
" Kesalahan papa mu tidak bisa di maafkan dan hanya bisa di bayar dengan kematiannya " shen berbicara seperti tidak merasa bersalah.
" Kamu pembunuh, kamu penjahat " anak itu memukul shen dengan tangan kecilnya.
Tanpa belas kasihan shen menendang anak itu dan mengambil pistol disampingnya.
Dooorrrr. Dooooorrrr... suara tembakan berbunyi dua kali.
Seorang anak kecil terbaring tidak bernyawa sambil menggenggam tangannya dengan mata yang melotot sangat lebar, sedangkan ibu dari anak itu meninggal di pelukan suami tercintanya.
" Tunggu, tunggu dulu " shen merasa dia tidak pernah menendang anak kecil itu apa lagi sampai membunuhnya.
Waktu itu shen ingin sekali menghabisi seluruh keluarga pria itu, tapi hati kecilnya tidak tega membunuh orang yang tidak bersalah. Shen memutuskan melepaskan istri dan anak pria itu bahkan shen menyekolahkan anak itu hingga tumbuh dewasa.
" Itu tidak benar " teriak shen.
" Kamu pembunuh ,kamu pembunuh " Suara terus menggema di telinga shen.
" Aku pembunuh memang benar tapi aku tidak pernah membunuh wanita itu dan anaknya " Shen menutup telinganya.
" Kembalikan kehidupan keluarga ku, kembalikan "
Shen masih menutup telinganya dan berpura pura tidak mendengarnya.
" kamu harus membayarnya dengan nyawa mu. kamu harus bunuh diri, kamu harus bunuh diri "
Seberapa kuat shen menutup telinga nya, tetap saja suara itu terdengar dengan kerasnya.
Shen menutup matanya dan tiba tiba shen mengingat ketua xu ling yang bersusah payah membuka segel spiritual dan dia belum membalas budinya, dan shen juga mengingat di luar gerbang chiktan masih menunggunya untuk kembali.
Shen membuka matanya dan melepas tangan dari telinganya.
" Aku tidak penah membunuh mu dan ibu mu, atas dasar apa kamu menginginkan kematian ku. semua yang terjadi itu masa lalu yang sudah berbeda dengan dunia ku yang sekarang.
Aku tidak tahu kamu siapa, yang harus kamu tahu tidak semudah itu kamu menginginkan nyawa ku " teriak shen dengan suara lantang.