
Yi lieng yang senang mendengar perkataan kakeknya langsung menarik tangan shen dan membawanya ke sebuah kamar, Yi lieng bermaksud meminta shen beristirahat semalam sebelum masuk ke ruang nirwana karena yi lieng tahu kalau shen pasti sangat kelelahan.
" Besok aku akan mengantar mu, untuk sementara kamu bisa beristirahat di sini " ucap yi lieng.
" Ya, terima kasih " ucap shen sambil tersenyum.
Yi lieng bergegas pergi keluar dari kamar shen, tidak tahu kenapa jantungnya berdetak sangat cepat.
Walau sudah berhasil mendapat izin shen masih merasa sangat kesepian, shen sangat berharap mo dan sheng segera pulih kembali.
Shen yang tidak tahu harus berbuat apa langsung membaringkan tubuhnya, rasa lelah dan kantuk tiba tiba menyelimutinya dan tanpa sadar shen pun tertidur dengan pulas.
Tap, tap, tap...
Suara langkah kaki membangunkan shen dari tidurnya, Walaupun sudah terbangun shen masih menutup matanya seolah masih tertidur.
" Sebenarnya aku tidak tahu apa yang istimewah dari mu, kenapa kamu bisa dekat dengan yi lieng bahkan sampai dapat izin dari kakeknya untuk memasuki ruang nirwana. Aku tahu pelatihan mu masih di bawah ku jadi jika kamu mati sekarang anggap saja malam ini malam kesialan mu " ucap seorang pria yang berdiri di samping shen.
" Selamat tinggal " ucap pria itu lagi sambil bersiap mengarahkan pedangnya ke dada shen.
Trennnnng...
Shen yang melihat pria di sampingnya mengarahkan pedang ke tubuhnya langsung menarik pedang yang berada di sampingnya dan menangkis pedang pria itu.
" Aku tidak mengenal mu, kenapa kamu ingin membunuh ku " ucap shen sambil berdiri.
" Apa pentingnya aku memberitahu orang yang akan segera mati " Sahut pria itu yang kembali mengarahkan pedangnya ke arah shen.
Treng, treng, treng...
Shen menangkis serangan pedang pria itu dengan sangat mudah, Pria itu semakin merasa kesal melihat shen karena bisa menagkis serangan pedangnya.
" Kamu jangan senang dulu, aku masih belum mengeluarkan jurus pedang pamungkas ku " ucap pria itu yang langsung berlari keluar.
Shen yang melihat pria itu berlari keluar bergegas mengejarnya.
Shen menghentikan langkahnya sambil memperhatikan pria yang berdiri tidak jauh darinya.
" Pedang neraka pembantai " teriak pria itu sambil mengayunkan pedangnya ke arah shen.
Duuuuuuuuuuaaaaaaarrrrrrrr....
Suara ledakan dari serangan pria itu terdengar sangat keras.
Shen yang sudah memakai dua jurus pelindungnya hanya terlempar ke belakang tanpa luka sedikit pun.
" Hahaha, aku tahu pelatihan mu kalah dari ku. semoga kamu tenang di neraka " ucap pria itu sambil terus tertawa
Shen yang mendengar perkataan pria itu hanya tersenyum sambil kembali berdiri dan berjalan menghampiri pria itu.
" Sudah ku katakan aku tidak mengenalmu dan kamu masih menyerang ku, walau serangan mu tidak berpengaruh pada ku tapi harga diri ku akan hancur jika aku tidak membalas mu " ucap shen sambil bersiap mengayunkan pedangnya.
Ayah nya yi lieng yang mendengar suara ledakan bergegas menghampiri asal suara itu, sampai di sana ayah nya lieng melihat shen yang bersiap menyerang salah satu muridnya.
" Tunggu " ucap ayah nya yi lieng menghentikan.
" Ketua dia ingin menghabisi ku " ucap pria itu yang langsung berlari ke arah ayah nya yi lieng.
" Anak muda ku harap kamu melepaskan nya, dia murid perguruan Diyu zi biarkan saja aku yang akan menghukumnya " ucap ayah yi lieng.
" Tapi ketua dia ingin membunuh ku, kenapa aku yang mendapatkan hukuman " sahut pria itu.
" Apa kamu berpikir aku bodoh tidak mengerti apa yang terjadi " ucap ayah yi lieng.
" Karena ketua yang meminta aku akan melepaskan nya, tapi aku berharap dia tidak mencari masalah dengan ku, walau dia murid perguruan Diyu zi aku tidak akan segan membunuhnya " ucap shen sambil berjalan kembali ke kamarnya.
Sial, ku kira perguruan ini tempat yang aman bagi ku. siapa sangka masih ada saja yang membenci ku " dalam hati shen.
Shen yang merasa tidak tenang memutuskan untuk tidak kembali tidur, shen menunggu pagi hari sambil terus meningkatkan aura nadinya.
Suara ketukan pintu kamar membuat shen terganggu, shen bergegas berdiri dan membuka pintu kamarnya.
" Ayah ku ingin berbicara padamu " ucap yi lieng.
" Baiklah " ucap shen sambil berjalan mengikuti yi lieng dari belakang.
Shen mengikuti yi lieng yang berjalan menuju sebuah ruangan, tanpa berbicara ayah yi lieng menatap shen yang berjalan di belakang putrinya.
" Karena kamu sudah mendapat izin dari kakeknya yi lieng aku dengan berat hati membiarkan mu masuk ke dalam ruang nirwana, Sebelum kamu memasuki ruang nirwana kamu harus tahu tiga larangan yang tidak boleh kamu lakukan " ucap ayah yi lieng dengan serius.
" Larangan pertama apapun yang kamu dengar di dalam ruang nirwana itu kamu tidak boleh menjawab nya, larangan yang kedua di dalam ruang nirwana terdapat beberapa kitab peninggalan leluhur keluarga yi yang tidak boleh kamu sentuh, untuk larangan yang terakhir kamu hanya perlu menjauhi sebuah cermin yang berada di dalam ruang nirwana itu " sambung ayah yi lieng.
" Baik apapun larangan nya aku tidak akan melanggarnya " ucap shen sambil menganggukkan kepalanya.
" Yi lieng antar dia ke depan ruang nirwana, setelah kamu mengantarnya cepatlah pergi " ucap ayah yi lieng.
" Baik ayah " ucap yi lieng.
Shen yang melihat yi lieng pergi meninggalkan ruangan bergegas mengikutinya dari belakang, Yi lieng mulai menaiki tangga demi tangga dan berhenti di depan sebuah ruangan.
" Ini ruang nirwana, aku harus segera pergi sekarang " ucap yi lieng sambil berjalan meninggalkan shen.
Shen hanya diam sambil memperhatikan yi lieng yang berjalan menjauh meninggalkannya, Shen mulai menatap pintu ruangan yang berwarna hitam di depannya, tanpa banyak berpikir shen langsung membuka pintu ruangan itu.
Shen yang sudah membuka pintu ruangan bergegas masuk ke dalam, Shen terdiam sambil memperhatikan sekeliling ruangan.
Shen melihat beberapa rak berisi kitab tersusun rapi, shen juga melihat sebuah cermin yang tidak boleh di dekatinya.
Shen yang teringat akan tujuan nya langsung duduk bersila sambil menghela nafas, shen mengeluarkan ketiga kitab yang di berikan ketua xu long in untuknya.
Shen menaruh ketiga kitab pemberian ketua xu long in di depan nya dan mulai membaca tulisan yang berada di sampul kitab itu.
* Jurus Pemecah Diri
* Jurus Dewa Bumi
* Jurus Pembaca Pikiran
Shen yang sudah membaca ketiga nama jurus di depannya mulai memilih salah satu kitab jurus yang akan dia kuasai terlebih dulu.
Shen mengambil kitab pemecah diri dan menaruhnya di pangkuannya, tanpa banyak berpikir shen menyimpan kembali kedua kitab jurus di depannya dan memasukannya ke dalam kotak ruang nya.