
Shen yang tersadar perlahan membuka matanya, rasa sakit yang menusuk membuat shen tak mampu bangkit dari tempat tidur.
Shen perlahan mencoba duduk di tepi tempat tidur untuk memulihkan tenaga dalamnya, shen yang menutup kedua matanya tiba tiba merasa sesuatu yang sangat dingin mengalir di dalam tubuhnya.
Tidak butuh waktu lama hawa dingin di dalam badan shen terus mengalir dan menyebar dengan sangat cepat, shen yang merasa tubuhnya telah kembali normal langsung membuka matanya dan mencoba menggerakkan seluruh badannya yang tidak lagi terasa sakit.
Akhirnya keadaan ku jauh lebih baik, untung saja aku sempat mengambil alih tubuh ku kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan di lakukan sheng " dalam hati shen.
" Heh, masih baik aku membantumu coba saja jika aku tidak merasuki tubuhmu mungkin kamu sudah mati sekarang " sahut sheng.
" Aku berterima kasih kamu sudah membantu ku, tapi bukan berarti kamu bebas menghancurkan kerajaan ini " ucap shen dengan suara pelan.
" Ya ya ya, aku tahu kamu pasti tidak ingin melihat gadis mu itu membencimu karena aku menghancurkan kerajaan ayahnya " sahut sheng.
" Bukannya begitu " ucap shen.
" Akhirnya kamu sadar juga " ucap putri shie yang membuat shen terkejut.
" Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya shen.
" Tidak lama hanya dua hari, oh ya aku minta maaf atas apa yang sudah di lakukan nenek ku padamu nenek ku sudah mengakui kesalahannya " sahut putri shie.
" Tidak masalah " ucap shen.
" Apa kamu sudah bisa bangkit berdiri, jika sudah ayahanda ku ingin menemuimu " sahut putri shie.
" Ya " jawab shen yang langsung turun dari tempat tidurnya.
Putri shie yang melihat shen turun dari tempat tidurnya bergegas menggenggam tangan shen dan langsung menariknya, putri shie membawa shen memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya sudah ada beberapa orang yang sedang menunggu shen.
" Aku tidak menyangka kamu pulih begitu cepat " ucap yang mulia raja.
" Hanya kebetulan saja " ucap shen.
" Tidak perlu terlalu banyak omong kosong, cepat katakan apa saja yang kamu inginkan " sahut nenek putri shie.
" Masih sama seperti sebelumnya aku ingin pria itu " ucap shen.
" Apa hanya itu saja?" tanya nenek putri shie.
" Aku tidak berani meminta lebih banyak " sahut shen.
" Kalau begitu aku akan memberikan mu cucuku, jaga dia aku tahu dia sangat mencintaimu " ucap nenek putri shie.
" Terima kasih tapi seorang tuan putri sekaligus panglima perang bagaimana bisa bersama ku, aku hanya murid perguruan biasa yang tidak memiliki apa apa. Aku tidak bisa terlalu lama di kerajaan ini terima kasih sudah memberiku tempat tinggal untuk beberapa hari ini " sahut shen.
" Kalau begitu baiklah, berhati hatilah di jalan jika kamu memang jodoh putri ku kamu tetap akan bersamanya di lain waktu " sahut yang mulia raja.
" Terima kasih yang mulia raja kalau begitu aku pamit undur diri " ucap shen sambil menundukan kepalanya.
Putri shie yang melihat shen akan pergi meninggalkannya langsung berlari ke arah shen dan memeluknya dari belakang.
" Tunggu aku, aku pasti akan menemuimu lagi nantinya " ucap putri shie yang masih memeluk shen.
Sang nenek yang melihat cucunya memeluk seorang pria di depannya hanya bisa menutup matanya, untung saja di ruangan itu hanya ada beberapa orang yang masih anggota keluarga kerajaannya.
" Maaf putri shie ini tidak baik, yang mulia raja sedang memperhatikan kita " sahut shen.
" Kalau begitu tunggu aku, aku berjanji jika kita bertemu nantinya aku akan menyerahkan diriku padamu " bisik putri shie yang langsung melepaskan pelukannya.
shen yang mendengar perkataan putri shie hanya bisa menelan ludah dan melanjutkan langkahnya.
Bagaimana bisa seorang tuan putri memiliki pikiran seperti itu " dalam hati shen.
" Sepertinya masalah percintaanmu akan berakhir baik nantinya " sahut mo.
" Mo jangan menghina ku " ucap shen.
" Tuan terima kasih telah melepaskan ku dari kerajaan " ucap go giong yang berjalan di belakang shen.
" Sudah sangat lama, waktu itu aku masih berusia sembilan tahun " sahut go giong.
" Sekarang berapa umurmu? " tanya shen lagi.
" Dua puluh lima " jawab go giong.
" Selama enam belas tahun menjadi budak petarung, apa kamu tidak pernah berpikir untuk pergi dari kerajaan " sahut shen.
" Walaupun aku berhasil pergi dari kerajaan, kemana aku bisa menetap tanda budak yang berada di leherku membuat ku menjadi sampah bagi warga di manapun aku berada " ucap go giong.
" Sungguh menyedihkan nasibmu, kalau begitu apa kamu mau ikut dengan ku di perguruan langit biru mungkin tidak ada yang menganggapmu sampah " sahut shen.
" Tentu saja aku mau " ucap go giong dengan cepat.
Shen yang terus berjalan tanpa sadar mulai kelelahan, tubuhnya yang belum pulih sepenuhnya tidak mampu jika terus di paksa melanjutkan perjalanan.
" Go giong kita akan beristirahat untuk semalam, tubuhku masih belum pulih sepenuhnya " ucap shen.
" Aku akan menuruti apa yang tuan katakan " sahut go giong.
" Tidak perlu memanggilku tuan panggil saja aku shen " ucap shen.
" Baik " sahut gi giong.
Shen yang menemukan sebuah penginapan yang cocok langsung memesan satu kamar, shen sengaja memesan satu kamar agar bisa mengawasi apa yang akan di lakukan go giong.
Shen yang melihat dari awal go giong mengikutinya tidak membawa goloknya merasa sedikit heran.
" Di mana golokmu, kenapa aku tidak melihat kamu membawanya?" tanya shen sambil merebahkan badannya.
" Aku tidak membawanya, golok itu pemberian yang mulia sebagai tanda aku mengabdi pada kerajaan karena aku sudah keluar dari kerajaan aku tidak mungkin membawanya " sahut go giong.
" Jadi sekarang apa yang menjadi senjata mu?" tanya shen.
" Tidak ada" sahut go giong.
" Bukannya di dalam kotak ruang mu banyak memiliki senjata kenapa tidak kamu keluarkan beberapa agar dia memilihnya sendiri " bisik mo.
" Hemm, benar juga apa yang kamu bilang mo sehebat apapun orang tanpa senjata pasti akan terlihat lemah " sahut shen.
Shen mengambil kotak ruangnya dan membukanya di depan go giong, go giong yang melihat shen memiliki kotak ruang merasa cukup terkejut.
" Ternyata tuan memiliki kotak ruang tiga dimensi " ucap go giong.
" Pemberian orang saja, oh ya karena kamu tidak memiliki senjata kamu pilih saja senjata yang kamu suka " ucap shen.
" Benarkah tuan " ucap go giong yang masih tidak percaya.
Go giong yang melihat puluhan senjata berada di depannya merasa sangat terkejut, selama ini go giong hanya berpikir golok adalah satu satunya senjata di dunia ini.
" Tuan benarkah aku boleh memilihnya " ucap go giong.
" Tentu saja " sahut shen sambil tersenyum.
Go giong yang merasa sangat senang langsung duduk dan memilih senjata mana yang sangat cocok untuknya, go giong yang melihat sebuah pedang berlapis emas merasa sangat tertarik tapi go giong berpikir apakah dia bisa menggunakan pedang itu.
" Jika kamu suka ambil saja " ucap shen yang melihat go giong terus menatap sebuah pedang.
" Tapi tuan aku belum pernah menggunakan pedang " sahut go giong.
" Tidak masalah nanti kita bisa berlatih bersama " ucap shen.
" Baiklah go giong ambil pedang ini saja " sahut go giong yang langsung memegang pedangnya.
" Kalau begitu aku akan simpan yang lainnya " ucap shen.
Go giong yang sibuk memperhatikan pedangnya tidak menjawab perkataan shen, shen langsung terdiam melihat go giong yang sibuk sendiri tanpa banyak bicara lagi shen memasukan kembali senjata lainnya ke dalam kotak ruangnya.