Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 145


Duan yang melihat shen bersandar di bawah pohon tidak jauh darinya tiba-tiba tersenyum sendiri, duan mengira jika shen sedang kelelahan sama sepertinya dan itu menandakan kekuatan shen tidak lebih hebat dari dirinya.


Hemmmm, Apa mungkin kekuatannya sama seperti ku jika benar maka itu sangat bagus, aku tidak perlu khawatir jika dia menyerang saat rencanaku sudah di ketahuinya karena kekuatannya sama dengan ku yui dan molpi akan mambantuku kami akan mengalahkannya dengan mudah " dalam hati duan.


" Ayo kita pergi jangan membuang waktu lagi" ucap yui yang berdiri di depan duan.


" Apa kamu tidak melihat shen yang sedang beristirahat, sepertinya dia sangat kelelahan " sahut duan sambil tersenyum.


" Aku akan membangunkan dia " ucap yui yang langsung berjalan ke arah shen.


Shen yang mendengar pembicaraan duan dan yui hanya tersenyum kecil sambil berpura-pura tertidur pulas.


" Shen bangun kita harus pergi sekarang " ucap yui sambil menggoyangkan tangan shen.


" Oh sudah mau berangkat, maaf aku tertidur " sahut shen yang berusaha berdiri.


" Sudahlah ayo kita berangkat " ucap molpi yang langsung berjalan meninggalkan shen dan yui.


Shen dan yui yang berjalan di belakang duan dan molpi sesekali bertanya kepada yui.


" Kalian bertiga masih sangat muda kenapa kalian memilih menjadi pembunuh bayaran?" tanya shen.


" Alasan yang pertama karena memang kami suka dan untuk alasan yang kedua sebenarnya demi membalas dendam " sahut yui.


" Membalas dendam kepada siapa?" tanya shen lagi.


" Ini menjadi rahasia kami bertiga " sahut yui.


" Yui kalau kamu berjalan lambat seperti itu kita bisa tidak kebagian apapun, berhalan3 cepatlah sedikit " teriak molpi sambil terus berjalan.


" Ayo kita susul mereka, jika kita terlambat dan tidak mendapatkan apa-apa itu akan merugikan kita " ucap yui yang langsung berlari ke arah duan dan molpi.


Shen yang melihat ketiganya berlari meninggalkannya sendiri memutuskan tidak terburu-buru menyusul mereka, shen curiga dari awal sebenarnya ada sesuatu yang di rencanakan ketiga anak muda itu untuk mencelakai dirinya.


Shen yang berjalan santai tiba-tiba melihat duan molpi dan yui dari kejauhan, ketiga anak muda itu seperti sedang menunggu sesuatu dengan sangat cemas.


" Kenapa kalian berdiri di sini?" tanya shen yang berjalan menghampiri ketiganya.


" Aduh kamu berjalan sangat lambat, coba kamu lihat di sekitar sini sudah banyak pembunuh bayaran lainnya " ucap molpi.


" Sudah tidak masalah, oh ya shen kamu coba masuk ke dalam wilayah suku suci itu jika ada sesuatu yang mencurigakan kamu segera memberitahukannya pada kami " sahut duan.


" Baiklah " ucap shen yang langsung pergi meninggalkan duan molpi dan yui.


" Sudah ku bilang bukan dia itu sangat bodoh" ucap duan sambil terus memperhatikan shen yang berjalan menjauh.


" Dia tidak hanya bodoh tapi juga lemah, sepertinya dia tidak akan kembali hidup-hidup " sahut molpi yang langsung tersenyum.


" Tapi menurutku dia tidak selemah yang kita pikirkan, aku malah berpikir sebenarnya dia jauh lebih kuat dari kita " ucap yui.


" Halah, itu karena kamu sebenarnya tidak tega melihatnya mati bukan. Yui kamu harus ingat di dunia ini tidak ada orang baik semuanya orang jahat, jadi jangan pernah berbelas kasih pada siapapun " sahut duan.


Di sisi lain shen yang memasuki wilayah suku suci langsung di sambut dengan anak panah berapi, anak panah berapi yang turun dari langit seperti hujan membuat shen langsung menggunakan kedua jurus pelindungnya.


" Musuh datang tangkap dia " teriak suara dari balik pepohanan.


" Tangkap musuh yang ingin memusnahkan suku kita " teriak yang lainnya.


Tap, tap, tap...


Tap, tap, tap, tap...


Langkah kaki yang terdengar dari seluruh arah membuat shen menjadi sangat waspada.


" Jika kamu ingin menyelamatkan mereka lebih baik kamu tidak melawan " ucap sheng.


" Bagaimana jika mereka langsung membunuhku di tempat " sahut shen.


" Itu tidak mungkin percaya padaku " ucap sheng.


" Baiklah kali ini aku percaya padamu " sahut shen sambil menatap puluhan orang yang mengepungnya.


" Bunuh saja dia, bunuh " teriak seseorang yang berdiri di barisan paling depan.


Shen hanya diam melihat tangannya yang di ikat tali dengan sangat erat, puluhan orang yang berjalan di depan dan di belakangnya sesekali melempari shen dengan batu.


Tidak butuh waktu lama dua orang yang menarik shen sepanjang perjalanan menghentikan langkahnya, shen yang dari awal hanya menundukkan kepalanya langsung mengangkat kepalanya menatap ketua suku suci yang berdiri tidak jauh darinya.


" Kalian salah menangkap orang " ucap shen.


" Ketua langsung bunuh saja dia " teriak para warga suku suci


" Tenang, kita akan mendengarkan sedikit penjelasan darinya sebelum memutuskan untuk memberinya hukuman " sahut ketua suku suci sambil mengangkat tangannya.


" Katakanlah, apa tujuanmu datang kemari?" tanya ketua suku suci sambil menatap shen.


" Aku hanya ingin memberitahu seluruh wilayah suku suci telah di kepung, daripada kalian bersusah-payah mengurusi ku lebih baik kalian melakukan sesuatu " ucap shen.


" Hahahahaha, ternyata penjelasannya hanya omong kosong kalau begitu langsung saja aku memutuskan untuk menghukum matinya " teriak ketua suku suci sambil terus tertawa.


" Setuju " sahut para warga suky suci lainnnya.


Shen yang tidak berhasil meyakinkan ketua suku suci hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Ketua, gawat ketua " teriak seorang pria yang berlari dari arah selatan wilayah suku suci.


" Ada masalah apa putra ku " sahut ketua suku suci yang langsung menggenggam tangan pria yang baru datang itu.


" Bagian selatan di serang hampir semua yang berada di bagian itu mati di bunuh " ucap pria itu lagi.


" Ini tidak bisa di maafkan cepat aktifkan susunan, agar mereka yang berada di luar wilayah kita tidak bisa masuk dan mereka yang berada di wilayah kita tidak lagi bisa keluar " sahut ketua suku suci yang terlihat sangat marah.


Shen yang merasa tidak di perhatikan langsung melepaskan ikatan di tangannya dan berjalan ke arah ketua suku suci yang terlihat marah besar.


" Bukannya baru saja aku memberitahu ketua, hanya saja ketua tidak mempercayaiku " ucap shen.


" Kamu berasal dari luar wilayah kami untuk apa kami mempercayaimu " sahut ketua suku suci.


" Itu dia ketuanya, lebih baik kita habisi dulu ketuanya baru kita habisi warga lainnya " teriak duan yang di ikuti puluhan orang di belakangnya.


" Serahkan di sini padaku, ketua bawa warga lainnya bersembunyi dan utamakan gadis muda kalian bersembunyi di tempat paling aman " ucap shen.


Ketua suku suci menatap shen seakan tidak yakin apa yang di katakan shen, walau begitu demi warga dan keturunan suku suci lainnya ketua suku suci membawa wargannya pergi meninggalkan shen sendirian.


" Bodoh, kenapa kamu membiarkan mereka pergi " teriak molpi sambil menatap shen.


" Memangnya kenapa?" tanya shen.


" Sudah tidak perlu banyak bicara lagi kita kejar saja mereka " sahut duan.


" Aku tidak akan membiarkan kalian mengejar mereka, apalagi sampai menghabisi mereka semua " ucap shen.


" Hahahahaha, memangnya apa yang kamu bisa untuk melawan kami. Kekuatamu yang hanya setara denganku tidak akan bisa menghentikan apalagi melawan kami " sahut duan sambil terus tertawa.


" Siapa yang bilang aku setara dengan mu " ucap shen yang langsung mengeluarkan aura membunuhnya.


" Haah, ini tidak mungkin bagaimana bisa dia memiliki aura membunuh yang begitu kuat " ucap duan.


" Sudah aku bilang dari awal kalian tidak mempercayaiku " sahut yui.


" Tidak perlu takut, kita puluhan dan dia hanya sendiri kita pasti menang melawannya. Serang dia " teriak duan.


Shen yang mendengar perkataan duan hanya tersenyum sambil menarik pedangnya, pedang shen yang terlihat menyala terang membuat duan dan molpi merasa terkejut.


" Majulah, akan ku ajarkan pada kalian bagaimana cara membunuh yang benar " teriak shen.


" Kalau begitu biar aku saja, aku sudah berada di tingkat jendral tahap akhir aku pasti bisa membunuhnya dengan sangat mudah " teriak seorang pria sambil berlari ke arah shen.


" Hanya di tingkat jendral, sepertinya sangat kejam jika aku harus menggunakan pedang " ucap shen.


Buuuuuug, buuuuuuuug, buuuuuuuuug...


Pukulan bertubi-tubi dari pria yang menyerang shen membuat shen tersenyum sendiri, jujur saja pukulan dari pria itu tidak berpengaruh padanya sama sekali karena dari awal shen sudah menggunakan kedua jurus pelindungnya.