Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Kambuh nya Trauma Nayla



🐇🐇🐇


Bu Dian mendatangi kamar Putra semata wayang nya untuk membahas sesuatu mengenai perebutan hak asuh Alwi, yang di yakini cucu kandung nya.


" Nak, maafkan Ibu. Tapi kalau boleh Ibu saranin tolong jangan rebut Alwi dari Nayla. Tidak baik bagi ke jiwaan anak itu, kalau harus di pisah kan dari Ibu kandung nya yang merawat nya selama ini secara tiba tiba. " Usul Bu Dian.


Asrul menatap sang Ibu dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Kenapa Bu, apa Ibu tidak senang aku mempunyai anak. Apa Ibu juga tidak ingin merawat Alwi di sini ?. " Tanya Asrul


" Tidak apa- apa Bu, kalau memang itu maksud Ibu . Setelah memenangkan hak asuh nya, aku yang akan pergi dari sini. " Ucap Asrul dengan nada kecewa karena ternyata sang Ibu tidak mendukung usaha nya.


Bu Dian terkejut mendengar ucapan anak nya tersebut, bukan maksud nya seperti itu. Bu Dian hanya tidak ingin kekerasan dan itu akan berakibat hal yang tidak baik untuk cucu nya.


" Bukan begitu Nak. Kalau kamu bertanya apa Ibu senang kalau kamu punya anak, tentu saja Ibu senang, apalagi anak itu dari Nayla. Dan tentu saja Ibu juga mau merawat Alwi disini. Tapi bukan begini cara nya, memisahkan nya dari Ibu kandung nya bukan lah jalan terbaik. " Jelas Bu Dian.


Asrul mendengarkan semua yang di katakan sang Ibu, namun hati nya yang memang sudah di penuhi ambisi untuk memiliki anak nya seutuh nya, lagi - lagi mengalahkan logika nya.


" Lalu apa Ibu punya cara yang lebih baik, agar kita bisa mendapatkan hak asuh Alwi sepenuh nya. Kalau Ibu punya cara nya dan itu manjur maka baiklah, akan aku pertimbangkan. "


Bu Dian nampak berpikir keras bagaimana cara menyampaikan maksud nya agar bisa di Terima oleh anak nya itu tanpa salah faham.


" Begini Nak, bagaimana kalau kamu membujuk Nayla agar dia mau rujuk kembali. Bukankah kalian belum cerai secara sah, karena surat yang di kirim pengadilan sampai saat ini belum kamu tanda tangani. Itu arti nya menurut hukum kalian masih suami Istri, hanya menurut agama beda lagi. Maka nya kalian rujuk lagi, dan menikah lagi secara agama, atau apalah. Ibu juga kurang faham. Pokok nya maksud Ibu, kamu bujuk dia agar mau kembali sama kamu lagi dan kalian bisa merawat Alwi bersama sama. " Saran Bu Dian.


Di balik pintu sejak tadi Siska mengepalkan tangan nya, mendengar perkataan Bu Dian.


" Apa maksud Ibu menyatukan Mas Asrul dan juga wanita itu kembali. Ibu tahu kalau Mas Asrul sekarang masih Sah suami ku. Ibu bagaimana sich, menantu Ibu itu aku bukan wanita itu. "


Siska tidak Terima dengan ucapan Bu Dian akhir nya Ia mengutarakan isi hati nya dengan suara yang sedikit meninggi. Hal itu membuat Asrul meradang.


" Cukup Siska... ! bicara yang sopan, dia ini Ibu ku dan termasuk Ibu mu juga. Apa kamu tidak bisa bicara baik - baik pada Ibu. " Bentak Asrul


" Tapi Ibu kamu dulu yang mulai, kenapa dia menyarankan kamu balikan dengan wanita itu, sementara aku masih sah jadi Istri kamu. " Protes Siska masih dengan nada yang sama.


Bu Dian merasa tidak enak hati, gara gara ucapan nya yang menyarankan anak nya untuk rujuk. Sekarang malah membuat anak dan menantu nya yang lain berselisih faham.


" Sudah cukup, tidak perlu ribut. Biar Ibu yang keluar, maaf kan Ibu kalau Ibu menyarankan kamu yang kurang baik. Tapi jujur Ibu tidak punya maksud tertentu, Ibu hanya mengingin kan kebaikan anak itu. Kalau begitu Ibu pamit, Assalamu'alaikum.....!. " Pamit Bu Dian.


Bu Dian keluar dari kamar anak dan menantu nya dengan membawa rasa bersalah di hati nya.


Hingga malam hari perdebatan kedua suami Istri itu tidak juga menemukan titik terang. Andai saja Asrul tidak memikirkan tentang syarat yang di ajukan pengacara nya, mungkin sudah ada tanda titik di atas koma di antara mereka.


" Kamu lihat Siska, lihat dirimu..... kesalahan mu bahkan lebih besar dari pada yang kamu bilang wanita itu. Jadi malas aku ada di kamar ini, aku mau tidur di bawah saja. "


" Tapi Mas......! kenapa harus tidur di bawah. Baiklah, aku janji akan berbuat baik. Aku juga akan minta maaf pada Ibu, bukan hanya itu. Aku juga akan mendukung kamu mendapatkan anak..... anak kita. " Ucap Siska terpaksa mengatakan anak kita.


Namun seberapa kuat pun Siska berwajah manis dalam membujuk Asrul, tetap saja rayuan nya tidak mempan. Asrul tetap melangkah ke bawah dan tidur di kamar kosong yang pernah di tempati Nayla dulu.


Hingga larut malam Asrul tidak dapat memejam kan mata nya. Biasa nya dia tidur di tempat yang nyaman, empuk dan ber AC. Sekarang malah tidur di kamar yang nampak bagai gudang.


Ingin rasa nya Ia naik ke atas, namun gengsi nya terlalu tinggi. Jam 2 malam Asrul baru bisa tertidur, karena mata nya memang sudah tidak kuat menahan kantuk nya.


*


*


*


*


*


Sudah 2 hari berlalu Nayla tidak masuk kerja, tangan nya yang bekas terluka belum bisa di gunakan untuk bekerja. Setiap saat Ia selalu terngiang akan ucapan Asrul yang akan membawa hak asuh putra nya ke jalur hukum, membuat trauma nya kambuh.


Ia sering ketakutan dan bicara tidak jelas, membuat Kamila dan juga Andre khawatir. Karena selama 6 tahun berlalu, mereka lah yang tahu bagaimana derita Nayla mengandung bahkan melahirkan Alwi.


Pagi ini Bu Dian sudah siap bepergian dengan pakaian yang rapi dan sopan. Bermodal alamat yang Ia dapat dari Asrul, Bu Dian ingin mengunjungi cucu menantu nya itu. Di temani sang sopir pribadi, mobil melaju dengan kecepatan normal hingga tiba di sebuah perumahan yang nampak asri.


Bu Dian turun dan memastikan alamat yang dia tuju adalah benar.


" Seperti nya benar. " Gumam Bu Dian.


Tok~ tok ~ tok ! pintu di ketuk Bu Dian perlahan.


Kamila yang sedang menemani Nayla terkejut mendengar bunyi ketukan pintu berulang kali.


Kamila segera berlari membukakan pintu karena mengira yang datang adalah Andre, ternyata setelah pintu terbuka Ia terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu.


" Maaf, anda siapa dan mencari siapa ?. " Tanya Kamila.


" Aku Bu Dian, Ibu mertua Nayla, Oma dari Alwi. " Jawab Bu Dian sembari tersenyum manis.


Perkataan Bu Dian sampai ke telinga Nayla, membuat Ia terkejut.


" Ibu.....! Ibu kesini pasti mau mengambil Alwi, tidak..... aku tidak akan memberikan nya pada siapa pun. " Batin Nayla.


" Untuk apa Ibu kemari. " Tanya Nayla dengan suara berat dan pandangan yang kurang bersahabat.


" Nayla...... Nak ! benarkah ini kamu.....?. " Bu Dian histeris berlari hendak memeluk menantu nya itu, namun Nayla mundur beberapa langkah.


" Kamila, usir orang ini.....! dia pasti kemari mau membawa Alwi bersama nya seperti anak nya yang tidak tahu diri itu......! Aku tidak akan sudi memberikan Alwi pada mereka, apa hak kalian. Cepat pergi dari sini........ PERGI.............!. " Teriak Nayla histeris.


Kamila menjadi sangat ketakutan, Ia sudah sering melihat kondisi kakak nya seperti ini sebelum nya beberapa tahun yang lalu. Setelah sekian lama menghilang hal ini terjadi lagi.


" Pasti trauma kakak kambuh lagi, kalau di paksakan ini tidak baik. Lebih baik wanita ini Mila suruh pulang saja sebelum tambah parah. " Batin Kamila.


" Mila, usir orang ini........ cepat.........!. " Kembali Nayla berteriak histeris membuat Kamila terpaksa bertindak.


" Maaf Bu, sebaik nya Ibu pulang saja, saya tidak mau nanti terjadi keributan serta sesuatu yang tidak di inginkan. " Usir Kamila halus.


Bu Dian yang sedari tadi nampak bingung melihat kondisi Nayla akhir nya menurut saja dengan apa yang di katakan Kamila.


" Baiklah Nak, Ibu pulang dulu. Jaga diri baik - baik dan juga cucu Ibu. " Pesan Bu Dian sembari melangkah pergi.


" Tutup pintu nya Kamila.... jangan biarkan siapa pun masuk. " Pinta Nayla.


*


*


*


*


Sepanjang perjalanan pulang Bu Dian masing di liputi kebingungan dengan tingkah Nayla yang berbeda, tidak seperti dulu. Seperti sangat ketakutan berlebih, apa selama ini dia merasa tertekan atau memang ada sesuatu yang sudah terjadi dengan nya.


" Tidak, itu tidak mungkin. Apa mungkin dia..... "


Bu Dian menyangkal pikiran buruk nya kalau menantunya itu terkena gangguan mental.


🌹🌹🌹


Happy bahagia readers tercinta, mohon dukungan like and rate nya ya. Mohon untuk komenan di kondisikan.


Bagi Author lain yang Promo disini, mohon untuk like bab karya Author. Jangan hanya like satu bab terus komen minta like balik. Mohon maaf Author pasti mampir balik kesemua karya yang sudah dukung karya ini. Bukan maksa tapi alangkah lebih baik kita saling mendukung sesama.


Jangan lupa juga untuk mampir ke karya Author yang kedua, dan tetap sama. Author mohon dukungan nya, like, rate yang gratis. Untuk gift seikhlasnya saja.


Makasih 🙏🙏🙏 LOVE YOU ALL READERS ❤