Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Makan Demi Ibu


Bu Dian dan yang lain nya meninggalkan kamar Asrul dan kembali dengan aktifitas masing- masing. Bu Dian kembali ke kamar nya dan mulai menghubungi seseorang.


Asrul menatap makanan yang tersedia di meja, walau perut nya lapar tapi memang tidak ada rasa ingin makan.


Pukul 13.00 waktu Author, Pukul 0.7 waktu Jerman


Baik Nayla maupun Kamila sudah siap dengan aktifitas mereka begitu juga dengan Alwi yang bersekolah tidak jauh dari tempat mereka tinggal.


Pak Burhan memang memilih menyekolahkan kedua Putri nya di tempat yang jauh, namun beliau tidak memaksakan kedua Putri nya harus mengmbil jurusan yang beliau inginkan. Mereka bebas memilih apa yang mereka sukai.


Pak Burhan punya rencana di balik itu, tanpa harus menempuh pendidikan seperti sekarang pun mereka tetap akan menjadi pemilik semua harta warisan dari Burhanudin Abdullah.


Nayla yang menyukai kuliner Ia lebih memilih mendalami studi kuliner agar bisnis Ayah nya nanti dapat berkembang di bawah Pimpinan nya.


Berbeda dengan Kamila dia menyerahkan semua nya pada sang Ayah, jadi apa pun yang di inginkan Ayah nya itulah yang Ia pilih.


" Bagaimana Kak, apa Pria itu masih terus mengganggu Kakak. Apa kita beritahukan Ayah, Mas Andre atau Mas Reihan saja, kita tidak bisa terus berdiam diri saja Kak, aku takut nanti dia berbuat yang tidak- tidak pada Kakak.......! " Kamila mengutarakan pendapat nya.


Ya ada seorang Pria selama enam bulan ini, yang terus mengejar Nayla bahkan sejak pertama kali melihat nya. Ia penasaran karena melihat penampilan Nayla yang berbeda dengan penampilan wanita lain nya. Sudah berulang kali Ia mengutarakan perasaan nya namun Nayla selalu menolak nya secara halus.


" Tidak apa- apa Mila, lagi pula dia tidak berbuat macam- macam yang mengganggu Kakak. Untuk sekarang biarkan saja dulu, jangan sampai kamu beritahukan Mas Andre nanti kalau dia tiba disini. Kakak takut Mas Andre akan membuat keributan kalau tahu hal ini "


Ponsel Kamila berdering, mood nya tiba- tiba berubah buruk ketika melihat siapa yang menghubungi nya. Nayla tersenyum, Ia tahu apa yang mengakibatkan mood adik nya berubah drastis.


" Kenapa Mila, Dokter itu lagi. "


Kamila mengangguk malas


" Angkat saja, katakan apa yang ingin kamu katakan. Kalau kamu diam saja, dia akan terus menghubungi kamu " Nasihat Nayla.


Sebenarnya Nayla menyetujui adik nya bersama Dokter Pandu, karena Dokter itu memang terkenal sangat baik, namun Ia juga tidak ingin memaksakan kehendak nya pada adik nya. Ia tidak ingin masa lalu yang menimpa dirinya terjadi pada adik nya juga.


Ia hanya berharap siapa pun yang menjadi pilihan Kamila kedepan nya itu yang terbaik.


Kamila menyambungkan panggilan telpon dengan malas.


" Iya, Assalamu'alaikum "


" Waalaikum salam "


Pandu sangat- sangat bahagia, akhir nya setelah berbulan- bulan menghubungi gadis pujaan nya akhir nya berbuah manis.


" Bagaimana kabarmu disana Kamila " Hanya itu pertanyaan yang muncul di pikiran Dokter itu.


Sebelum nya Ia sudah merangkai banyak kata, namun ketika mendengar suara Kamila mendadak semua yang ada di benak Dokter Pandu buyar seketika. Rasa percaya diri nya hilang entah kemana.


" Aku baik- baik saja Mas "


Ingin rasa nya Kamila memaki melalui telpon tapi di urungkan nya karena sejak tadi Kakak nya mengawasi nya dan terus tersenyum dari jarak jauh.


" Alhamdulillah kalau kamu baik- baik saja disana, aku hanya sedikit menghawatirkan mu "


" Ish kenapa menghawatirkan ku, Dokter aneh kurang kerjaan "


" Kenapa Mas Pandu menghawatirkan ku, apa Mas Pandu akan menghawatirkan semua pasien Mas Pandu "


Pertanyaan Kamila membuat Pandu bingung untuk menjawab.


" Bukan begitu Mila, dengarlah tidak semua yang menjadi pasien ku aku khawatirkan. Maaf ya, aku menghawatirkan mu karena kamu memang berbeda dengan yang lain nya " Jawab Dokter Pandu.


Kamila terkejut dan ada rasa sedikit tidak terima karena dirinya di katakan berbeda dengan yang lain nya, berarti dirinya pasien terparah.


" Apa maksud Mas Pandu dengan aku berbeda dari yang lain nya, apa karena kondisi ku lebih parah dari yang lain nya "


Pandu mengelus dada nya serta mengusap rambut nya, bukan seperti itu maksudnya.


" Sudah Mas, kalau tidak ada lagi yang mau di bicarakan aku tutup dulu "


" Baiklah aku akan katakan, tapi aku minta kamu jangan marah ya. Aku menghawatirkan mu karena kamu memang sangat berarti untukku. Bukan sebagai pasien, tapi kamu...... kamu adalah wanita yang sangat spesial untukku. "


Kamila menatap Kakak nya yang sejak tadi selalu saja ingin tahu apa yang di bicarakan adik nya.


" Maaf Mas, aku tutup dulu ada tugas penting yang harus aku kerjakan, Assalamu'alaikum......! "


Kamila langsung memutuskan sepihak panggilan telpon nya. Sebenar nya ada rasa senang dihati nya namun sebisa nya Ia menyembunyikan nya dari Kakak nya itu.


" Apa kata nya Mila, cerita dong sama Kakak " Goda Nayla


" Sejak kapan Kakak kepo dengan urusan orang lain, biasa nya juga Kakak melarangku untuk mencari tahu urusan orang lain ".


" Sejak sekarang dan seterusnya " Jawab Nayla spontan.


" Hm..... " Nayla mengkode dengan menaik turunkan alis nya.


" Tidak ada apa- apa Kak, Mas Pandu hanya menanyakan kabar kita disini. Karena tidak ada kabar sama sekali makanya Mas Pandu nelpon " Jawab Kamila.


" Oh.... Kita atau Kamu saja Dek " Lagi lagi Nayla menggoda adik nya itu.


" Kita Kak, ish Kakak ada ada saja "


Kamila berhasil tersipu malu. Begitulah mereka hidup disana, dengan empat orang asisten rumah tangga Nayla, Kamila dan juga Alwi hidup dengan damai.


Setiap hari sepulang sekolah Alwi selalu di ajak ke rumah Bu Ningsih, untuk menemani Bu Ningsih. Semenjak kehadiran Alwi Bu Ningsih jadi tidak terlalu repot mengurus cucu kesayangan nya yang sering berbuat ulah. Semenjak kehadiran Alwi, Anggel berubah jadi lebih baik. Kalau bukan Alwi yang di ajak ke rumah Bu Ningsih maka Bu Ningsih dan juga Anggel yang datang mengunjungi rumah Nayla.


Rumah tidak pernah sepi setiap hari dengan canda tawa, semua berbanding terbalik dengan yang sedang Asrul rasakan.


Setiap hari hidup nya hanya di temani pekerjaaan dan juga penyesalan. Menyesali sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa kembali.


*


*


*


" Aku tidak bisa egois seprti ini, dan membuat Ibu tidak makan sama sepertiku. Aku tidak mau karena kesalahan yang aku buat, aku jadi melukai orang lain lagi.


Asrul membawa makanan yang berada di atas meja menuju kamar Ibu nya. Ia mengetuk pintu, tidak lama kemudian pintu pun di buka dari dalam.


" Bu..... Ayo kita makan. Ibu tidak boleh tidak makan, aku khawatir nanti Ibu sakit. "


Asrul mengambil piring kosong dan mengambilkan nasi serta lauk untuk Ibu nya.


" Aaaaa.....!


Bu Dian enggan membuka mulut karena Asrul belum juga makan.


" Ayolah Bu, kita makan ya.....! aku dan juga Ibu, kita makan Sama-sama ya. "


Bu Dian tetap tidak bergeming walau sudah di bujuk.


" Lihat aku Bu, aku juga makan. "


Asrul mengambil nasi dan juga lauk dan menyuapkan nya kemulut nya sendiri.


" Coba lihat Bu, aku juga makan kan. Ayo sekarang Ibu lagi yang makan "


Bu Dian mengambil piring kosong lagi dan makan bersama Asrul, Asrul bisa menarik nafas lega ketika Ibu nya makan dari piring nya sendiri.


Demi sang Ibu Asrul akhir nya menghabiskan makanan yang ada di piring nya, Ia tidak tega kalau harus Ibu nya ikutan menanggung kesalahan nya.


🎊🎊🎊