
Dira menuruni anak tangga sambil terus komat kamit, Ia merasa sangat kesal karena hasilnya tidak sesuai dengan rencananya. Beberapa pasang mata melihat ke arahnya dan masing masing berbisik bisik satu sama lain.
" Apa lihat lihat, tidak pernah lihat orang lagi kesel ya " Bentak Dira.
Karyawan yang di bentak pun sontak diam namun mereka sesungguhnya tertawa dalam hati karena merasa senang.
" Lihat tuh calon Nyonya baru, mimpi nya ketinggian " Cibir nya dan beberapa yang lain ikut tertawa.
Dira menghentikan langkahnya dan berbalik.
" Apa kamu bilang, heh.... jangan irih ya, kalian itu selama nya akan menjadi bawahan dan jika nanti aku sudah menjadi Nyonya pemilik perusahaan ini aku akan membuat kalian angkat kaki dari tempat ini. Aku tidak mau melihat wajah wajah susah seperti kalian ini "
Dira memang selalu merendahkan orang lain sehingga banyak di antara para pegawai yang tidak menyukainya.
" Sudah aku banyak urusan, berlama lama disini aku bisa ketularan kalian " Cibir nya lagi sambil berlenggok pergi.
Seorang karyawan yang memang sering bermasalah dengannya ingin sekali membuat perhitungan dengannya namun selalu di tahan oleh rekan kerjanya.
" Sudah sudah Rik, biarkan saja. Tahan emosimu, ingat ini bulan puasa. " Ucap rekannya.
" Tapi Dilla, kalau kita terus menerus membiarkan dirinya seperti itu tanpa adanya pembelaan dia akan semena mena pada kita "
" Sudahlah, biarkan saja. Biarkan dia bersama mimpinya itu, nanti ada waktunya Ia sadar. Kalau kita membalasnya, lalu apa beda nya kita dengannya. Yang masih waras mengalah saja ya " Bujuknya lagi.
***
Berapa kali Andre melihat jam di pergelangan tangannya dan melirik Alya yang nampak diam Ia pun menjadi gelisah. Tidak lama kemudian pintu pun di ketuk dan Dira pun masuk setelah di persilahkan.
" Ini seragamnya "
Dira melempar begitu saja seragam yang Ia bawa membuat Andre geleng geleng kepala.
" Tiga puluh menit lewat empat puluh lima detik, kamu dari mana Dira. Apa kamu ketiduran "
Dira terkejut mendengar ucapan Andre.
" Tiga menit saja cukup bahkan lebih, apa kamu mencari seragam itu di pasar sehingga butuh waktu yang lama " Tanya nya lagi
Dira semakin gelabakan, Ia bingung harus menjawab apa. Memang Ia sengaja menunda nunda untuk memberi pelajaran pada Alya ternyata malah dirinya yang berada dalam masalah.
" Maaf Pak, tadi saya tiba tiba sakit perut dan..... Bapak pasti tahu kelanjutannya tanpa harus saya jelaskan " Jawab Dira.
Hanya itu alasan yang muncul di benaknya saat ini, Ia berharap alasan nya masuk akal dan tidak membuat dirinya semakin dalam masalah.
" Ya sudah, kembali bekerja. Lain kali jangan di ulangi lagi "
Dira membungkukkan sedikit badannya dan pamit pergi meninggalkan Alya dan juga Andre yang masih ada di dalam.
" Masuklah keruangan itu dan segera ganti pakaianmu " Perintah Andre.
Alya melangkah menuju ruangan yang di tunjukkan Andre, Ia lebih dulu memandang sekeliling. Kali ini Ia harus waspada, Ia tidak mau hal yang memalukan terulang lagi. Setelah dirasa aman Ia pun mengambil selembar handuk yang ada disana dan berganti seragam.
" Alhamdulillah ya Allah seragam ini lebih layak "
Ia memandang dirinya di depan cermin dan bersyukur.
" Tapi setelah ini aku harus apa, aku bahkan sangat malu bertemu dengannya. Apa aku pamit pulang saja dan mencari pekerjaan di tempat lain, sepertinya tempat ini tidak cocok untukku, belum lagi wanita itu. Sepertinya dia tidak menyukai keberadaan ku disini " Gam Alya.
Andre terpesona melihat penampilan Alya ketika Ia keluar dari ruangan ganti, gaya malu malu Alya justru semakin membuat nya nampak menggoda.
Andre menjadi salah tingkah ketika mata keduanya bertemu, ada debaran aneh yang Ia rasakan. Berbanding terbalik dengan Alya, dirinya malah semakin malu.
" Maaf Pak sepertinya saya tidak bisa bekerja disini, tempat ini tidak cocok untuk saya. Terima kasih untuk segalanya, dan maaf untuk semua kekacauan ini, saya pamit pergi "
Alya menunduk dan mulai melangkahkan kakinya.
" Tunggu....... ! "
Alya menghentikan langkahnya
" Untuk seragam ini nanti aku kembalikan tapi bukan sekarang. Maaf Pak, saya harus pergi " Ucap Alya.
Andre nampak bingung sesaat melihat sikap Alya, tiba tiba Ia pun menarik nafas panjang seolah meyakini sesuatu.
" *Mungkin hanya ini jalan satu satunya untuk mu Ndre " Batin Andre*.
" Mona....... ! "
Bak bunyi petir menggelegar Alya sontak menghentikan langkahnya ketika mendengar nama Tante nya di sebut.
" Mona itu Tante mu kan, dia sudah menjual mu padaku. Tante mu yang serakah itu sudah mengambil sejumlah uang dan kamu sebagai jaminannya "
Kaget, marah, kecewa semua bercampur jadi satu. Ia diam tidak tahu harus berbuat apa, rasanya dunia nya tidak ada tujuan dan tidak ada artinya.
" Kenapa.... ? Apa kamu tidak percaya padaku. Kalau kamu tidak percaya kamu bisa pulang sekarang dan tanyakan langsung padanya. "
... " Tante......! Tega sekali Tante melakukan ini padaku " Batinnya ingin menjerit. ...
" Sekarang semuanya tergantung padamu, kamu mau tetap bekerja disini dan melupakan semua yang sudah terjadi atau kamu bisa pulang sekarang. Aku dengan senang hati akan mengantarkan mu di tempat kerja yang Tante mu itu tawarkan dan sepertinya itu pekerjaan yang kamu mau kan "
***