
Erik duduk di kursi santai ketika Bibi datang menghampirinya.
" Nak Erik kenapa tidak pulang kerumah saja, kenapa masih betah bekerja di tempat lain. Apa dia wanita yang Nak Erik maksud selama ini " Tanya Bibi lembut dan Erik membalas dengan anggukan.
" Untuk pulang nanti saja Bi, susah payah aku mencarinya dan akhirnya menemukannya. Aku hanya ingin menunaikan janjiku pada Om Mario lebih dulu "
Bibi tersenyum menepuk pundak Erik, sejak Erik kecil Bi marni yang mengasuh Erik hingga besar, bahkan ketika sakit Bibi yang merawatnya sampai bela belain tidak tidur semalaman. Bi Marni juga menolak lamaran beberapa Pria yang ingin menikahinya, makanya sampai usia menginjak kepala empat Bi Marni masih bujang ting ting.
" Tapi Nak, apa tidak kasihan sama Ayahnya dirumah, pasti beliau ingin Nak Erik ada disana. Lagipula kan lebih baik menjalankan usaha sendiri di bandingkan memajukan usaha orang lain. "
Erik menarik nafas berat, sebenarnya bukan hanya karena hutang janjinya pada seseorang membuatnya enggan pulang tapi keberadaan Nenek lampir yang ingin menguasai dan menjadi ratu di keluarga besarnya itulah yang membuatnya malas pulang, membayangkan wajah Ibu tirinya saja sudah membuatnya muak.
" Tidak apa apa Bi, soal Ayah nanti aku bisa temui di kantor kalau ada waktu senggang. Tapi Bi, aku minta Bibi jangan mengatakan pada Alya siapa aku sebenarnya, biarlah Ia tahu kalau aku pegawai Resto sama sepertinya, biar sama sama nyaman "
Bi Marni mengangguk mengerti.
***
Dira marah marah tak jelas, sudah tiga bulan berlalu Ia nampak frustasi karena gagal menjadi Nyonya besar. Kini kehamilannya sudah menginjak lima bulan, perutnya juga sudah mulai nampak membuatnya menjadi bahan gunjingan para tetangga, hamil tanpa suami begitulah hujatan para tetangga.
" Ah dasar anak pembawa sial, kenapa kau tidak mati saja, belum lahir saja kau sudah menyusahkan ku " Dira berulang kali memukul mukul perutnya.
Berulang kali Ia mencoba menggugurkan janinnya itu tapi sayang hasilnya nihil, aneh bin ajaib bukan janinnya yang gugur tapi dirinya yang hampir saja kehilangan nyawa.
" Aduh Mbak Dira jangan gitu Mbak, kasihan bayinya "
Inur bingung harus bagaimana, satu satunya cara hanya menghubungi seseorang untuk minta bantuan. Dengan lincah Inur mengirim pesan singkat serta foto keadaan Dira.
Romi buru buru berlari menuju ke mobilnya, bahkan pamit sambil pada Asrul sambil berlari, pikirannya kacau dan juga gelisah. Mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh tanpa rasa takut sedikit pun.
" Mana dia In " Tanya Romi sambil berlari kecil.
" Di atas Pak, di kamarnya " Jawab Inur, PRT yang sengaja di berikan bonus lebih untuk mengurus Dira, melaporkan apa saja yang terjadi pada wanita hamil itu.
Romi yakin kalau anak di dalam rahim Dira itu adalah anaknya, terbukti dari cara Dira menolak untuk tes DNA, dia takut kalau akan terbukti benar.
Dira memalingkan wajahnya dan semakin memuncak amarahnya.
" Eh gembel, tahu apa kamu tentang hidup dan untuk apa kau terus saja mengganggu ku, mengurus hidupku. Urus saja hidupmu itu, pikirkan mau makan apalagi besok, atau jangan jangan kau akan kelaparan karena tidak punya sesuatu untuk dimakan "
Romi hanya tersenyum mendengar hinaan Dira, mungkin telinga nya sudah kebal mendengar hinaan Dira.
" Setidaknya aku masih menghargai hidup bukan mengakhirinya. Kalau kau tidak ingin merawatnya nanti paling tidak bertahanlah sampai Ia lahir, selanjutnya biar aku yang urus. " Bujuk Romi
Dira memandang penampilan Romi dan tiba tiba tertawa.
" Eh dari mana kau dapat pakaian seperti ini, mimpi ya jadi orang kantoran. Hello ini masih siang, apa kau tidur sambil jalan ya " Dira semakin mencibir melihat penampilan Romi.
Iya Romi langsung berlari ke rumah Dira ketika mendapat kabar tanpa sempat berganti seragam, itulah sebabnya Dira mentertawakan nya.
" Iya aku tadi sedang tidur pas sadar sudah disini, tapi satu yang pasti jangan gugurkan bayi itu biarkan Ia lahir kedunia dan aku yang merawatnya "
Senyum terbit di bibir Dira nampaknya Ia mendapatkan ide.
..." Lumayan juga, anak ini juga tidak mau mati padahal sudah ku gugurkan. Dari pada aku yang mati lebih baik aku lahirkan saja, toh ada yang ingin mengurusnya, aku bisa cari suami orang kaya lagi. " Batinnya....
" Eh kamu pikir hamil ini tidak butuh biaya, melahirkan pun butuh biaya. Sepuluh juta, ya hanya sepuluh juta rupiah tiap bulan, apa kau sanggup memberikan nya untukku "
Dia tertawa kecil
" Dia pikir ini lelucon kali, jangankan sepuluh juta seratus ribu sehari saja mungkin tidak Ia dapatkan. Buang buang waktuku saja "
" Baiklah, deal sepuluh juta tiap bulan. Kamu akan dapatkan uang sepuluh juta itu dan juga bonus dua juta untuk perawatan ke salon " Sengaja Romi melebihkan dan menyebutkan perawatan agar Dira tidak frustasi lagi dan ingin membunuh janinnya.
Dira melongo mendengar permintaan nya di sanggupi Romi bahkan ada bonusnya lagi. Dasar aslinya mata duitan, di pancing duit dikit langsung luluh.
" Oke, dua belas juta perbulan. Kau yang menyanggupi nya, kalau sampai kau telat memberikan nya padaku jangan harap bisa melihat janin ini keluar dengan hidup hidup " Ancam Dira.
Ia begitu senang bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan uang