
Erik membawa adik bungsunya untuk keluar dan minta maaf namun Donita tidak mau, bukan nya malu tapi dia masih tidak menyangka orang yang dia katain tua selama ini akan jadi bagian dari mereka.
" Pantas saja Mbak Rena nampak sedih belakangan ini, punya calon tua, di jodohkan lagi. Eh bukan di jodohkan, tapi Pria tua itu yang genit, nggak sadar diri "
Donita menunjuk nunjuk dirinya yang ada di pantulan cermin seakan sedang memarahi Pria yang di anggap nya menolak tua.
Pembicaraan di ruang tengah nampak menegangkan, Renata sejak tadi hanya menundukkan wajahnya tidak mampu berucap apa apa.
Sedangkan Andre yang semakin kehilangan kepercayaan nya karena tragedi kecil sebelum nya sama menunduk. Semua yang sudah Ia persiapkan begitu sempurna hilang begitu saja. Baik penampilan bahkan kata kata manis kini Ia hanya memasrahkan semuanya.
" Kalau saya tetap pada pembicaraan awal, semua keputusan ada di tangan Putri saya. Kalau dia berkenan maka saya akan menyetujuinya, tapi jika ternyata sebaliknya saya juga tidak bisa memaksanya. " Jawaban yang keluar dari mulut Hendrik
Mereka mengalihkan pandangannya pada Renata yang masih setia menunduk.
" Rena sayang, bagaimana menurutmu tentang ini, apa kamu mau menerima nya atau ~
" Rena terima Tante " Jawab Rena mantap.
Jawaban yang tidak pernah di duga semuanya yang ada disana, Hendrik langsung menatap Putri nya, Ia meragukan jawaban Rena.
Erik yang baru turun dari lantai atas namun masih sempat mendengar jawaban Rena akhirnya tersenyum senang, melihat itu Hendrik mulai merasa ada yang tidak beres.
Burhan, Rossa dan juga Andre sangat bersyukur mendengar jawaban Renata, Rossa langsung memeluk tubuh Renata dengan penuh haru.
" Makasih sayang, makasih karena kamu sudah mau menjadi bagian dari keluarga kami, makasih karena kamu mau jadi anak Ibu. Ibu, Ayah dan Andre serta yang lainnya akan segera mempersiapkan semuanya secepatnya "
Nampak terlihat raut bahagia di wajah Rossa, Renata langsung pamit setelah memberi jawaban, biarlah mereka yang mengurys semuanya.
" Rena ke kamar dulu ya Tan, Om, Pa "
Rena menatap sekilas pada sosok Andre yang nampak kacau namun raut kebahagiaan di wajahnya tidak bisa Ia sembunyikan.
Mereka mulai membicarakan kelanjutan hari baik selepas kepergian Renata, Hendrik menyerahkan semuanya pada keluarga Andre, Ia hanya meminta Andre untuk melakukan yang terbaik untuk Putrinya.
Tentu sebagai seorang Ayah, Hendrik hanya menginginkan kebahagiaan untuk Putrinya, semua harta bisa Ia berikan untuk Putrinya namun kebahagiaan belum tentu bisa Ia berikan.
Andre berjanji akan memberikan yang terbaik seperti yang Hendrik inginkan.
" Saya tidak perlu janji anak muda, tapi buktikan kalau kamu itu serius. Saya juga pernah muda dulu dan saya sangat menjunjung tinggi kesetiaan dan martabat seseorang wanita. Kelak kalau kalian bersama, saya hanya minta kamu bahagiakan dia. Kembalikan dia pada kami kalau kamu sudah tidak ingin bersamanya, jangan pernah menyakiti apalagi menduakan nya apapun alasannya " Hendrik mengucapkan dengan penuh penekanan.
Andre manggut-manggut sementara Burhan merasa ini seperti tamparan buatnya, Rossa mengelus pelan belakang suaminya. Meskipun Ia juga setuju dengan apa yang di katakan Hendrik, namun untuk masalah itu Ia sudah bisa melupakan nya. Baginya perbuatan suaminya dulu hanyalah masa lalu asalkan tidak di ulangi lagi.
...----------------...
Burhan diam saja di dalam mobil, Rossa yang melihat itu berinisiatif menghibur nya.
" Mas "
Rossa menarik lengan suaminya, mengelus punggung tangannya perlahan agar suaminya itu merasa sedikit tenang.
" Masih ingat masalah tadi ya Mas "
Burhan mengangguk kecil dengan raut wajah sedih.
" Maaf "
" Sudah sayang, lupakan itu Mas. Bukankah Mas sudah membuktikan kalau Mas sudah berubah selama ini. Yang penting kan Mas tidak berkeinginan untuk mengulanginya lagi " Suasana kembali hening
" Masa iya, dia calon kakak ipar, yang benar saja. Mungkin saja umurnya sudah empat puluhan tahun, ih amit amit. "Donita bergidik ngeri.
Ia melangkah ke kamar Renata dan beruntung pintu kamar itu tidak di kunci.
" Mbak Renata, boleh Nita masuk "
Renata menghela nafas berat, ada ada saja tingkah adiknya itu. Sudah ada di dalam kamar baru minta ijin.
" Kamu minta ijin masuk kemana anak kecil, ini sudah ada di dalam. Orang itu ijin lagi di luar pintu "
" oh gitu ya Mbak, kalau begitu Nita keluar lagi nih, baru ijin masuk begitu kan Mbak "
Rena menepuk jidatnya pelan melihat kelakuan adiknya.
" Tidak perlu, kalau kamu keluar lagi Mbak akan kunci pintunya biar kamu tidak bisa masuk "
Donita segera berbalik arah
" Jangan dong Mbak, aku masih ingin berbicara dengan Mbak "
Meskipun tingkah adiknya suka aneh tapi tidak bisa menutupi fakta kalau Rena sangat menyayangi adik perempuan nya itu.
" Mau ngomongin apa hm "
" I~ itu Mbak, mau ngomongin si ~
" Si siapa Nita " Kening Rena berkerut.
" Mau ngomongin ~ ah susahnya ~ Mbak, ngapain sih Mbak mau menikah sama si Pria menolak tua itu, apa Mbak menyukainya atau dia dan keluarga nya memaksa Mbak sampai sampai Mbak Renata menyetujui lamaran ini "
Sebenarnya tidak ada niat di hati Rena untuk menerima lamaran keluarga Andre, rasa sakit dan trauma di hatinya belum bisa hilang sampai saat ini. Namun Ia juga tidak bisa menolaknya karena sesuatu hal.
" Tidak ada yang memaksa Mbak Rena, Nita. Hanya saja mungkin sudah waktunya Mbak menikah, dan mungkin juga ' Dia ' Pria yang jadi takdir hidup Mbak "
Donita menggeleng pelan, otak kecilnya tidak bisa menerima itu semua.
" Mbak, ini bukan alasan yang masuk akal. Umur Mbak baru dua puluh tiga tahun sedangkan Dia mungkin sudah empat puluh tahun. Pikirkan lagi deh Mbak "
Nita menghitung hitung jarinya sendiri sembari membayangkan ketika Pria yang di sebutnya tua itu berumur enam puluhan pasti sudah nampak tua sedangkan Renata masih muda.
" Apa kamu tidak setuju, apa kamu tidak ingin melihat Mbak bahagia "
" Oh tidak Mbak, tentu saja Nita ingin Mbak bahagia " Donita menjawab dengan sangat cepat.
Rena tersenyum melihat sikap spontan Adiknya.
" Ya sudah Nit, kalau begitu lalu apa lagi yang perlu di permasahkan "
Donita tidak bisa lagi berkata kata, hanya berharap pilihan kakak perempuan nya itu adalah pilihan terbaik. Ia meninggalkan kamar Renata
" Maafkan Mbak Nita, yang kamu pikirkan itu juga yang Mbak pikirkan tapi Mbak nggak bisa menolaknya karena Mbak sudah berjanji " Gumam Rena
Perkara ucapan Renata di masa lalu yang menjadi bumerang untuknya dan terpaksa harus Ia terima.