Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Numpang Kamar Mandi


Alya berlari keluar dengan cepat, Ia tidak ingin kejadian tadi terulang lagi. Hingga Ia tiba di kantin mencari keberadaan Erik, dari kejauhan Alya melihat Erik melambaikan tangan padanya dan Ia pun melangkah mendekat.


" Duduk Al " Erik mempersilahkan Alya untuk duduk.


" Al you oke ? " Tanya Erik yang melihat wajah Alya pucat.


" Hm aku baik baik saja Mas " Jawab Alya.


" Benar baik baik saja, tapi kenapa wajahmu pucat " Tanya Erik lagi.


Alya mengangguk membenarkan tentang kondisinya.


" Mas, aku baik baik saja, hanya saja aku sangat lapar, tadi perutku sakit makanya buru buru aku kemari " Jawab Alya memberi alasan.


Andre tertawa kecil, Ia merasa lucu melihat wajah Alya. Alasan yang di berikan Alya memang masuk akal.


" Ya sudah buruan pesan, kalau lama lama aku takut kamu nanti pingsan. Kalau kamu pingsan aku yang untung " Goda Erik


Alya akhirnya memesan makan siangnya mengabaikan ucapan Erik yang baginya konyol.


Makan siang bersama adalah suatu yang membahagiakan bagi Erik, bukan tanpa alasan.


Lagi lagi kebersamaan mereka tidak di sukai oleh seseorang.


POV ANDRE


Setelah terbangun dari mimpi buruk aku memutuskan untuk bertemu dengan wanita yang sesungguhnya aku cintai, wanita yang sudah menduduki separuh hatiku. Aku bergegas mengendarai mobilku membelah ibu kota berharap bisa memperbaiki hubunganku tapi sayang tujuan baikku hancur karena kehadiran seseorang.


" Brengsek, kenapa mereka begitu dekat bahkan nampak sangat mesra "


Aku mengikuti mereka sampai di kantor adikku mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengannya. Menunggunya membuatku melupakan sarapan pagi bahkan makan siang, perutku yang mulai konser pun tak ku hiraukan, hingga aku mendapatkan kesempatan menyusup ke ruang kerjanya.


Aku mendekat padanya yang mengira kedatanganku adalah kedatangan Pria brengsek itu, Ia baru sadar kalau itu aku setelah aku lama terdiam.


Ah, aku benar benar frustasi, niat awal ku ingin memperbaiki hubungan ku dengannya gagal. Melihat bibir manisnya rasanya nafsuku sudah sampai di ubun ubun, ingin rasanya aku ******* bibir manis itu meresapi nya dalam, bahkan junior ku di bawah sana sudah meronta ingin keluar, tidak bisa di ajak kompromi lagi. Aku membenci diriku sendiri yang tak dapat menahan hasrat ku setiap kali memandangnya.


Akhirnya aku menarik diriku darinya dan pergi meninggalkan ruangan itu mencari tempat dimana aku bisa menenangkan diri, meredam hasrat di dalam tubuhku yang bergejolak.


Aku sempat melihatnya berlari keluar dengan tampak ketakutan, aku sadar telah membuatnya ketakutan, tapi aku juga tidak bisa mengendalikan diriku setiap berjumpa dengannya.


Dari atas aku melihatnya bertemu dengan Pria itu, ah lagi lagi Pria itu, Pria yang selalu menghalangi aku untuk dekat dengannya.


Di bawah guyuran shower akhirnya aku mendinginkan tubuh dan otakku, entah sudah berapa lama. Niat awalnya hanya sebentar ternyata tidak sesuai kenyataan, aku sampai menghabiskan banyak waktu disana menenangkan junior yang masih terus berontak dan masih setia menjulang tinggi.


***


Asrul kembali dari makan siang, Ia terkejut mendengar gemericik air di dalam kamar mandi miliknya. Tidak lama kemudian Ia melihat kakak Iparnya keluar dari sana.


" Mas Andre, ngapain Mas di kamar mandi " Tanya Asrul heran.


Andre pun nampak terkejut, Ia berharap Asrul tidak mencurigai apa yang Ia lakukan di dalam sana.


" Ah Rul, tidak apa apa, aku tadi hanya gerah saja dan numpang mandi disini, apa tidak boleh atau apa kamu keberatan " Andre balik bertanya.


" Oh gerah ya, bukan karena tak kuat menahan sesuatu begitu. Soalnya tadi ada yang pedekate sepertinya "


Andre menjadi salah tingkah, apa Asrul mengetahui apa yang di kerjakan nya di dalam sana.


" Ya gerah, aku juga tadi terlalu lama menahan ingin BAB makanya aku lari kemari numpang kamar mandi "


Asrul masih belum percaya dengan alasan yang di ungkapan Andre karena gerak geriknya yang sangat mencurigakan.


" Ah sudahlah Rul, aku pulang dulu. Oh ya, itu berkasnya yang kamu pesan, aku taruh di meja yang warna biru "


Andre melenggang pergi, Ia tidak ingin berlama lama di ruangan itu dan membuat Asrul mencurigai nya. Ia takut tidak mampu mengendalikan diri dan rahasianya terbongkar.