
Oma Laurent terus mendesak Hendra dengan berbagai pertanyaan, namun sikap Hendra seakan biasa saja. Ia bahkan tidak nampak merasa bersalah sama sekali.
..." Untuk apa aku merasa bersalah, ini semua karena kesalahan kalian, kesalahan Pria serakah itu. Dia selalu membanding bandingkan anaknya, seolah aku ini bukan anak kandungnya "Ucap Hendra berapi api....
Suaranya tidak kalah nyaring dari sang Ibu, Hendrik yang melihat reaksi sang Ibu nampak memohon dengan memberikan kode pada sang Ibu. Ia tidak ingin terjadi masalah yang lebih besar lagi.
..." Kau memang anak tidak tahu bersyukur, kau itu memang......
" Cukup Bu, sudahlah Bu, jangan di teruskan lagi, aku mohon " Hendrik melangkah mendekat pada sang Ibu. Ia mengelus punggung tangan wanita itu agar sedikit mengurangi bebannya.
Laurent perlahan mampu menguasai amarahnya, Hendrik memang selalu mampu meredakan amarah sang Ibu.
" Teruslah menyayangi nya Bu, itulah kenapa dia keras kepala dan ingin menguasai semuanya seorang diri. " Hendra semakin tidak suka melihat kedekatan Ibu dan kakaknya itu.
Laurent menatap Putra keduanya itu dengan tatapan putus asah, marah yang menggebu-gebu mengingat perbuatan Putranya itu. Kecewa atas jalan pikir anaknya yang salah mengartikan semua kebaikan dirinya dan juga Ayahnya serta kakaknya sendiri.
" Kenapa Bu, bukankah benar yang aku katakan. Kenapa Ibu tidak melanjutkan yang ingin Ibu katakan tadi, Ibu takut mengakui kalau Ibu sudah tidak adil padaku selama ini, iya kan " Hendra semakin menjadi jadi.
Hendrik memberi kode pada Putranya agar membantu Oma Laurent meninggalkan tempat itu demi menghindari masalah yang lebih serius.
" Kenapa hah.... kau pengecut, sebegitu takutnya kau kalau aku akan merebut sebagian yang harusnya menjadi hak ku "
" Cukup Pak Hendra yang terhormat, hentikan omong kosong mu itu. Kami bukan tidak ingin meladeni omong kosong mu ini, hanya saja kami masih waras dan tidak ingin menyakiti orang seperti Anda. Andai saja Anda tahu yang sebenarnya, saya tidak yakin kalau Anda masih bisa bersikap congkak dan merasa seolah olah paling benar dan tersakiti seperti yang Anda lakukan saat ini. " Erik sudah tidak tahan untuk tidak berkomentar.
Oma Laurent menarik tangan cucunya itu agar segera pergi, Ia membenarkan ucapan Putranya. Kalau mereka masih tetap di sana hasilnya tidak akan bagus, mereka harus menenangkan diri masing-masing dan mencari jalan keluar untuk kenyataan yang pelik ini.
" Pergilah kalian pengecut, jangan berusaha menciptakan omong kosong lagi. Sudah tahu salah mau mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahan kalian. " Hendra menatap kepergian ketiganya dengan perasaan benci yang semakin menjadi jadi.
Sementara Hendra dengan perasaan bencinya, Oma Laurent kembali dengan segudang kekecewaan dan rasa bersalah yang besar pada Putra dan mendiang suami tercintanya.
***
Sekembalinya dari kediaman Hendra, Oma Laurent langsung mengurung diri di dalam kamar. Ia menatap pigura dirinya bersama sang suami yang terpajang di dinding kamar itu.
..." Maafkan aku Mas Hendro, maaf.... ! Maaf karena perbuatan ku di masa lalu menjadi malapetaka untukmu. Anak yang selama ini kamu sayangi dan lindungi ternyata adalah penyebab kepergian mu. Penyebab kita berdua tidak bisa bersama hingga masa tua " Lirih Laurent....
Ia menangis sesegukan meratapi kenyataan yang begitu memilukan saat ini. Hendrik yang merasa khawatir dengan keadaan sang Ibu mulai mengetuk pintu kamar di mana Ibunya mengurung diri.
" Ibu... , Bu.... apa Ibu di dalam, buka pintunya Bu, Hendrik ingin bicara. "
Laurent yang mendengar suara Putranya itu semakin merasa bersalah, Ia begitu bangga pada kebesaran hati Putra sulungnya itu. Dengan masalah besar yang Ia ketahui itu, masih sanggup untuknya menahan diri agar tidak melakukan hal di luar batas pada sang Adik.
" Ibu, Ibu dengar aku kan Bu, buka pintunya Bu, jangan buat aku dan Erik khawatir "
Hendrik menatap Puteranya yang berdiri di sampingnya yang juga harap harap cemas.
Hendrik tiba-tiba semakin khawatir, keduanya sepakat mendobrak pintu itu namun yang terjadi malah keduanya terjatuh mencium lantai kamar karena terlalu bersemangat mendobrak pintu padahal pintu itu tidak terkunci sama sekali.
" Aduh sakit " Ringis keduanya bersamaan.
Oma Laurent yang masih sedih hanya menatap keduanya bingung, pikiran nya yang kalut tidak dapat memahami keadaan saat ini.
" Hendrik, Erik, ada apa dengan kalian. Kenapa kalian sama sama sujud di sana, hoh..... baguslah kalau kalian mengadu pada Tuhan untuk semua masalah yang terjadi saat ini, tapi kenapa harus di sana. Apa kamar kalian sedang kebanjiran dan dalam perbaikan " Tanya Oma bingung.
Kedua Ayah dan Anak itu saling pandang, mereka tidak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran wanita yang ada di depan mereka, namun keduanya enggan memperpanjang.
" Ah maaf Oma, tadi Erik sujud syukur sama Papa karena melihat Oma baik-baik saja " Akhirnya Erik menemukan alasan yang di rasa pas.
" Baik baik saja, jadi maksud kalian Oma kenapa. Bunuh diri begitu " Tatap Oma pada cucunya.
Masalah yang terjadi saat ini membuatnya sedikit sensitif.
" Ah bukan, bukan itu Oma. Tadi Erik dan Papa hanya khawatir saja karena Oma langsung mengurung diri setelah kembali dari rumah Om Hendra "
Oma kembali murung, Ia kembali menatap Pigura dirinya dan sang suami.
" Hendrik, maafkan Ibu atas semuanya. Yang kalian temukan ini memang adalah kenyataan nya, maaf kalau Dia membuat masalah untuk hidup kalian "
Oma kembali minta maaf namun kali ini pada Putra sulungnya.
" Sudahlah Bu, semuanya sudah terjadi. Hendrik yakin Ayah juga sudah memaafkan Hendra, apalagi selama hidup Ayah begitu menyayanginya. Sebaiknya biarlah seperti ini Bu, Dia tidak perlu tahu yang sebenarnya, Hendrik hanya tidak ingin Dia semakin sakit hati. "
Oma Laurent menggeleng pelan, tidak percaya dengan ucapan Putra sulungnya itu. Begitu besar hatinya menerima semuanya, bahkan dirinya saja masih merasa sangat berat memaafkan Putranya itu.
" Tapi Nak, bagaimana pun juga dia harus tahu. Siapa dia sebenarnya, setidaknya dia tidak akan berlaku semena mena padamu dan juga Erik. Begitu juga dengan warisan ini, agar dia tidak serakah menginginkan yang seharusnya bukan menjadi miliknya "
..." Sudahlah Bu, untuk semua harta ini Hendrik tidak merasa keberatan membaginya. Kalaupun Ia ingin memiliki semuanya Hendrik tidak akan keberatan, Hendrik masih bisa bekerja sendiri Bu. Maaf Bu, Hendrik hanya ingin hidup tenang tanpa ada masalah lagi. Sekarang yang Hendrik inginkan hanyalah bagaimana caranya membuktikan siapa Renata yang sebenarnya, hanya itu Bu " Jelas Hendrik panjang lebar....
Ia menatap Erik yang masih berdiri tak jauh darinya dengan tatapan penuh arti, hanya mereka berdua yang tahu.
Hai readers kesayangan nya Author Nay, ini ada pengumuman sedikit ya. Author ada karya baru, yuk cek end ricek di karya.
Yuk mampir ya, di jamin nggak nyesel. Kisahnya tak kalah seru, jangan lupa untuk di like, komen rate dan juga Fav ya biar ada notif kalau bab barunya sudah update ya.
Makasih buat dukungannya, Love you All❤️😘