
Erik terbangun karena merasa ada yang mengusap rambutnya, perlahan Ia mengangkat wajahnya melihat apa yang terjadi, siapa yang melakukannya. Matanya berbinar melihat wanita yang di sayangi nya selama itu tersenyum lembut padanya.
..." Ibu..... Ibu sudah sadar, alhamdulillah ya Allah. "...
Erik mengucapkan syukur berkali-kali, Ia sudah tidak sabar menceritakan keluh kesahnya pada wanita yang sudah Ia anggap Ibu nya sendiri.
..." Ibu, aku ingin menceritakan sesuatu padamu. DIA..... wanita itu..... ! "...
Marni hanya mengangguk angguk dari tadi mulutnya berusaha terbuka namun tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun hal membuat Erik heran.
..." Ibu, apa Ibu baik baik saja, kenapa Ibu tidak bisa bicara, apa ada yang sakit. Dokter.... ya Dokter.... ! "...
Erik mulai panik dan bergegas mencari Dokter yang menangani Bi Marni selama ini, Ia segera meminta Dokter Hanafi untuk memeriksa keadaan Bi Marni.
..." Tolong Dok periksa Ibu, sejak tadi Ibu belum mengatakan apapun. Beberapa kali seperti nya Ibu membuka mulut tapi suaranya tidak terdengar "...
Dokter Hanafi memandang Marni sejenak lalu kemudian memeriksa beberapa hal yang Ia anggap penting.
..." Mohon maaf Pak, kami terpaksa harus mengatakan ini. Sebenarnya kami sudah menduga sebelumnya mengenai hal ini, walaupun kami berharap tentu tidak terjadi tapi melihat ini sayang sekali kami harus mengatakan nya kepada Pak Erik "...
Erik mencoba memahami penjelasan Dokter itu mengenai sakit yang di derita Ibu sambungnya itu.
" Sepertinya sebelum kejadian ini ada seseorang yang sengaja memasukkan atau memaksa pasien untuk memakan sesuatu yang merusak pita suaranya sehingga pasien tidak bisa lagi berbicara seperti biasanya "
Bagai petir di siang bolong, Erik terkejut mendengar penjelasan Dokter. Ia tidak habis pikir, siapa yang melakukannya, tidak mungkin kalau Ibu sambungnya itu sengaja memakan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri.
" Ada apa Bu, benarkah ada yang sengaja melakukan ini. Siapa dia Bu, biar Erik yang menghajarnya kalau perlu menjebloskan nya ke penjara, ini sudah keterlaluan " Erik mengepalkan tangannya kuat hingga buku bukunya memutih.
Lengkap sudah penderitaan nya, kenapa masalah datang bertubi-tubi. Belum juga satu masalah usai kini hadir masalah lain.
Marni hanya tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya pelan, mengatakan kalau dirinya baik baik saja agar Erik tidak semakin menghawatirkan nya.
Atas ijin Pak Hendrik akhirnya Marni pulang ke kediaman nya menggunakan kursi roda, Erik tentu dengan senang hati membantu Ibu sambungnya itu.
Erik dan juga Alya menjemput Bi Marni di Rumah Sakit tempatnya di rawat, kondisinya yang berangsur membaik membuat Dokter mengijinkan nya untuk pulang dan melanjutkan perawatan di rumah.
..." Sudah sampai Bu, Ibu akan tinggal disini bersama Alya dan bisa menempati kamar ku di atas "...
" Tapi Mas, Bibi kan masih dalam masa pemulihan dan masih menggunakan kursi roda. Bagaimana mungkin Bi Marni tinggal di kamar atas, bagaimana kalau kami berdua menempati kamar di bawah saja, itu memudahkan kami untuk melakukan aktivitas tanpa harus turun naik tangga "
Erik nampak berpikir dan akhirnya membenarkan ucapan Alya, akhirnya mereka menempati kamar bawah.
Erik mendorong kursi roda Marni memasuki sebuah kamar di lantai bawah.
" Disini tempatnya, bagaimana Bu.... Al. Semoga tidak terlalu buruk dan kalian menyukai nya "
..." Hm sebenarnya kenapa Papa meminta Ibu sama Alya tinggal disini, kenapa bukan di rumahku saja. Beberapa hari ini sikap Papa juga sedikit aneh, seperti ada yang sengaja di tutupi dari aku. Ah apapun itu semoga ini tujuannya bagus " Batin Erik....
Setelah merasa cukup, Erik berpamitan karena ada sesuatu yang harus Ia kerjakan dan itu sangatlah penting.
***
Seperti biasa Alya tidak nyaman berdiam diri, Ia pergi ke dapur berharap bisa membantu meringankan pekerjaan teman temannya dulu.
Bertepatan dengan itu Anggun memasuki rumah itu setelah berhari-hari tidak pulang. Betapa terkejutnya ketika Ia melihat kehadiran Alya disana.
..." Sial, kenapa dia ada disini. Gara- gara dia aku harus kehilangan banyak uang untuk anak penyakitan itu, seperti nya berada dekat dengan anak ini membuat hidupku selalu sial " Batin Anggun memandang Alya sinis....
Ia benar-benar tidak menyukai Alya dari dulu apalagi sejak ada masalah beberapa hari ini.
" Ngapain kamu ada disini ha..... ! siapa yang mengijinkan mu menginjakkan kaki kotor mu itu di rumahku "
Alya yang tidak mengerti maksud ucapan Anggun, otomatis langsung memeriksa kakinya.
..." Kotor.. .. benarkah ! sepertinya aku tadi kemana mana pakai sendal, masa iya sih kotor " Gumam Alya seraya memeriksa kakinya. ...
" Kaki ku bersih Tante, dan mengenai siapa yang mengajakku kemari, ya sudah pasti itu PAPA. Bagaimana mungkin aku berani menginjakkan kakiku di rumah ini kalau tanpa ijin PAPA " Alya sengaja menekan kata PAPA pada setiap ucapannya.
Anggun tercengang mendengar ucapan Alya.
" Papa, siapa yang kau panggil Papa ha.... ! Kamu mimpi ya, mimpi mempunyai seorang Ayah atau jangan jangan kau mimpi menjadi bagian dari keluarga ini, hahaha...... menyedihkan " Cibir Anggun.
Alya enggan untuk meladeni wanita itu, dalam hatinya memang tidak ada gunanya meladeni nya. Karena apapun yang Ia lakukan akan selalu salah, bukan hanya yang Ia lakukan tapi kehadiran nya yang memang tidak di inginkan sama sekali.