Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
SAH


Hari yang di tunggu tunggu dua keluarga pun tiba, di temani Donita di dalam ruangan rias Rena mematut dirinya di depan cermin. Tidak seperti biasa kini Donita hanya memilih diam dan memandangi wajah Kakak perempuan nya itu.


Ini adalah pilihan kakaknya dan Ia tidak ingin mengganggu hari bahagia itu. Sementara Rena berusaha tersenyum, mungkin ini jalan yang terbaik untuk nya.


Tidak lama terdengar pintu di ketuk, Donita melangkah membuka pintu.


" Ayo Al semua sudah siap, biar Kakak bantu "


Ternyata yang masuk adalah Nayla, Rena menarik nafas sebelum akhirnya mengangguk.


Di angkatnya kedua tangannya dan di sambut oleh Nayla dan juga Donita. Kedua wanita itu menggandeng Renata menemui penghulu dan juga para tamu undangan yang sudah lama menunggu.


" Tarik napas kak, rileks saja " Bisik Donita.


Meskipun Ia belum pernah melalui ini tapi yang pernah Ia dengar dari teman temannya pada saat seperti ini pasti kedua mempelai akan nervous.


Beberapa tamu undangan terpukau dengan penampilan ketiga wanita itu, ada beberapa yang bersorak dan yang lain nya mengikuti.


" Mari Nak "


Rena di sambut Rossa ketika sampai di lantai bawah, Rossa mengantarkan Rena sampai ke tempat akad nikah. Duduk di samping Andre yang sejak tadi sudah memucat karena menahan debaran di hatinya.


Acara pun di mulai, setelah kata sambutan dan beberapa bacaan Al-Quran di senandungkan, kini mereka tiba pada acara inti.


Hendrik selaku Ayah dari pengantin wanita mulai menyebut ikrar nikah.


" Saya nikahkan engkau dengan Putriku, Alya Renata binti Hendrik raharja dengan mas kawin 1 unit resort di bali, uang senilai lima ratus juta, emas seberat seratus gram dan seperangkat alat sholat di bayar TUNAI "


" Saya Terima nikah dan kawin nya Alya Renata binti Hendrik raharja dengan mas kawin satu unit resort di bali, uang senilai lima ratus juta, emas seberat seratus gram, dan seperangkat alat sholat di bayar TUNAI "


Beberapa saat kemudian hening membuat Andre bertambah gugup sedangkan Renata hanya menunduk sejak tadi.


" SAH "


" bagaimana para saksi, Sah "


" SAaaaaaaaHhhh " Jawab riuh tamu undangan yang hadir disana dan menyaksikan momen mengharukan itu.


..." Akhirnya Mas, laku juga " Bisik Nayla....


Tiba saatnya penyematan cincin di jari manis masing-masing. Andre begitu gemetar ketika menyentuh jemari Rena, peluhnya bahkan berjatuhan sudah seperti biji jagung.


Rena menyematkan cincin di jari manis Andre, kembali terdengar sorak sorai dari tamu undangan.


" Cium, cium ---- "


Keduanya nampak malu malu, Nayla membisikkan sesuatu di telinga Rena dan Rena tersenyum serta mengangguk. Ia kembali membisikkan sesuatu di telinga Andre, Andre pun melakukan hal yang sama.


Rena mencium punggung tangan Andre tiga kali dan telapak tangannya satu kali setelah itu Andre mencium kening Rena.


Rena memejamkan matanya ketika sebuah benda kenyal menempel di keningnya.


Setelah menandatangani berkas sebagai pelengkap status mereka, kini kedua mempelai itu di gandeng menuju pelaminan.


Mereka menyalami tamu undangan yang datang, acara begitu ramai. Banyak pejabat dan petinggi negara yang hadir dalam acara itu.


Beberapa kali Rena meringis karena menahan rasa sakit di kakinya, dan Andre pun melihat itu.


" Apa kamu sudah lelah " Tanya Andre sedikit berbisik.


Rena hanya tersenyum tidak menjawab, tentu saja Ia sangat lelah. Dengan banyaknya tamu undangan yang hadir dari kedua belah pihak bukan hal yang mudah berdiri dengan sepatu tumit tinggi, belum lagi dengan riasan yang sangat berat membuat siapa saja yang berada di posisi Rena mengalami kelelahan.


" Aku antar ke kamar gimana "


Rena langsung menolak, tidak enak meninggalkan para tamu undangan.


" Tidak perlu Mas, aku tidak apa apa " Tolak Rena.


Andre tersenyum meskipun Ia merasa kasihan


" Ya sudah, tapi kalau kamu capek kita istrahat. Jangan pikirkan tamu undangan, yang penting adalah kesehatan mu "


Rena mengangguk pelan