
๐Ketemu lagi sahabat Nayla, bersama Author Nayla ya. Di kesempatan ini Author mau ngucapin " Selamat tahun baru Islam " untuk semua sahabat Nayla yang beragama Islam. Semoga tahun ini lebih berkah dari tahun sebelum nya, semoga di jauhkan dari malapetaka. Bahagia selalu untuk RL dan juga halu nya, doa terbaik di bulan yang baik. Aamiiinnn "๐
Jangan lupa dukungan nya ya, like, komen, rate dan juga fav. Vote juga bagi yang tidak terpakai, untuk gift Author minta seikhlas nya saja, tidak ada paksaan. Karena yang Ikhlas InsyaAllah berkah.
Lanjut, salam sayang semua ๐๐๐
๐๐๐
Asrul tidak tahan mendengar ucapan Bu Dewi, akhir nya Ia memilih naik ke kamar nya dari pada dia membuat keributan hanya karena mendengar hasutan Ibu mertua nya itu.
" Aku ke atas dulu Bu " Pamit Asrul
Bu Dian menyadari perubahan pada wajah Putra nya itu dan dengan cepat beliau mengangguk setuju, Asrul menaiki anak tangga dengan cepat. Kaki nya yang panjang memungkinkan untuk nya menaiki dua anak tangga sekaligus, belum lagi hati nya yang sedang di selimuti amarah membuat nya cepat tiba di lantai atas.
" Lihat anakmu yang tidak bertanggung jawab itu, mertua nya masih bicara dia malah pergi. Anak macam apa itu "
Bu Dian pun merasakan hal yang sama, ingin rasa nya Ia berkata kasar memaki mengeluarkan unek- unek nya namun naluri nya mengalahkan semua nya.
Beliau masih menghormati tamu yang datang kerumah nya, walau tamu itu tidak layak di sebut tamu.
" Bu Dewi, kami akan mempertimbangkan masalah ini. Beri kami waktu untuk berpikir, bukankah semua nya harus dipikirkan dengan kepala dingin, agar mendapat jalan keluar yang baik. Aku akan hubungi Ibu Dewi secepatnya mengenai kelanjutan nya "
Walaupun gusar Bu Dewi akhir nya menyetujui ucapan besan nya itu.
" Baiklah aku tunggu berita baik nya bukan hanya janji janji saja, kalau begitu aku permisi. Assalamu'alaikum......! " Pamit Bu Dewi seraya berlalu keluar dari rumah mewah itu.
"Huh, rumit sekali masalah ini. Asrul......! "
Karena khawatir terjadi apa apa Bu Dian segera menyusul ke lantai atas dimana kamar Putra nya berada.
Tok~ Tok ~ Tok ! suara Bu Dian mengetuk pintu
" Nak, apa Ibu boleh masuk "
Asrul mendengar suara Ibunya berbicara di luar meminta ijin.
" Masuklah Bu, pintu nya tidak di kunci "
Bu Dian melangkah pelan menghampiri putra nya yang duduk di sofa kamar
" Ada apa Nak, kamu tidak apa apa " Tanya Bu Dian.
" Tidak apa- apa Bu. Maaf, aku hanya tidak tahan mendengar ocehan Bu Dewi, kepalaku rasanya ingin pecah " Jawab Asrul menarik nafas panjang.
" Nak, bolehkah Ibu bertanya sesuatu "
" Tanya saja Bu, ada apa "
" Apa kamu tahu kalau Siska punya penyakit parah sebelum nya "
Bu Dian mengerutkan kening nya.
" Kalau kamu tahu, lalu kenapa selama ini tidak di bawa berobat sebelum penyakit nya menjadi parah seperti sekarang ini "
Asrul berdiri di dekat jendela dan melihat keluar jendela.
" Ibu, dia saja menutupi semua penyakit nya dari kita, aku saja tahu semua ini dari Romi dan juga Ridwan. Maafkan aku Bu, selama ini aku tahu semua nya tapi aku malu untuk mengatakan nya pada Ibu. Bagaimana pun juga aku yang memilih nya, dan pilihanku ternyata salah. Sekali lagi maafkan aku "
Bu Dian mencoba untuk memahami semua nya namun masih ada yang membuat nya penasaran.
Asrul mengambil surat- surat dari Dokter Ridwan dan memberikan nya pada Ibu nya, Ia mengetahui kebingungan Ibu nya.
" Apa ini Nak " Tanya Bu Dian.
" Bacalah Bu biar Ibu tidak bingung, itu hasil diagnosa Dokter Ridwan mengenai penyakit Siska " Jawab Asrul
Bu Dian membuka surat itu perlahan dan membaca nya satu persatu. Bu Dian terkejut dan sontak menutup mulut nya dengan telapak tangannya.
" Apa-- kah ini benar Nak "
" Iya Bu, itulah kenyataan nya. Siska ternyata pernah hamil sebelum menikah dengan ku, dia dan juga lelaki yang menghamili nya itu memilih menggugurkan kandungan nya dengan cara ilegal untuk itulah ada infeksi dalam rahim nya. Dia melakukan itu agar bisa menikah denganku, dan surat bahwa aku mandul ternyata itu semua hanya rekayasa. Mereka bekerja sama meminta bantuan pada seorang Dokter palsu untuk membuatkan surat keterangan bahwa disini aku yang mandul, tapi kenyataan sebenar nya adalah dia yang tidak bisa punya anak karena rahim nya bermasalah. "
Bu Dian mendengarkan semua penjelasan Putra nya dengan seksama. Ia tidak menyangka kalau ternyata Putra nya sudah mengetahui semua perbuatan buruk Istri nya, namun Ia mampu menahan diri untuk tidak berbuat yang berlebihan.
" Ibu ingat waktu mereka ijin sama Ibu ingin menghadiri hajatan kerabat jauh mereka di luar kota "
Bu Dian mengangguk mengiyakan karena beliau masih ingat betul mengenai kejadian itu
" Sebenar nya waktu itu mereka bukan mau bertemu kerabat jauh, bahkan disana tidak ada acara apapun. Mereka kesana hanya ingin memeriksakan diri sekalian berobat kalau cocok, ternyata Dokter disana juga angkat tangan karena tidak sanggup menangani penyakit Siska karena alasan alat- alat medis disana kurang lengkap. "
" Kenapa mereka harus berobat ke luar kota Nak, kenapa tidak disini saja. Paling tidak kita bisa bantu juga kan " Bu Dian semakin bingung
" Mereka tidak mau penyakit nya itu di ketahui oleh kita makanya mereka berobat secara sembunyi sembunyi dari Ibu, dari aku dan juga dari orang-orang yang aku tugaskan menyelidiki mereka "
Bu Dian tidak habis pikir pada menantunya itu, kenapa penyakit separah itu masih dirahasiakan. Itu malah bisa berakibat fatal, bisa berujung maut.
" Sekarang apa yang harus kita lakukan Nak. Maksud Ibu, mengenai permintaan mertuamu itu "
Asrul kembali duduk di sofa, Ia juga bingung karena tidak ada jalan bagi mereka untuk mengabulkan permintaan Bu Dewi, semua jalan seperti nya menemui jalan buntu. Karena pengadilan telah memvonis Siska bersalah dengan semua bukti- bukti lengkap yang memberatkan nya.
" Entahlah Bu, aku juga bingung. Seandainya ditanya bagaimana pendapatku, aku dengan senang hati mengatakan biar Siska berada di dalam penjara mempertanggung jawabkan semua perbuatan nya selama ini. Tapi sebagai sesama manusia, aku juga tidak sampai hati kalau harus membuat nya mendekam di penjara dalam waktu yang lama dan juga dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya yang bisa saja mengancam nyawa nya kapan saja. Tapi aku bingung bagaimana cara nya "
Baik Asrul maupun Bu Dian sama- sama di buat bingung tidak tahu harus berbuat apa.
๐๐๐