
🌟🌟🌟
Semua nya sudah tidak ada guna nya bagi Asrul, pintu hatinya sudah tertutup rapat untuk wanita itu. Kalau hanya kata maaf mungkin sudah Ia berikan tapi untuk memulai semua nya rasanya tidak mungkin lagi.
Hari berganti hari setelah terbebas dari hubungan rumitnya Asrul berdiri di atas balkon kamarnya, pikiran nya masih saja tidak tenang.
Teringat akan semua yang Ia ucapkan pada Siska seolah itu sebuah tamparan buat nya sendiri. Bagaimana tidak dirinya juga pernah melukai hati lain yang mungkin lebih dalam dari yang di lakukan Siska padanya, dan untuk itu dia harus menanggung akibatnya saat ini.
Sudah seminggu terakhir belakangan ini Asrul memikirkan apa yang harus di lakukan nya kedepan, dia tidak bisa selalu berdiam diri seperti saat ini kalau ingin menjadi lebih baik.
Kata kata Kamila selalu terngiang di benaknya. Semuanya sangat berarti bagi nya dan memang benar Ia harus memperjuangkan nya walau Ia tahu itu sangatlah tidak mudah.
" Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin, selalu ada jalan di saat kita mau usaha. Dimana ada kemauan yang tinggi di situ pasti ada jalan " Asrul menyemangati dirinya sendiri.
Itulah yang selalu menjadi pedoman Asrul hingga Ia mempunyai keberanian untuk melangkah ke depan, memperjuangkan semua yang pernah Ia sia siakan di masa lalu.
Hari ini di kediaman Nayla sedang di adakan acara Doa bersama, memperingati 11 tahun berpulangnya Ibunda tercinta sekaligus hari lahir Putra semata wayang nya.
Asrul melangkah pelan setelah mengintip dari kejauhan, Ia baru memberanikan diri masuk setelah acara selesai dan para tamu satu persatu kembali ke tempat nya masing masing.
" Assalamu'alaikum....... "
" Wa' alaikum salam " Jawab mereka yang kebetulan ada di sana.
Semua nya terkejut melihat keberanian Asrul menginjakkan kakinya di tempat itu, hanya ada satu orang yang tersenyum setelah melihat kedatangan Asrul.
Ya, dia adalah Kamila. Kamila yang telah memberi kabar kalau hari ini akan di adakan acara Doa bersama, Ia juga berpesan pada Asrul dengan mengulang kata kata yang sama.
..." Mas Asrul, untuk apa dia kemari " Batin Nayla...
Alwi yang sudah masuk sejak tadi dirinya sedang asyik membuka kado pemberian dari keluarganya, mulai dari Opa, Oma Om dan juga Tantenya dan juga mereka yang sudah sangat baik memberikan kado terbaik nya.
Tiba saatnya Ia membuka sebuah kado
" Ini apa ya, semoga saja isi nya ponsel keluaran terbaru " Gumam Alwi
Dia pun membuka satu persatu bungkusnya, hati nya menjadi penasaran dari kotak besar menjadi kecil dan kecil lagi.
Bibirnya langsung sumringah ternyata tebakan nya menjadi kenyataan.
" Horeee..... ponsel baru. Dari siapa ya.....! "
Di balik kemasan itu ada sebuah kertas kecil dan Alwi pun meraihnya.
" Sebuah surat "
Ia pun membuka dan membaca apa yang tercantum disana.
" Selamat ulang tahun Alwi, panjang umur jadi anak sholeh dan selalu menjadi kebanggan keluarga. Maafkan Papa atas semua yang sudah terjadi selama ini "
Alwi menoleh ke asal suara, nampak di depan pintu seorang Pria berdiri dengan memandang ke arahnya.
..." Papa........! " Batin nya....
..." Alwi anak haram, Alwi tidak punya Ayah. Jangan berteman dengan nya, nanti kita terkena sial. "...
Bayangan tentang ejekan teman teman sekolah nya dulu kembali terngiang di benaknya, betapa Ia sangat membenci Pria itu dulu. Namun ucapan guru guru di kelas nya membuatnya menyadari sesuatu hal, tapi walaupun begitu rasanya tetap tidak mudah untuk menerima semuanya begitu saja
" Untuk apa Anda kemari " Suara Alwi terdengar dingin.
Sebelas duabelas, Asrul menatap Putra nya itu seperti menatap diri nya sendiri. Buah jatuh tidak jauh dari pohon nya, pepatah lama itu yang mungkin mulai Asrul yakini sekarang.
Bagaimana dingin nya dia kalau sedang marah, kini bagaikan rol film Ia menonton dirinya sendiri.
" Kenapa anda diam saja, kalau tidak ada yang penting maaf, saya harus istrahat "
" Papa kemari hanya ingin bertemu denganmu, kalau berkenan Papa ingin berbicara sebentar "
Asrul tahu saat dirinya sedang marah dia selalu ingin sendiri dan tidak ingin di paksa, dari itu Ia juga tidak ingin memaksakan ke inginkan nya pada Putranya itu.
Sementara Nayla yang berdiri tidak jauh dari sana hanya bisa was was takut Putra nya itu bereaksi berlebihan. Bagaimana pun juga mereka adalah Ayah dan anak, tidak baik Alwi kalau berlaku kasar pada Ayahnya sendiri.
Melihat Alwi yang sepertinya belum bisa menerima keberadaan nya Asrul memilih untuk pergi.
" Ya sudah Nak, Papa pergi dulu, maaf sudah mengganggu. Tapi Nak sekali lagi Papa ingin minta maaf dan Papa benar benar sungguh sungguh. "
Asrul memilih keluar dan berpamitan pada semuanya.
" Aku pamit dulu, terimakasih sudah di ijinkan masuk. Assalamu'alaikum.....! " Pamit Asrul.
Nayla melangkah ke kamar Alwi Ia melihat Putra nya itu masih diam saja.
" Eh Nak.......! bagaimana kadonya bagus bagus tidak, Mama bantu bukakan ya "
Nayla mencoba mengalihkan perhatian Alwi dengan mengingatkan nya pada kado kado yang Ia dapatkan.
" Eh ini ada ponsel dari siapa sayang "
Nayla yang tidak tahu itu dari mana malah bertanya hal yang ingin Ia coba tutupi.
" Dari Pria tadi Ma.....! " Jawab Alwi.