Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Kejutan Lamaran


Sepanjang jalan Dira terus memikirkan ada apa sebenarnya, kenapa wajah yang ada di figura itu sangat mirip dengan Alya wanita yang belakangan ini menjadi saingannya.


" Apa mungkin di dunia ini ada orang yang sangat mirip bahkan sangat susah di bedakan, atau mungkin ada rahasia di balik semua ini, atau bisa saja......


Dira mondar mandir di dalam kamar miliknya, berbagai macam dugaan muncul di benaknya.


" Hm..... kalau itu memang Siska dan bukan Alya ada kemungkinan aku beruntung dalam hal ini, aku punya ide cemerlang untuk itu. Tapi bagaimana jika itu sebaliknya, aku akan semakin susah untuk mencapai tujuanku " Dira mulai tersenyum setelah sejak tadi wajahnya kusut memikirkan semuanya, Ia yakin kalau dirinya bisa mendapat keuntungan dari semuanya.


***


Beberapa hari berlalu hubungan Andre dan juga Alya semakin dekat, lebih tepatnya karena usaha Andre yang begitu gigih ingin selalu terus berada di dekat gadis itu dan Alya yang harus terpaksa menuruti perintah Andre walaupun itu Ia tahu hanyalah akal akalan pria itu saja.


Meskipun begitu Alya tidak bisa memungkiri kalau dia juga sesungguhnya mengagumi dan menaruh hati pada Pria yang umurnya terpaut jauh dengannya. Berada dekat dengan Andre hatinya merasa tenang, walaupun penuh ancaman tapi dia tidak merasa terancam.


Hingga sore ini sepulang kerja, Alya di kejutkan dengan keberanian Andre yang tiba tiba menyatakan perasaan padanya. Meskipun Ia juga merasakan hal yang sama tapi dia tidak punya keberanian menyambut perasaan Andre, Ia sadar siapa dirinya yang hanyalah gadis biasa dan yatim piatu tanpa punya sesuatu yang bisa Ia banggakan.


" Al...... bolehkah aku bertanya sesuatu padamu, tapi maaf sebelumnya kalau pertanyaan ku ini sedikit pribadi "


Alya memandang wajah Andre sejenak, batinnya bergumam apa yang akan di tanyakan Andre padanya. Apa yang ingin Pria itu tahu darinya, Alya pun mengangguk tanda mempersilahkan.


" Silahkan tanya saja Pak, apa yang Bapak ingin tanyakan "


Andre bingung harus mulai dari mana, Ia takut Alya akan merasa tidak nyaman dengan pertanyaan nya, tapi kalau tidak Ia lakukan Ia akan terus di landa penasaran.


" Apa kamu sudah pacar, maksudku.... kamu punya..... " Andre mendadak gagap karena bingung apalagi ketika Alya menatap dirinya dan nampak kalau Ia terkejut.


" Hmp..... pacar Pak ? Mana ada, mana ada yang suka sama saya gadis miskin adanya selalu di pandang hina. Bapak ada ada saja " Alya tertawa kecil, Ia merasa lucu dengan pertanyaan Boss nya itu.


" Hahaha mana ada, kalaupun ada mungkin Pria itu Pria yang buta atau bisa juga Pria itu tidak laku laku " Jawab Alya dengan candaan.


" Aku..... " Jawab Andre cepat, meskipun hatinya sedikit tidak terima di katakan tidak laku ( tapi emang benar sih sudah berumur belum menikah juga)


Ucapan Andre menghentikan tawa Alya, Ia tidak menyangka Andre akan mengucapkan itu padanya.


" Aku menyukai mu, bukan.... bukan itu. Sebenarnya aku sangat mengagumimu... bukan juga. " Andre semakin bingung.


" Begini Al, sebenarnya aku sangat mencintaimu dan ingin selalu lebih dekat denganmu. Maukah kamu jadi Istriku...... " Ucap Andre cepat dan Alhamdulillah lancar seperti jalan tol.


Keduanya mendadak diam, Alya yang shock karena keberanian Andre yang mengungkapkan perasaan nya padanya, sementara Andre yang dag dig dug ser menunggu jawaban Alya. Ia berharap perasaan nya itu tidak bertepuk sebelah tangan dengan kata lain wanita pujaannya mau menerima cinta tulusnya.


" Maaf.... "


..." Tidak perlu kamu jawab sekarang Alya, masih banyak waktu. Kamu pikirkan saja dulu matang matang Tapi aku berharap kamu mau menerimanya Al, aku benar benar menyayangimu " Batin Andre...


" Baiklah Pak, terimakasih atas pengertian nya, saya akan pikirkan dulu " Jawab Alya


Sebenarnya hatinya ingin berteriak mengungkapkan rasa bahagianya, Ia juga ingin sekali menerima ungkapan Pria itu. Ingin sekali Ia mengucapkan " Iya aku juga mencintaimu, aku mau menjadi Istrimu Om Om pencuri hatiku " Tapi sayang itu hanya ada di pikiran Alya yang tidak berani Ia ungkapkan karena belum punya keberanian untuk itu.


" Sudahlah Al santai saja, kamu jangan sungkan padaku ya. Anggap biasa saja, kamu bisa jawab kapan saja kamu siap. Oh iya, aku minta kamu jangan panggil aku Bapak, aku tahu aku dan kamu beda jauh tapi aku belum tua tua amat. Panggil nama saja atau panggil Mas Andre juga boleh " Gaya khas Andre yang suka bercanda membuat Alya merasa nyaman.


" Apa tidak masalah kalau saya tidak memanggil Bapak, bagaimana tanggapan rekan rekan yang lain kalau mereka mendengar saya memanggil Pak An... dre dengan nama saja apalagi kalau saya panggil Mas An... dre " Tanya Alya ragu ragu.


Andre tersenyum mendengar namanya keluar dari bibir Alya meskipun pelan karena memang belum terbiasa. Bagi Andre panggilan itu sangat merdu di telinganya apalagi panggilan Mas Andre rasanya hatinya bahagia tiada tara.