
Nayla mencoba mengalihkan perhatian Andre sementara Kamila menarik tangan Alex pergi menjauh dari sana. Alex yang belum tahu kalau Kamila adalah adik dari wanita yang sedang di incarnya bertanya tanya dalam hati.
" Sini.....! "
" Kamu siapa kenapa menarikku kemari seperti ini " Tanya Alex.
" Aku adalah adiknya Kak Nayla " Jawab Nayla yang sontak membuat Alex terkejut.
..." Adik, Astaghfirullah. Kenapa aku tidak menyadarinya kalau selama ini mereka adalah Kakak Adik, pantas saja mereka selalu kemana mana bersama " Batin Alex....
" Adik Nayla, lalu kenapa kamu menarikku kemari. Aku ingin menyapa Kakakmu siapa tahu aku bisa sekalian gabung dengan kalian "
Kamila mencari alasan yang tepat agar Pria itu tidak melanjutkan niatnya.
" Aku mohon jangan ganggu Kak Nayla. Jangan buat hidupnya tambah susah dengan kehadiran mu "
" Bagaimana mungkin aku akan membuatnya susah, aku sangat mengaguminya setulus hati dan aku tidak setega itu membuatnya dalam masalah "
Kamila tersenyum
" Baiklah kalau begitu berarti mulai sekarang kontrol diri Kakak, jangan temui Kak Nayla, Apalagi di dalam sekarang ada Mas Andre "
..." Andre, itu kan nama yang disebut Bibi tadi "...
" Lalu kenapa kalau ada Pria yang bernama Andre, sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan buatku mendekati nya. Untuk itulah aku minta padamu jangan halangi aku lagi "
Alex melangkah masuk lagi namun dengan cepat Kamila menahan nya.
" Dasar laki laki egois, kamu hanya memikirkan perasaanmu saja. Kamu tahu akibatnya kalau kamu masuk ke dalam sana dan membuat keributan. Mas Andre akan marah besar dan mungkin ini adalah merupakan hari terakhir kami berada disini. "Jelas Kamila.
Alex menghentikan langkahnya dan berbalik
" Apa maksudmu dengan hari terakhir kalian disini " Tanya Alex
" Hari terakhir karena setelah ini Mas Andre pasti dengan senang hati akan memulangkan kami ke Indonesia, jadi silahkan temui Kak Nayla jika kamu ingin hal itu terjadi. "
Kamila sudah kehabisan akal dan cara menghentikan nya, lebih baik dia mengatakan itu saja.
" Memang siapa dia seenaknya saja memulangkan orang, keluarganya saja tidak terlalu ingin ikut campur, kenapa dia yang repot ngurusin "
Kamila bingung sampai keningnya berkerut
" Apa maksudmu dengan mengatakan itu, tentu saja dia berhak memulangkan kami, karena dia merasa hidup kami terancam disini. "
" Heh baru juga pacar sudah berani berani ikut campur dan mengatur ngatur apa yang harus di lakukan, bagaimana nanti kalau jadi suami hidupnya akan sebatas berada dirumah saja "
" Pacar......! siapa yang pacar, Kamu dan Kakak bahkan belum jadian kenapa kamu bilang pacar " Tanya Kamila.
" Orang yang di dalam maksudku, Pria yang bernama Andre kan dia hanya pacar Nayla saja kenapa dia terlalu ikut campur "
Kamila merasa terkejut namun juga lucu, ternyata Alex mengira kalau Andre adalah kekasih Kakaknya itu.
" Apa kamu sudah kurang waras, dia itu Kakak laki laki kami bukan pacar, bagaimana mungkin Kakak Adik bisa pacaran " Ucap Kamila susah payah menahan tawa
Alex terkejut dan tentu saja merasa malu karena Ia ternyata salah mengira kalau Pria itu adalah kekasih Nayla ternyata bukan.
" Kakak...... " Alex memastikan
Kamila menunggu jawaban Alex yang nampak diam karena masih shock dengan kenyataan yang baru di ketahui nya.
" Aku mau masuk, takut Mas Andre akan mencariku karena aku tadi hanya ijin ketoilet sebentar. Kalau kami ingin masuk ayo " Ajak Kamila.
Kamila masuk lebih dulu dan di susul Alex namun dia hanya memandang dari jauh saja tidak berani mendekat.
" Maaf Mas lama nunggu ya, tadi Kamila muter muter tidak tahu dimana toiletnya jadinya lama "
" Tidak apa apa sayang, terus gimana mkanan nya apa mau makan atau gimana " Tanya Andre.
***** makan nya tiba tiba hilang belum lagi memang dia masih kenyang karena makan cemilan yang mereka beli di taman.
" Bungkus saja Mas, nanti makan nya di rumah saja "
Andre pun meminta pelayan membungkus makanan yang belum beberapa suap saja tidak dilanjutkan karena harus membantu Kakak nya membereskan masalah.
Mereka pun kembali kerumah setelah sebelumnya berbelanja bahan bahan masak, karena Alwi tidak ingin makan selain masakan dari Ibunya saja.
*
*
*
Di Rumah Sakit
Setelah dua jam berlalu akhirnya pintu ruang Operasi pun terbuka, nampak beberapa orang keluar dengan wajah kusut. Bu Dian langsung berdiri karena memang dirinya khawatir sejak tadi.
" Bagaimana keadaan nya Dokter " Tanya Bu Dian.
" Alhamdulillah Bu Operasinya lancar tidak ada yang perlu di khawatirkan, namun untuk saat pasien belum siuman. Kami masih akan terus memantau kondisi pasien paska operasi, sampai kondisinya di nyatakan aman dan normal " Jawab Dokter.
Bu Dian bisa bernafas lega dan tidak henti hentinya bersyukur karena operasinya berjalan lancar, hanya tinggal menunggu kabar selanjutnya.
" Alhamdulillah kalau begitu, Terima kasih Dokter atas bantuannya "
Bu Dewi masih saja tidak Terima dan terus saja mencibir.
[ Susah ya kalau orang memang pintu hatinya sudah tertutup dengan kebaikan, semua yang di lakukan baik oleh orang lain akan selalu salah dan semua yang ada di pikiran nya hanyalah prasangka buruk ]
" Alhamdulillah ya, senang sekali nampaknya karena sebentar lagi kalian akan terbebas dari wanita yang tidak berguna. Wanita yang hanya kalian butuhkan disaat dia berguna dan kalian buang seperti sampah setelah dirasa tidak berguna bagi kalian "
Bu Dian enggan untuk berdebat, karena ini adalah rumah sakit dan juga Bu Dian malas meladeni ucapan wanita itu. Karena Ia tahu semakin di bahas dia akan semakin menjadi jadi.
" Oh ya sepertinya Siska sudah tidak apa apa, sebentar lagi dia pasti akan siuman, untuk itu aku ijin pamit pulang dulu ada urusan penting soalnya. Nanti kalau urusan sudah selesai aku akan usahakan untuk mampir kemari. Oh ya mengenai biaya nya sudah di lunasi oleh Asrul Putraku, jadi Ibu tidak perlu khawatir memikirkan bagaimana harus melunasi semua nya. "
Bu Dian langsung pergi meninggalkan tempat itu setelah berpamitan terlebih dahulu.
" Sial, dia menghinaku. Mentang mentang mereka orang kaya lalu berbicara seenaknya saja. Kamu juga Siska, semua ini adalah salahmu, kamu sudah membuat Ibu malu yang berkepanjangan " Gumam Bu Dewi.
Bu Dewi pun berdiri dan meninggalkan tempat itu.
" Untuk apa aku disini, menunggui anak yang tidak gunanya itu. Lebih baik aku pergi dari pada di buat susah olehnya. Kalau aku tahu jadinya akan seperti ini aku tidak akan capek capek mengurusnya "
Bu Dewi pergi meninggalkan rumah sakit tanpa berpemitan apa pun, atau bahkan sekedar mengintip Siska di balik kaca ruangan itu.