Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
RENATA


Erik mengendap endap keluar dari kamar rawatnya, Ia tidak ingin lama lama berasa di sana dan membiarkan Alya mendekam di penjara karena kesalahan yang tidak Ia lakukan.


..." Mumpung Papa masih tidur, aku harus pergi dari sini dan membebaskan Alya. Kasihan dia pasti ketakutan, kedinginan disana " Gumamnya....


Ia bisa bernafas lega karena berhasil keluar, Ia mengunci pintu secara perlahan agar sang Ayah tidak terbangun.


..." Ah Alhamdulillah akhirnya aku aman, aku harus cepat pergi dari sini sebelum Papa bangun dan menghalangi ku "...


Sayang sekali baru saja Ia merasa lega dan senang karena bisa keluar, namun baru akan membalikkan tubuhnya nampak dua orang Pria berbadan kekar menatapnya sangar.


..." Mau kemana, mau kabur ya " Ucap salah satunya yang wajahnya masih bersahabat sementara yang satunya lagi sangat menakutkan....


Mereka langsung menangkap Erik dan membawanya masuk ke ruang rawatnya, Erik melakukan perlawanan namun sia sia saja.


" Ada apa ini kenapa kalian membawanya seperti itu " Tanya Pak Hendrik melihat anaknya bergelatungan di antara kedua pria suruhannya yang tubuhnya jauh lebih tinggi dari tubuh Erik.


..." Maaf Pak, tapi tadi dia mengendap endap keluar, sepertinya ingin mencoba kabur dari ruangan ini Pak "...


Pak Hendrik geleng geleng kepala, Ia e nyuruh orang suruhannya itu melepaskan Erik dan mereka pun mengangguk.


" Kalian boleh pergi " Titah Pak Hendrik seraya merogah ponselnya ingin menghubungi seseorang namun dengan cepat Erik merebut ponsel milik Ayahnya.


..." Jangan Pa, Erik mohon jangan lakukan itu lagi. Erik tidak mau di bius lagi " Pinta Erik memohon. Ia kembali duduk di samping ranjangnya....


Ini benar-benar hal bodoh yang pernah Erik alami, bagaimana mungkin Ia masih berada di tempat itu padahal tubuhnya baik baik saja. Tempat itu seperti bukan ruang rawat melainkan penjara yang mengurung kebebasannya.


..." Kalau kamu masih saja mencoba kabur jangan salahkan Papa kalau Papa akan memberikan kesaksian yang memberatkan pada gadis itu "...


Erik menatap sang Ayah dengan tatapan tidak percaya, bagaimana mungkin Pria yang Ia sayangi dan sangat baik selama ini berubah jadi seperti saat ini, tidak punya belas kasih pada orang lain.


..." Jangan lakukan itu Pa, baiklah aku akan turuti keinginan Papa "...


Erik menarik nafas berat, mungkin hanya ini yang mampu Ia lakukan.


..." Ternyata kamu begitu menyayanginya Rik, Papa bahkan tidak pernah melihatmu seperti ini pada orang lain termasuk Papa. "...


Pak Hendrik memalingkan wajahnya, Ia sudah menyerah. Seperti nya caranya mengulik informasi dengan menekan Erik itu salah besar, Putranya itu sebegitu kuat tekatnya menyembunyikan semuanya, malah memilih menerima semua hukuman darinya .


Pak Hendrik keluar ruangan dengan wajah sedih, Ia merogoh ponselnya dan mengetik pesan teks untuk seseorang.


" Bawa dia kemari hari ini " Pesan pun terkirim


Ia memilih mencari tempat untuk mengisi perutnya yang mulai konser.


***


Di tempat lain Bi Marni membaca pesan yang di kirimkan Pak Hendrik dengan dahi berkerut. Ia merasa bingung dengan sikap Pak Hendrik.


" Kenapa Bi, apa ada masalah " Tanya Alya ketika melihat reaksi Bi Marni.


" Ah tidak apa apa Al, apa kamu mau ikut Bibi "


Meskipun bingung namun Alya menyetujui nya, apalagi melihat raut wajah wanita di depannya itu yang tidak memungkinkan untuk di tolak.


" Mau Bi, memangnya Bibi mau kemana " Tanya Alya.


^^^" Ada, nanti kamu juga akan tahu sendiri. Segera siap siap dan ganti bajumu dulu "^^^


Alya segera menuruti perintah Bi Marni, mengganti bajunya dengan pakaian yang sedikit sopan. Bi Marni menunggu kedatangan Alya di ruang tengah masih dengan berbagai macam pertanyaan di benaknya.


Untuk kedua kalinya Alya mengulang ucapannya karena melihat Bi Marni hanya diam saja. Bi Marni tersentak kaget ketika Alya menepuk pundaknya lembut.


..."Eh Alya, kamu sudah siap, ayo kita berangkat "...


Bi Marni melangkah lebih dulu meninggalkan Alya yang tergugu melihat tingkahnya.


" Aneh, sepertinya ada masalah besar yang mengganggu pikiran Bi Marni, sebenarnya ada apa ya !? " Gumam Alya.


Mereka menaiki taksi online yang di pesan langsung oleh Bi Marni, awalnya Alya hanya diam saja sambil memandang keluar namun lama kelamaan Ia tidak tahan untuk bertanya.


..." Sebenarnya kita mau kemana Bi " Tanya Alya melihat jalan yang mereka lalui adalah jalan ke RS....


" Ke RS Alya "


Perasaan Alya menjadi tidak enak, Ia mulai berpikir kalau ada yang tidak beres. Apakah sudah terjadi sesuatu pada Erik sehingga mereka harus ke RS, bukannya Pak Hendrik melarangnya untuk bertemu dengan Erik untuk sementara waktu.


Ia ingin bertanya lagi namun enggan, akhirnya Ia memutuskan untuk diam. Toh nanti juga akan ketahuan kalau mereka sudah tiba di sana.


***


" Maafkan Erik Pa, bukan maksud Erik seperti itu. Erik juga sayang sama Papa..... '


" Tapi sayangmu itu sudah terbagi untuk dia kan, bahkan kamu sudah tidak peduli pada Papa "


Pak Hendrik memotong ucapan anaknya.


..." Bukan begitu Pa, rasa sayang Erik pada Papa tidak akan pernah berkurang sampai kapan pun, bahkan dengan hadirnya siapa pun. Jadi Erik mohon Papa jangan seperti ini "...


Erik seperti membujuk anak kecil yang sedang merajuk, begitulah Pak Hendrik.


..." Tapi Papa tidak yakin, Papa bisa melihat rasa sayangmu pada anak itu, kamu begitu menyayanginya. Lebih baik sekarang Papa pergi saja ke luar negeri, Papa ingin menetap disana biar tidak mengganggu kalian "...


Ini adalah cara terakhir yang mampu di lakukan Hendrik agar rencananya berhasil. Tentu saja Erik tidak mau hal itu terjadi, Ia sudah pernah kehilangan masa masa itu dan sekarang hal itu terjadi lagi.


..." Jangan pergi Pa "...


Pak Hendrik menghentikan langkahnya dan menatap Erik dengan dahi berkerut.


" Alasan apa yang mengharuskan Papa tetap tinggal disini, maaf Nak Papa harus pergi "


Erik mengepalkan tangannya menahan gemuruh di dalam dadanya.


" Jangan pergi Pa, alasannya karena Aku dan juga Re.... Re.... Renata membutuhkanmu "


Akhirnya kata itu terlontar di bibir Erik meski bibir itu bergetar ketika mengucapkannya.


..." Re.... Renata !? "...


Tiga suara menyebutkan nama yang sama, Erik menoleh ke asal suara disana sudah berdiri Bi Marni dan juga Alya di sampingnya, sedangkan Pak Hendrik begitu terkejut dengan kehadiran mereka. Ia lupa kalau sebelumnya meminta Bi Marni membawa Alya ke RS, namun Pak Hendrik tidak menyangka akan secepat itu.


..." Renata, apa maksudmu menyebutkan nama itu lagi Mas Erik " pertanyaan itu keluar dari bibir Bi Marni yang juga menjadi pertanyaan yang ingin di tanyakan Alya....


🌻🌻🌻


Haih lelah juga nunggu up ya, akhirnya bisa up hari ini dari kesibukan RL. Buat semuanya bagi dukungannya ya, Like, komen, rate 5, dan vote ya🙏. Makasih, semoga dukungannya bermanfaat untuk semua 🙏