
Renata meminta Oma Laurent untuk meninggalkan nya sendiri, Oma pun tidak menolak karena memang Ia memaklumi Renata harus banyak istrahat.
" Tidak, ini bukan untukku. Aku tidak boleh egois dengan mengikuti permainan Papa, aku bisa hidup bahkan dengan kondisi yang lebih sulit dari ini. Tapi aku tidak ingin bahagia di atas penderitaan orang lain "
Hendra baru saja memasuki ruang tengah Ia terkejut melihat kehadiran sang Ibu.
" Bisakah kita bicara "
Oma Laurent pun mengangguk setuju.
" Tentu saja Hendra, kita memang harus bicara " Jawab Oma Laurent, mereka duduk berseberangan.
..." Aku ingin Ibu membagi hak untuk Renata, aku pikir semuanya sudah jelas. Aku yakin Ibu tidak akan memperlakukan Renata sama seperti ku dulu "...
Oma Laurent menggeleng kecil, Ia memang pernah bersalah dulu tapi Ia sudah menyadarinya jauh jauh hari.
" Tentu saja Hendra, Rena akan mendapatkan haknya begitu juga denganmu. "
Hendra menyeringai tipis, selama ini Ia selalu merasa iri pada saudaranya yang menurutnya lebih mendapat perhatian lebih. Ia sudah menyimpan dendam kesumat sejak dulu.
" Ibu tidak perlu berpura-pura baik padaku, aku tidak pernah menginginkan bagian ku tapi aku minta agar Rena mendapatkan nya "
Oma Laurent mengeluarkan sesuatu dari dalam tas miliknya dan meletakkannya di atas meja.
" Ini lihatlah dan silahkan kamu tanda tangani, semua yang ada dalam surat itu akan menjadi milikmu dan juga Renata "
Hendra meraih kertas itu dan membacanya perlahan, matanya berbinar melihat nominal warisan yang boleh di katakan sangatlah banyak bahkan di luar dugaannya.
Dengan cepat Ia membubuhkan tanda kepemilikannya disana.
" Cukup Oma "
Suara beberapa langkah kaki dari luar mengalihkan perhatian keduanya.
" Kalian, untuk apa kalian kemari. Hahaha..... sayang sekali kalian terlambat, aku sudah selesai tanda tangan begitu juga dengan wanita kesayanganmu ini. Semua harta ini menjadi milikku " Jelas Hendra bangga.
Hendrik tidak mempermasalahkan tentang harta yang harus jatuh ke tangan adiknya karena memang itu miliknya.
" Aku tidak mempermasalahkan itu Hendra, silahkan kamu nikmati. Aku hanya ingin berbicara dengan Ibu tentang sesuatu hal yang penting "
Hendra masih menyunggingkan senyum terbaiknya.
" Ibu, apa Ibu tahu kalau anak itu bukan Renata, Hendra sudah memanipulasi hasil tes DNA nya. "
Oma Laurent sedikit tersentak, ia memang sudah mencurigai hal itu namun berhasil Ia tepis karena bukti yang Hendra miliki.
Hendrik geleng geleng kepala, tak pernah terpikirkan olehnya untuk memiliki semua yang di miliki orang tuanya, tampa membaginya untuk saudaranya itu.
" Aku tidak peduli Hendra, kamu bahkan bisa memiliki semuanya kalau kamu mau, aku hanya tidak ingin ada rahasia yang tersembunyi. Sekarang aku bertanya padamu Hendra, kamu sendiri yang mengatakan nya pada Ibu atau bukti ini yang sampai ke tangan beliau "
Hendra menatap berkas yang berada di tangan Erik, Ia masih tersenyum sinis melihat kekonyolan saudaranya itu.
" Apa yang harus aku akui, bukti apa yang kau punya, palingan itu akal akalan mu saja agar Ibu membatalkan semua yang sudah di berikan padaku "
Hendrik yang mendengar itu menarik nafas berat, Ia mencoba bersabar namun tidak dengan Erik. Belum lagi Oma yang juga penasaran bukti apa yang di miliki oleh cucu laki lakinya itu.
" Apa yang kamu bawa itu Rik, cepat berikan pada Oma " Pintanya.
Hendrik mencegah Erik, Ia sebenarnya tidak ingin adiknya itu ada dalam masalah, tapi juga hal ini bukanlah sesuatu yang bisa di anggap sepeleh.
" Berikan pada Papa Nak, biar saja lebih baik kita pulang sekarang "
Erik menatap wajah sang Ayah, meskipun Ia sebenarnya sangat ingin membongkar semuanya namun melihat raut wajah Pria itu Ia tahu ada sesuatu yang di sembunyikan Ayahnya dan itu tentu sangat penting.
" Lihatlah Bu, mereka hanya membual saja. Bukti apa, itu pasti akal akalan mereka saja. Pergi sana dasar pembual, jangan pernah kembali lagi atau kalian akan berurusan langsung denganku " Ia tertawa penuh kemenangan.
Oma yang melihat drama itu semakin yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres dan ini sangatlah penting.
" Berhenti Erik "
Oma yang sudah berdiri tepat di belakang Erik langsung mengambil berkas dari tangan Erik, beliau kembali ke tempat duduknya.
Hendrik sudah panas dingin, Ia pasrah karena tidak ada yang mampu Ia lakukan. Peluh membasahi wajah Oma Laurent ketika membaca satu persatu yang tertera di sana di sertai semua bukti foto yang memang sengaja Erik kumpulkan.
Oma Laurent menggebrak meja dengan tangannya sendiri, nafasnya naik turun. Ia menatap Putra keduanya itu nanar.
Tidak terpikir olehnya semua masalah berat yang terjadi selama ini adalah akibat dari keluarga nya sendiri.
" Apa alasanmu Hendra melakukan semua ini " Tanya Oma datar.
Hendra malah tertawa sinis melihat reaksi sang Ibu.
" Ibu sudah terprovokasi dengan mereka, inilah yang tidak aku sukai dari Ibu. Ibu selalu membela anak kesayangan Ibu ini, sehingga aku tidak begitu penting di matamu "
Oma kembali menggebrak meja, kali ini dengan asbak rokok yang ada di meja. Hal itu sontak membuat kegaduhan di dalam rumah itu.
" Cukup Hendra, aku bertanya padamu. Kenapa kamu melakukan ini, apa salah Ayahmu padamu. Kamu Anak yang tidak tahu bersyukur, apa salahnya padamu hingga kau tega menghabisinya " Teriak Oma Laurent di tengah kesabaran nya yang sudah habis terkikis.
Hendra terkejut namun kemudian Ia mampu mengendalikan keterkejutan nya, Ia bahkan tidak merasa bersalah sama sekali. Baginya meskipun ketahuan itu memang adil baginya.