
Pak Hendrik berlari memasuki halaman rumah sakit, di susul Bibi Marni yang sama sama khawatir. Alya yang melihat kedatangan mereka bertambah tambah ketakutannya.
......"Alya, dimana Erik dan bagaimana keadaannya " Tanya Pak Hendrik. ......
" Maafkan Alya Pak, Maaf.....! Alya tidak bisa menjaga Mas Erik sampai dia masuk kedalam sana "
Alya ketakutan dan menunjuk pintu tempat terakhir kali tubuh Erik di bawa oleh para petugas RS. Pak Hendrik melihat arah yang di tunjuk Alya dan terkejut.
..." UGD Alya, apa kamu tidak salah Nak " Pak Hendrik benar benar kaget begitu juga Bibi Marni. ...
Alya hanya mengangguk dengan wajah di tundukkan. Pak Hendrik merasa iba melihat ketakutan Alya, Ia pun membimbing Alya untuk duduk di kursi tunggu.
..." Sini Nak, duduk sini dulu. Hm... coba ceritakan kenapa Erik sampai ada di tempat itu, kalau hanya sakit biasa dia tidak mungkin akan di bawa ketempat itu " Tanya Pak Hendrik lembut. ...
Alya menyapu air mata yang jatuh di pipinya, dan mulai menceritakan awal mula kejadiannya hingga berakhir ke RS. Sebenarnya dirinya juga masih shock, tubuhnya bahkan bergetar karena kejadian itu.
..."Mas Erik tiba tiba sesak nafas dan ambruk habis memakan seafood yang di bawa Mbak Dira " Terang Alya di akhir ceritanya. ...
" Apa, seafood katamu Alya, apa kamu sudah gila.... Mas Erik bisa mati kalau memakan makanan itu " Suara Bi Marni hampir saja memecahkan gendang telinga.
Alya mengangkat wajahnya, tidak menyangka kalau akan seperti itu. Ia bingung kenapa Erik juga punya masalah yang sama dengannya yaitu alergi dengan seafood, tapi yang lebih membuatnya bingung adalah kenapa Erik harus memakannya kalau Ia sudah tahu dirinya alergi dengan makanan itu.
......" Apa Mas Erik melakukannya karena ingin melindungi ku, tapi kenapa dia melakukannya. Apa dia tahu aku alergi makanan itu atau ada alasan lain " Batin Alya. ......
" Alya, Bibi benar. Erik tidak bisa memakan makanan itu, dulu dia sampai menghabiskan waktu lama di rawat di RS ini karena makanan yang sama. Tapi Aku heran, kenapa Erik melakukan itu, padahal Ia tahu konsekuensinya kalau Ia tetap nekat memakan makanan itu " Pak Hendrik menepuk pahanya sendiri membuang ke khawatirannya.
..." Maafkan Alya Pak, sebenarnya makanan itu di berikan untuk Alya tapi karena Alya juga tidak bisa memakannya dan tiba tiba Mas Erik yang datang dan merebutnya serta memakannya sampai habis " ...
Pak Hendrik menatap Alya Ia mencari sesuatu disana, mendengar cerita Alya bertambah tambah keterkejutan nya.
" Kamu juga alergi seafood Nak " Tanya Pak Hendrik dan di angguki oleh Alya.
..." Aneh, anak ini juga alergi seafood. Apa jangan jangan kecurigaan ku selama ini benar " Batin Pak Hendrik. ...
" Kenapa tidak kamu saja yang makan, kenapa harus Mas Erik " Bibi Marni ikut menanggapi.
..." Cukup Marni, ini sudah terjadi, tidak ada gunanya juga menyalahkan Alya. Dia juga pasti tidak tahu kalau Erik tidak bisa memakan makanan itu, aku sangat yakin kalau Alya tahu dia tidak akan mungkin membiarkan hal ini terjadi " Tegur Pak Hendrik pada wanita yang selama berpuluh-puluh tahun merawat putranya. ...
" Tapi Mas, dia sudah membuat Erik seperti ini " Bi Marni tidak terima.
Bukan tanpa alasan Marni melakukan itu sejak kecil Ia yang merawat Erik, kesakitan Erik adalah musibah baginya. Ia bahkan rela tidak menikah hanya karena hal itu.
Marni menggeleng keras, Ia sungguh tidak ingin hal itu terjadi.
" Tidak Mas, aku tidak mau. Mas kenapa harus menanyakan itu lagi, bukankah Mas sudah tahu jawabannya kalau aku tidak akan rela Erik seperti itu, bahkan aku siap menggantikan kalau seandainya sakitnya bisa di pindahkan, biar aku saja yang ada di ruangan itu " Marni terisak.
Ia mendaratkan bokongnya di kursi tunggu, air matanya sudah menganak pinak bagai anak sungai yang mengalir. Pak Hendrik merasa iba pada Marni tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi.
Alya mendekat dan duduk di samping Bi Marni serta minta maaf, Ia tahu wanita itu begitu menyayangi majikannya itu.
..." Maaf Bi.... maafin Alya ! " ...
Marni meraih tubuh Alya dan membawanya kedalam pelukannya, wanita berurusan 40an tahun itu mulai menyadari kesalahannya.
..." Tidak Nak, kamu tidak salah. Maafkan Bibi yang sempat memarahi mu, itu karena Bibi juga sangat khawatir. Sekarang mari kita sama sama berdoa saja semoga Mas Erik baik baik saja dan bisa melewati semua ini " Ucap Bi Marni sembari mengusap punggung Alya lembut. ...
Pak Hendrik terharu melihat pemandangan itu, Ia benar benar bahagia melihat pemandangan itu. Dulu sempat terlintas di benaknya untuk menjadikan wanita baik itu sebagai istrinya semenjak istri pertamanya berpulang untuk selamanya, namun kejadian terkutuk malam itu mengubah semuanya, Ia harus mengganti pengantin wanitanya dengan wanita yang baru di kenalnya beberapa waktu.
" Ah sayang...... maaf maaf aku baru tiba, tadi macet parah jadi baru kemari. Bagaimana keadaan Erik Mas "
Tiba tiba Anggun datang dan merusak suasana, Ia bahkan bergelayut manja di lengan Pak Hendrik seakan ingin mengatakan statusnya sebenarnya.
" Anggun, tolong di lepas. Apa kamu tidak malu bersikap seperti ini di RS, banyak orang yang melihatnya "
Pak Hendrik merasa risih, apalagi disana ada Alya dan yang paling Ia jaga perasaan nya adalah Marni. Perawan tua yang sangat baik hati.
" Apa kamu lihat lihat perawan tua, iri ya. Kasihan cantik cantik tapi mau maunya jadi perawan tua " Ucap Anggun sinis.
" Anggun..... Apa apaan sih kamu " Pak Hendrik tidak menyukai ucapan Anggun yang sungguh sangat keterlaluan itu.
..." Tidak apa apa Mas, yang di katakan nya juga benar, jadi tidak usah di perpanjang " Marni enggan menanggapi ucapan Anggun. ...
Ia tahu wanita itu akan selalu mencari gara gara setiap kali bertemu dengannya, entah karena apa Marni juga tidak tahu.
" Mas, Mas katamu.... ! Hei sudah ku peringatkan padamu, jangan panggil Mas Hendrik dengan sebutan Mas, sadar diri dong. Kamu itu hanya PEMBANTU, PEMBANTU kamu ingat itu..... ! " Cerocos Anggun tidak Terima.
Pak Hendrik semakin di buat frustasi melihat tingkah Anggun yang menurutnya berlebihan. Ia ingin memarahi Anggun lagi namun dengat cepat Marni menahannya.
" Sudah sudah Pak, maaf... Ya aku yang salah, aku minta maaf "
Alya yang merasa iba pada Bi Marni menggenggam erat tangan wanita itu seraya tersenyum memberi dukungan.