
Buah kesabaran yang berbuat manis, setelah berpuluh puluh tahun tersiksa dengan perasaan nya akan perbuatan suaminya kini akhirnya Rossa bisa mendapatkan hati suaminya sepenuhnya.
Namun semenjak pertemuan nya dengan Sinta bahkan dengan adanya permintaan dari Sinta justru membuat hati wanita itu bercabang.
..." Benar apa yang di katakan Sinta, seharusnya yang pantas bersama Mas Burhan adalah dia bukanlah aku. Mereka punya anak bersama sama sedangkan aku, aku wanita yang tidak berguna. Aku tidak bisa memberikan Mas Burhan keturunan, aku tidak bisa memberinya kebahagiaan. Apa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus meninggalkan Mas Burhan. Aku harus pergi jauh dari sini agar mereka bisa bersama, kebahagian Anak anak ku lebih berharga dari perasaan cintaku ini, cinta bisa hilang seiring berjalan nya waktu tapi kebahagiaan anak anak ku dan juga Mas Burhan itu harus tetap berlangsung. " Batin Rossa...
Hatinya merintih seorang diri, bayangan tentang masa lalunya dulu sungguh menyakitkan hatinya.
..." Apa salahku Ya Allah, kenapa aku tidak bisa sempurna seperti wanita yang lain mampu memberi keturunan untuk suaminya. Aku..... aku sekarang seperti orang yang bersalah merebut kebahagiaan orang lain. Tapi apa aku salah karena mempertahankan pernikahanku, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup, aku hanya ingin mengabdikan hidupku hanya untuk satu Pria saja. Ya Allah sekiranya boleh aku memohon petunjuk apa yang harus aku lakukan sekarang. "...
Bu Rossa menjatuhkan tubuhnya ke lantai karena kakinya seakan lemah dan tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Bayangan senyum Kamila seakan membuat nya semakin merasa bersalah, seharusnya Putrinya itu bahagia bersama keluarga lengkapnya tapi apa yang sudah Ia lakukan.
" Assalamu'alaikum........! "
" Waalaikum salam, eh Non Mila " Bibi tersenyum melihat Putri dari majikan nya itu yang datang berkunjung.
" Eh Bibi, Ibu mana Bi.......? " Tanya Kamila karena tidak melihat keberadaan wanita yang di panggil Ibu itu.
" Nyonya ada di kamar sepertinya, sejak pagi tadi belum keluar Non " Jawab Si Bibi.
" Belum keluar, kok aneh ya Bi " Kamila mengerutkan keningnya.
Tidak biasanya Ibunya mengurung diri seperti itu.
" Oh iya Bibi, makasih ya biar aku naik ke atas saja "
Kamila berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar Bu Rossa, Ia merasa sangat bahagia dengan pencapaian nya pagi ini. Untuk itulah Ia ingin bercerita pada Ibunya.
" I..... !
Kamila terkejut bukan kepalang melihat sang Ibu yang duduk di lantai dengan kedua tangan mengepal ke lantai, nampak wanita itu sedang menangis.
" Ibu.........! Ada apa Bu, kenapa Ibu seperti ini. "
Kamila merasa sangat khawatir
" Kenapa Ibu duduk disini, ayo Bu Mila bantu duduk di atas, Ibu kalau duduk disini lama lama Ibu bisa sakit "
Kamila membantu Ibunya itu berdiri
" Ada apa Ibu, katakan padaku ada apa. Apa Ibu punya masalah, atau Ayah...... Ayah menyakiti Ibu lagi " Tanya Kamila
Dengan mata merah dan sembab Bu Rossa menggeleng geleng kan kepalanya menepis tebakan Kamila.
" Lalu apa Bu, katakan pada Kamila mungkin saja Kamila bisa bantu "
Bu Rossa mengelus tangan Kamila, mungkin ini saatnya untuk mengatakan pada Kamila tentang semuanya. Apa pun yang terjadi Rossa sudah mengikhlaskan nya, meskipun kalau dirinya harus kehilangan cintanya.
" Mila...... maafkan Ibu, Ibu ingin mengatakan sesuatu padamu dan Ibu harap kamu mau mendengarnya "
" Apa itu Bu, tentu saja Kamila akan mendengar ucapan Ibu "
Kamila tersenyum mendengar ucapan Ibu sambungnya itu.
" Ibu pernah melakukan kesalahan besar dimasa lalu, mungkin kesalahan itu tidak bisa di maafkan tapi Ibu harus mengatakan nya padamu. "
Rossa menarik nafas panjang dan menghembuskan nya secara kasar.
" Dulu Ibu pernah ingin melenyapkan dua orang anak, bahkan salah satu dari anak itu Ibunya sampai masuk rumah sakit jiwa karena tidak mampu menahan kesedihan sebab kehilangan Putrinya. Ibu sudah sangat menyesal untuk hal itu tapi tetap saja mungkin penyesalan tidak ada gunanya "
Rossa menundukkan wajahnya, Kamila yang sejak tadi mendengarkan cerita Ibunya langsung berdiri.
" Kenapa Ibu, kenapa Ibu melakukan itu semua. Apa kesalahan anak itu sehingga Ibu tega ingin melenyapkan mereka. "
Bu Rossa semakin merasa bersalah setelah mendengar pertanyaan Kamila, memang benar apa yang salah pada mereka sehingga Ia ingin melenyapkan anak yang tidak bersalah.
" Ibu...... Ibu tidak tahu, Ibu tidak tahu harus menjelaskan nya bagaimana padamu Nak "
Rossa masih saja menundukkan wajahnya, pikiran nya kalut atas rasa bersalahnya yang kian menjadi jadi.
" Cukup Mila...... ! "
Sebuah suara mengejutkan keduanya
" Buba, coba dengarkan Ibu sedang mengakui pernah melenyapkan anak kecil tapi pas aku tanya apa alasan nya Ibu mengatakan tidak tahu "
Burhan memandang Rossa sejenak, hatinya ikut teriris melihat keadaan Istrinya itu.
" Iya Nak, Ibumu pernah melenyapkan dua anak kecil tapi semua itu bukan salah Ibumu, kalau kamu ingin bertanya kebenaran nya maka Buba lah penyebab dari semua itu "
Kamila mengerutkan keningnya bingung.
" Apa maksud Buba " Tanya Kamila.
Rossa memandang suaminya dan Burhan pun tersenyum.
" Bukan kah Buba sudah pernah bercerita dulu kalau Buba lah yang salah. Buba menikah dengan Ibu Rossa waktu itu, setelah bertahun tahun Ibu Rossa tidak bisa memberikan Buba keturunan, untuk itulah Buba diam diam menikah lagi tanpa sepengetahuan Ibu Rossa. Dari pernikahan itu Buba mendapatkan anak, karena rasa cinta Ibumu pada Buba Ia tidak mau Buba menikah lagi apalagi punya anak dari wanita lain, itulah sebab nya Ibu Rossa ingin melenyapkan anak kecil itu "
Burhan menjelaskan panjang lebar.
" Anak..... Buba...... apa yang Buba maksud itu adalah aku " Tebak Kamila.
Burhan mengangguk membenarkan.
" Kamu dan juga kakakmu Nayla. Kalian beda Ibu, dari dua pernikahan yang Buba lakukan secara diam diam dan lahirlah kalian berdua "
Rossa ******* ***** jari tangan nya sendiri, Ia sudah mempersiapkan hatinya apa pun yang terjadi.
" Lalu yang Ibu maksud Ibunya masuk rumah sakit jiwa itu adalah aku " Tanya Kamila dengan suara tercekat
Burhan kembali mengangguk, Kamila langsung meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan satu kata pun. Hatinya benar benar kecewa dengan semua kenyataan yang baru saja Ia ketahui.
" Mila...... tunggu Ibu Nak " Teriak Rossa.
" Sudah sayang sudah, biarkan dia sendiri dulu." Bujuk Burhan.
" Tapi Mas, dia pergi dalam keadaan marah "
Rossa benar benar khawatir, Burhan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
" Andre.....! awasi adikmu. Dia baru saja mengetahui semua nya dan sekarang dia pergi mungkin butuh waktu untuknya menerima semuanya "
" Adik......?
" Kamila......! "
" Baik Ayah "
Andre mengendarai mobil miliknya menyelusuri keramaian kota, tidak lupa Ia mengerahkan orang orang kepercayaan nya begitu juga Nayla. Mereka mencari dimana kemungkinan adiknya itu berada, bahkan telpon dari Andre dan Ilham pun tidak di terimanya. Kedua Pria itu sangat khawatir, terlebih lagi Ilham yang memang tugas di luar kota menjadi tidak tenang setelah mendapat kabar dari mata matanya yang ada di rumah nya.
Dret dret
Andre bingung melihat nama yang tertera di ponselnya
" Abang.....! tumben Abang menelpon. Apa Abang tahu semuanya, tapi dari siapa. Kalau aku tidak meningkatnya pasti Abang akan semakin penasaran dan terus menelpon "
Andre menerima panggilan telpon itu.
" Bagaimana Ndre, apa sudah ada kabar tentang adik. Kalau belum Abang minta kamu kerahkan semua nya, apa Abang harus pulang sekarang "
Andre menggaruk garuk kepalanya, Abangnya itu pasti akan nekat pulang kalau Ia tidak memberi jawaban yang masuk akal.
" Tidak perlu Bang, aku dan semua yang ada disini sedang mencarinya. Abang disana saja kalau sudah ketemu nanti aku kabari "
🥇🥇🥇