Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Foto Sebagai Penyemangat


®®®


Bu Dian bergegas menuju kamar Asrul karena khawatir akan keadaan Putra nya itu.


Bu Dian menyentuh gagang pintu ternyata tidak di kunci, di buka nya perlahan dan terkejut.


Ternyata Asrul masih duduk dibatas sajadah dengan kusyuk, bahkan kehadiran Bu Dian yang melangkah duduk di sofa pun tidak mampu mengusik nya.


Setelah lama menunggu akhir nya Bu Dian memberanikan diri menyapa Putra nya itu.


" Nak........! " Panggil Bu Dian.


Asrul tetap tidak bergeming dari tempat duduk nya, hanya tangan nya yang nampak sedang menghitung biji tasbih satu demi satu.


" Ada apa Nak, kenapa kamu belum turun ke bawah juga untuk makan, ini sudah sore Nak "


Tidak ada tanda- tanda akan Asrul untuk menoleh, hanya nampak pundak nya yang bergerak naik turun. Tidak lama terdengar sesegukan yang kemudian membuat Bu Dian terkejut.


Bu Dian segera mendekat ke arah Putra nya setelah mengetahui kalau Putra nya menangis, tidak Pernah selama dewasa ini Bu Dian melihat Putra kesayangan nya itu menangis di atas sajadah.


" Ada apa Nak........? " Tanya Bu Dian khawatir.


Asrul bersimpuh di kaki Bu Dian seraya meminta ampun di sela tangis nya.


" Ibu, maafkan aku..... maafkan atas semua kesalahanku. Belakangan ini aku selalu menyakiti hati Ibu, selalu membuat Ibu menangis secara diam-diam. Aku juga tidak mendengarkan perkataan Ibu, aku......... aku memilih menuruti kata hatiku, karena pilihanku ini aku menimbulkan banyak masalah. Maafkan aku Bu...... maaf......! " Pinta Asrul sambil terisak.


Bu Dian yang memang sangat menyayangi Putra nya itu tentu saja sakit hati melihat air mata Putra nya.


" Tidak Nak, ini bukan salah kamu, ini semua salah Ibu. Andai Ibu tidak memaksa kan menjodohkan kalian dan merestui kamu dan juga Siska, tentu tidak akan ada masalah yang rumit seperti ini. Ibu yang harus meminta maaf padamu "


Bu Dian mengusap air mata yang jatuh di pipi Putra nya dan mengelus lembut kepala Asrul. Di mata Bu Dian Putra nya itu bukan lah Pria dewasa, tapi seorang Putra kecil nya yang masih perlu kasih sayang.


" Tapi Bu.........! " Asrul mendadak menjadi ragu.


" Tapi apa Nak......? " Tanya Bu Dian.


Karena menunggu lama tidak ada jawaban akhir nya Bu Dian kembali mengungkapkan isi hati nya.


" Sudahlah Nak, lupakan masa lalu. Semua orang punya masa lalu, sekarang Ibu minta kamu banyak- banyak berdoa berserah diri kepada yang Maha kuasa, semoga di berikan hati yang tenang dalam menghadapi apa pun masalah yang nanti akan timbul kedepan nya " Ucap Bu Dian lembut.


Asrul mengangkat wajah nya memandang wajah teduh Ibu nya, wajah yang selalu tersenyum pada nya.


" Sudahlah tidak apa- apa sayang, sekarang kita turun kebawah untuk makan, tadi Ibu sudah menyuruh Bibi menghangatkan makanan untuk mu. Yuk, nanti dingin lagi " Ajak Bu Dian.


Asrul masih diam saja, sebenarnya Ia memang enggan untuk beraktifitas. Semangat nya seakan hilang entah kemana.


" Kenapa Nak, apa Ibu suruh bawa makanan nya kemari biar kamu makanan nya disini"


Asrul tidak tega pada Ibu nya walau Ia sebenar nya tidak ingin apa apa, tapi Ia tidak ingin Ibu nya kembali bersedih karena menghawatirkan nya.


" Iya Bu, minta Bibi saja untuk membawa nya kemari nanti aku makan " Jawab Asrul.


Bu Dian turun ke bawah dan memerintahkan Bibi untuk membantu nya membawakan makanan untuk Asrul.


" Bi Nurma, tolong siapkan makan buat Asrul dan bantu bawa naik ke atas. Dia masih ada kerjaan jadi ingin makan di kamar saja "


Bi Nurma mengangguk dan melaksanakan apa yang di perintahkan majikan nya itu.


" Ini Nak.......! "Ucap Bu Dian ketika tiba di atas dan meletakkan makanan di atas meja.


Asrul memeriksa ponsel milik nya, karena sebelum nya Ia memberikan pekerjaan penting untuk orang kepercayaan nya, namun belum ada kabar apa- apa juga.


" Iya Bu bentar lagi, masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan dulu " Jawab Asrul


Bu Dian tersenyum memandang Putra nya.


" Baiklah Nak, Ibu turun ke bawah dulu, segeralah makan kalau kerjaan nya sudah selesai, jangan di tunda lagi, Ibu tidak ingin kamu sakit ya "


" Iya Bu......! " Jawab Asrul.


*


*


*


*.


Hari ini Bu Dian bertekat untuk menemui seseorang, Ia harus membantu meluruskan masalah yang sudah di timbulkan nya. Belum lagi Ia sakit hati melihat Putra nya yang jarang menyentuh makanan, hari nya di habiskan untuk bekerja dan bekerja.


Tubuh yang biasa terawat kini tidak lagi, rambut panjang dan wajah yang mulai di tumbuhi bulu hitam- hitam, tidak sedikit pun niat Asrul untuk mencukur nya.


Badan yang biasa nya kekar berotot kini nampak kurus. Hal itu membuat Bu Dian semakin sakit hati.


" Nak, kenapa makan nya sedikit sekali, ada masalah apa Nak, cerita sama Ibu. Kalau kamu makan nya sedikit terus seperti ini, Ibu takut kamu akan sakit. Dan itu coba itu lihat jenggot nya juga sudah seperti hutan belantara, dan kamu tidak ingin membersihkan nya juga. "


Asrul tersenyum menjawab ucapan sang Ibu.


" Tidak apa apa Bu, Oh ya.... ini sudah telat, aku berangkat dulu Bu. Assalamu'alaikum......! " Pamit Asrul


Tidak lupa Ia mencium punggung tangan wanita yang sudah berjasa dalam hidup nya itu.


" Maafkan Ibu karena Ibu kamu seperti ini, jadi seorang yang gila kerja. Aku harus melakukan sesuatu, semoga ini bisa membantu nya seperti dulu lagi.


Asrul mengendarai mobil milik nya menuju dimana kantor milik nya, sesekali Ia memeriksa ponsel milik nya berharap ada kabar baik dari orang-orang kepercayaan nya namun lagi- lagi Ia kecewa karena tidak ada kabar sama sekali.


Ia tiba di kantor nya, tidak seperti dulu Ia selalu tersenyum pada setiap karyawan yang ada di kantor nya. Sudah beberapa bulan belakangan ini tidak ada senyum yang nampak di wajah nya, Ia jadi terkenal kejam dan dingin. Tidak ada ampun bagi siapa yang Ia nilai salah.


Ia melangkah seolah tidak ada orang lain di kantor itu hingga tiba di ruangan milik nya, di sana hati nya sedikit tenang.


Hanya di ruangan itu dia bisa tersenyum dan mengobrol pada sebuah foto yang terpajang indah di sana


" Yuk kita bekerja lagi sayang, hari ini kita harus semangat lagi ya biar kita bisa menang lagi. Kamu pasti senang kan kalau kita menang lagi "


Tidak ada yang tahu betapa berat penderitaan Pria itu selama beberapa bulan belakangan ini. Hanya satu yang menjadi saksi setiap hari. Iya, dia adalah Romi yang juga ikut merasakan penderitaan sahabat sekaligus Boos nya itu.