Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Merasa Cukuplah Dengan Yang Kita Punya.


Hendra tertawa penuh kemenangan karena semua yang Ia inginkan selama ini akhirnya masuk dalam genggaman nya.


Villa yang mewah dengan semua fasilitas lengkap, perusahaan ternama serta semua yang melengkapi nya.


Renata mengintip di balik pintu karena suara tertawa Hendra terdengar menggema memenuhi semua isi rumah dan mengganggu istrahat nya. Ia kembali ke ranjang nya dengan bantuan sebuah tongkat, pikiran nya menjadi tidak tenang.


..." Pa, apakah Papa ikhlas Pria itu mengambil sesuatu yang bukan seharusnya miliknya, dan bersenang-senang dengan harta yang Ia dapatkan "...


Hendrik menatap sang Putra


" Hidup bukan hanya melulu soal harta, harta yang banyak belum tentu bisa menjamin kebahagiaan. Jadi jangan pernah berpikir terlalu jauh mengenai sesuatu yang tidak bisa kamu raih sekaligus, merasa cukuplah dengan apa yang kita miliki, InsyaAllah di sanalah letak bahagia itu. Ingatlah, harta yang kita peroleh dengan sesuatu yang tidak baik atau dengan menghalalkan segala cara tidak akan bertahan lama apalagi berkah, jadi apa yang harus kita ributkan "


Erik hanya manggut-manggut mendengar kan nasihat sang Ayah. Memang sempat terlintas di benaknya tidak ikhlas harta keluarga mereka jatuh di tangan yang salah, namun kini Ia faham akan maksud Ayahnya.


Pagi pagi sekali Hendra sudah siap dengan setelan seragam kantornya, hari ini adalah waktunya Ia melanjutkan aksinya. Dengan langkah tegap Ia memasuki ruang kerjanya, Ia memandang ruangan itu yang masih di penuhi barang barang milik yang empunya dulu.


" Apa ini, kenapa barang barang tidak berguna ini masih juga belum di bereskan " Hendra mulai geram.


Ia mulai menghamburkan semua barang di dalam ruangan itu, barang barang yang pecah ternyata membuat kegaduhan. Seorang karyawan yang kebetulan lewat menjadi sasaran amukan Hendra.


" Hei kau, sini " Panggil Hendra.


Karyawan itu bingung dan melirik ke kiri dan kanan, muka serta belakang mungkin ada orang lain selain dirinya namun ternyata tidak ada.


" Saya Pak " Tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri.


" Iya, kalau bukan kamu lalu siapa lagi bodoh "


" Ada apa Pak, apa ada yang bisa saya bantu " Tanyanya lagi.


Hendra berkacak pinggang, amarahnya sudah sampai ubun-ubun.


" Kenapa ruangan ini masih belum di bereskan juga, kenapa masih banyak sampah tidak penting di mana mana"


Pria yang berada di depan Hendra hanya diam saja, pasalnya dia tidak tahu apa apa. Ia juga bingung kenapa Pria angkuh itu tiba-tiba ada di ruangan itu, bukankah sejauh yang Ia tahu pemiliknya bukanlah dirinya.


Di saat terjadi ke hebohan, Hendrik datang memasuki ruangan itu. Ia terkejut melihat kondisi ruangan itu, semua barang barang miliknya jatuh berserakan, lebih terkejut lagi ketika melihat Adiknya ada di sana.


" Hendra ada apa ini, kenapa ruangan ini berantakan sekali sudah seperti kapal pecah "


Hendra tersenyum sinis memandang Hendrik.


" Tentu saja berantakan, salah siapa ha. Aku sudah bilang agar kau membereskan ruangan ini tapi apa, semua barang barang sampah mu masih ada disini "


Hendrik hanya mengucapkan Istighfar di dalam hati melihat kelakuan sang Adik yang semakin anarkis dan bertindak sesuka hati. Kali ini sudah keterlaluan menurutnya.


" Hendra, aku baru mau kemari untuk membersihkan nya tapi kamu sudah duluan. Bukankah kamu baru akan masuk tiga hari lagi "


Hendra tertawa keras


" Terserah aku lah, kapan aku mau kerja dan kapan aku akan istrahat, ini kan sudah menjadi milikku. Jangan bilang kalau kau itu iri padaku, atau jangan jangan kau itu tidak ingin meninggalkan kantor ini dan melepaskan jabatan mu itu he "


Hendrik diam tidak menjawab perkataan Hendra, Ia terlalu malas untuk berdebat yang baginya tidak ada untungnya. Ia memunguti barang miliknya yang berceceran di bantu sang pegawai yang merasa kasihan padanya