
⏩ Lepaskan Aku 42 ⏪
💕 Jangan pernah menoleh kebelakang, jika itu akan menyakitimu. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk dimasa depan agar hidup menjadi lebih baik 💕
💘 Nayla Aisyah 💘
♎♎♎♎♎♎♎ Nayla ♎♎♎♎♎♎♎
🌷🌷🌷
🌷🌷
🌷
Mobil yang di tumpangi Bu Dian berlalu meninggalkan Rumah Sakit ternama tersebut. Dengan di kemudikan supir kepercayaan keluarga Yabintang.
Di dalam mobil Bu Dian kembali mengingat kenangan bersama bocah kecil yang sudah memenuhi hatinya tersebut. Hatinya terasa bahagia bisa menemani hari hari anak itu.
" Ya Allah, andai saja aku di ijinkan untuk memiliki cucu seperti Alwi. Rasanya hati ini akan sangat bahagia " Batin Bu Dian.
Ia kemudian menghela nafas panjang, setelah mengetahui hal itu tidak mungkin. Karena Asrul sang anak semata wayang, sejatinya sudah di vonis tidak bisa mendapatkan keturunan.
Tiba tiba rasa bahagia itu hilang begitu saja, bagaikan salju yang menguap karena terkena panas.
" Ada apa Bu.....? " Apa ada yang ketinggalan, atau Ibu mau kemana dulu sekarang ? " Tanya Mang yosef ramah
Ia pun nampak khawatir melihat wajah majikannya yang tiba tiba berubah murung.
" Tidak apa apa, tidak usah Mang Yo, kita langsung pulang kerumah saja. Soalnya Aku juga mau istrahat " Jawab Bu Dian dengan cepat
🌞🌞🌞
Ditempat lain sudah beberapa hari ini Nayla terus teringat kepada sang Ibu tercinta. Entah untuk yang kesekian kalinya, Nayla menghubungi nomor ponsel sang Ibu, namun hasilnya nihil. Hanya suara operator yang kembali Ia dengar.
" Bagaimana kalau aku minta cuti saja buat berkunjung kerumah Ibu " Pikir Nayla bahagia.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Hatinya kembali sedih, pasalnya Ia baru saja diterima bekerja di tempat itu. Bagaimana mungkin kalau Ia harus minta cuti.
" Mana mau Mas Asrul memberikan ijin, bisa bisa aku di pecat. Kalau aku di pecat, bagaimana nasib Alwi dan juga Kamila. Mereka berdua sangat membutuhkan aku " Gumam Nayla seorang diri
Mobil yang di tumpangi Bu Dian berhasil parkir di depan rumah Yabintang. Perlahan Bu Dian melangkahkan kakinya kedalam rumah besar itu.
" Terima kasih Mang " Ucap Bi Dian pada supir yang sudah dianggap keluarga itu.
" Inggih Bu sama sama " Jawab Mang Yo sedikit membungkuk.
Aktifitasnya setengah harian ini membuat tubuhnya yang memang sering sakit sakitan itu terasa sangat lelah. Baru saja beberapa langkah memasuki rumah, Bu Dian mendengar sebuah suara ribut. Seakan mendengar dua orang yang sedang bertengkar.
" Cukup....! " Baru saja seminggu yang lalu aku memberikanmu lebih, melebihi dari yang kamu minta malahan. Aku sudah katakan padamu, jauhi aku. Jangan terus terusan menggangguku, kerja apa saja di luar sana. Jangan terus terus minta padaku......! "
Bu Dian mengelus dadanya melihat kemarahan Siska dengan seseorang yang entah siapa.
" Siska.......! " Sapa Bu Dian.
" Kamu kenapa, kenapa marah marah seperti itu. Apa ada masalah, siapa yang sering mengganggumu ? " Tanya Bu Dian khawatir
" Ibu.............! ." pekik Siska dalam hati.
Ia benar benar terkejut karena Ibu mertuanya tiba tiba ada di depan pintu kamarnya.
"Apa Ibu mendengarkan semua yang aku katakan. Tidak......! Bagaimana kalau Ibu bertanya lebih lagi, bagaimana aku akan menjawabnya " Batin Siska gelisah.
" Ibu........! Apa apaan sich Bu !
" Main masuk saja di kamar orang, seharusnya permisi dulu. Ketuk pintu atau apalah, jangan asal masuk saja " Ucap Siska sengit.
Bu Dian merasa bersalah, tidak seharusnya Ia masuk dan mendengarkan pembicaraan orang. Karena rasa penasarannya, dan juga pintu yang memang tidak terkunci membuat Bu Dian masuk begitu saja.
" Maaf Nak, tadi Ibu dengar suara ribut ribut mulai luar. Setelah di cari ternyata di sini, lagi pula kebetulan pintu juga tidak terkunci " Ucap Bu Dian kemudian.
" Sudahlah tidak apa apa Bu, lain kali jangan asal masuk ke kamar orang. Asrul memang anak Ibu, tapi sekarang ada aku. Aku juga butuh privasi Bu.....! "
" Ya sudah kalau begitu, Ibu keluar dulu. Sekali lagi maafkan Ibu, karena sudah mengganggumu ."
Bu Dian keluar dengan hati yang kelabu. Hatinya selalu sedih setiap kali berbicara dengan menantu pilihan anaknya tersebut.
" Asrul...... Inikah wanita yang membuatmu bahagia. Ibu bahkan harus merelakan kebahagiaan Ibu demi untuk melihatmu bahagia Nak " Gumam Bu Dian lirih.