Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Gagal menikah


Penghulu pun pergi setelah di perintahkan Andre, sebelum pergi beliau menerima sebuah amplop langsung dari Andre sendiri. Setelah kepulangan penghulu Dira masih saja berbuat ulah.


" Bagaimana Mas bisa begitu percaya sepenuhnya padanya, bisa saja dia tidak menyetujui hubungan kita, oleh sebab itu dia mencari cari alasan agar pernikahan kita batal "


Nayla melirik Bu Rossa dan Bu Rossa pun mengangguk mengerti, Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas miliknya dan menyerahkannya pada Nayla.


" Tentu kamu masih ingat percakapan kita di rumah sakit beberapa minggu yang lalu, kalau tidak salah waktu itu kamu mengatakan kalau usia kandungan mu adalah lima minggu. Menurut perhitungan sekarang usia kandungan mu sekitar dua bulan. Sekarang bagaimana menurut Mas, apa kecelakaan itu terjadi dua bulan yang lalu atau baru beberapa minggu yang lalu "


Wajah Dira mendadak pucat pasi, Ia tidak mengira kalau ada orang lain yang akan menyelidiki semua tentang dirinya. Namun bukan Dira namanya kalau kehabisan akal begitu saja.


" Kan bisa saja langsung jadi kalau malam itu aku masuk masa subur dan bisa di hitung sebulan " Dira mencari alasan.


Nayla tersenyum kecut, Ia mengakui kepintaran calon kakak iparnya itu.


" Lalu bagaimana dengan ini, apa kamu bisa menjelaskan nya. "


Nayla meletakkan sesuatu di atas meja, sepertinya itu adalah sebuah alat yang menyimpan rekaman. Andre pun menerimanya dan langsung menyambungkan pada tempat yang seharusnya.


Andre dan yang lainnya nampak terkejut, dalam rekaman nampak seorang pria dan juga wanita yang sedang melakukan hubungan intim dalam keadaan yang penuh bira** dan tanpa busana apa pun menempel di tubuh mereka. Nampak dengan jelas wajah sang wanita tapi tidak dengan sang Pria yang nampak hanya punggungnya saja.


" Coba lihat itu, wajah siapa disana. Ada juga tanggal jam nya pun ada jelas disana, apa bisa kau jelaskan semua itu " Tanya Nayla lagi.


Dira semakin pucat dan bingung harus berkata apa.


" Itu, itu tidak benar Mas. Eh kamu, kamu pasti sengaja mengedit itu semua untuk menjatuhkan aku kan " Elak Dira tidak mau mengakui semuanya begitu saja.


" Pergi kau dari sini, aku tidak ingin melihat wajah mu busuk mu itu disini. Carilah Pria yang harusnya bertanggung jawab atas Dosa yang telah kalian lakukan, yang jelas itu bukan aku "


Andre segera melangkah pergi meninggalkan tempat itu, hatinya merasa kecewa karena untuk kesekian kalinya Ia di tipu. Namun di balik semua itu dia juga bersyukur karena tidak jadi menikah dengan wanita yang tidak Ia sukai.


Plak ! Sebuah tamparan mendarat di pipi Dira dengan keras, hingga meninggalkan bekas merah di wajah Dira. Hal itu Ia dapatkan dari Pak Burhan yang sudah tidak tahan lagi menahan emosi.


" Dasar wanita murahan, sudah untung aku memberi kesempatan padamu, rupanya kamu menyia nyiakan kebaikan kami. Pergi kau secepatnya dari sini sebelum aku berbuat nekad padamu " Usir Pak Burhan.


Dira meninggalkan rumah itu dengan di apit para satpam karena Ia tetap bersikeras tinggal disana. Matanya menatap tajam pada Nayla ketika melewati tempat duduk Nayla.


" Lepaskan aku, apa hak kalian menangkap ku dasar satpam tidak berguna. Aku ini calon majikan kalian, aku bisa memecat kalian nanti " Teriak Dira


Bukannya menurut para penjaga rumah itu malah semakin menariknya dengan kasar.


" Cepat keluar dan pulang ke rumahmu untuk tidur, siapa tahu kamu bisa bermimpi jadi majikan di rumah ini "


Kedua Pria itu menyeret dan melempar Dira keluar dari pintu gerbang sambil tertawa. Mereka merasa lucu karena ada orang seperti Dira dengan ambisi besar tapi tidak pada tempatnya.


Sementara di tempat lain Alya duduk di kursi sofa sebuah rumah yang nampak mewah menurutnya.


Alya menerima secangkir teh dan kemudian meminumnya.


" Terima kasih Kak, Terima kasih karena sudah berulang kali menolongku saat aku dalam kesulitan, maaf karena selalu merepotkan mu "


Kenangan beberapa bulan yang lalu ketika Alya di paksa bekerja di tempat yang tidak Ia sukai. Malam itu Ia berhasil bebas lolos dari seorang Pria hidung belang karena memecahkan telor Pria tua itu, Ia terus menerus menangis karena ketakutan. Tiba tiba pintu kamarnya di dobrak dari luar dan beberapa orang masuk, tidak lama kemudian tinggal tersisa seseorang lagi yang duduk di atas kasur.


Alya menangis terisak memohon agar orang itu tidak menyakitinya.


" Pak saya mohon jangan sakiti saya, saya bukan bagian mereka. Saya sebenarnya tidak ingin melakukan ini "


Isak tangis Alya terdengar menyayat hati apalagi ketika Pria itu datang mendekatinya, Ia semakin gemetar ketakutan. Karena sebelumnya tenaganya sudah habis terkuras melawan tua bangka yang ingin menggerayangi tubuhnya, kini tubuh Alya semakin lemah, bahkan untuk berdiri saja Ia tidak mampu.


" Tenang, tenang jangan takut "


Itulah ucapan Pria yang pertama kali Ia dengar malam itu.


" Jangan takut, aku kemari bukan untuk menyakitimu. Aku juga bukan bagian dari mereka, jadi kamu tidak usah takut "


Alya mendongakkan wajahnya dan melihat seorang Pria tampan tersenyum padanya. Kesan yang Alya dapatkan adalah rasa aman, entah kenapa Ia percaya dengan Pria itu.


Romi yang tidak lain adalah Pria itu mengangkat tubuh Alya dan meletakkan di atas kasur serta menyelimuti nya. Seketika Alya merasa tenang.


" Kamu, kamu siapa " Tanya Alya.


Ia bingung bagaimana mungkin ada Pria di tempat itu yang tidak menginginkan tubuhnya, sementara semua yang masuk di tempat itu pasti mencari kesenangan.


" Namaku Romi " Jawab Romi


Alya menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya hanya tersisa matanya.


" Tenang kamu aman sekarang, aku kemari bukan untuk bersenang senang. Hanya saja ada yang aku cari "


Romi pun meminta Alya untuk menemaninya ngobrol dan Ia pun menceritakan semua mengapa Ia sampai ada di tempat itu, begitu juga dengan Alya yang menceritakan semua pada Romi.


" Ini untukmu "


Ketika pagi tiba Romi memberikan sebuah amplop berisi uang pada Alya, awalnya Alya tidak ingin menerima nya karena Ia bingung untuk apa. Mereka bahkan tidak melakukan apa pun malam itu.


" Ambilah, anggap saja ini adalah biaya karena kamu menemaniku ngobrol semalaman. Hm... lagi pula bukankah kamu perlu uang, apa alasanmu nanti pada Tante mu itu kalau kamu pulang tidak membawa uang yang dia minta "


Akhirnya Alya pun menerimanya dengan sebutan hutang, Ia bisa membayarnya kapan saja setidaknya itu menurut Alya tapi tidak bagi Romi, Ia ikhlas memberikan uang itu pada Alya karena rasa kemanusiaan.