Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Pelarian


Bu Dian berpamitan pada Bu Donna, dan tentu saja meninggalkan sejumlah uang untuk keperluan anak-anak panti yang berada disana.


" Astaghfirullah...... ! Kenapa tadi aku mengatakan nya pada Bu Dian dimana Nak Nayla berada, bagaimana kalau ada yang bermaksud jahat nanti pada mereka. Tapi tidak mungkin kalau Bu Dian akan berbuat jahat pada Nayla dan juga anak nya, apa aku beritahu Pak Burhan saja. "


Bu Donna mondar mandir dengan ponsel di tangan nya, Ia ragu entah mau menelpon Pak Burhan atau tidak.


" Lebih baik tidak usah, rasa nya tidak mungkin kalau orang sebaik Bu Dian akan berbuat jahat " Gumam Bu Donna lagi.


" Ibu......! kenapa dari tadi aku lihat Ibu nampak nya gelisah, apa ada masalah Bu " Tanya salah satu yang bekerja di panti itu.


" Tidak apa- apa Lina, aku hanya ada yang kupikirkan, tapi tidak apa- apa. Oh ya bagaimana apa sudah dapat semua nya " Tanya Bu Donna balik.


" Sudah Bu, itu anak-anak sedang menyusun nya pada tempat nya seperti biasa, agar tidak berantakan. " Jawab wanita yang di panggil Lina itu.


" Ya sudah baiklah, Terima kasih ya Lin "


" Sama- sama Bu "


***


Tiba di rumah Bu Dian mulai berseluncur di dunia maya mencari tempat yang memungkinkan untuk orang sekelas Pak Burhan memilih pendidikan untuk Putri nya.


" Mas Burhan pasti mencari tempat terbaik di sana untuk Nayla dan juga yang lain, apa aku suruh Alex saja mencari informasi nya disana. Alex tentu lebih banyak tahu tempat- tempat disana di banding aku menduga- duga yang tidak jelas " Gumam Bu Dian.


" Ada apa Bu, nampak nya serius sekali. " Tanya Asrul yang heran melihat tingkah Ibu nya.


Sudah berulang kali Ia mengucapkan salam namun Ibu nya seperti nya tidak mendengar nya, bahkan sudah dalam jarak dekat di ajak bicara pun Ibu nya itu masih asyik dalam pikiran nya.


Hal itu menyebabkan rasa penasaran Asrul semakin menjadi- jadi.


"Tidak, aku tidak boleh memberitahukan pada nya sekarang, lebih baik aku selidiki dulu. Kalau sudah pasti baru aku beritahukan dia agar dia bisa menentukan apa yang akan mereka ambil nanti " Batin Bu Dian


" Ah tidak apa- apa Nak, Ibu hanya mau mencari informasi diskon barang berharga, siapa tahu ada kan sudah lama rasa nya terakhir Ibu berbelanja. " Jawab Bu Dian tidak lupa dengan senyum lembut nya.


" Oh kupikir ada apa, ternyata Ibu hanya ingin berbelanja, Ya Allah memang sudah lama Ibu tidak pernah berbelanja lagi "


" Ibu, kalau mau berbelanja sekarang pun boleh, ajak Mamang atau aku juga bisa mengantarkan Ibu. Tidak perlu harus nunggu diskon baru Ibu belanja, uang di kartu Ibu juga masih banyak, atau kalau kurang nanti aku transfer lagi " Ucap Asrul.


" Ya Allah, aku malah di suruh belanja beneran. Aku kan tidak ingin belanja, lagi pula apa yang harus aku beli. Aku harus cari alasan apa coba " Batin nya.


" Nanti saja Nak, sekarang Ibu lagi capek. Kalau sudah tidak capek nanti Ibu pasti berbelanja. "


" Ya sudah Bu, kalau Ibu perlu sesuatu katakan saja padaku, jangan sungkan. Kalau begitu, aku naik dulu ya Bu mau mandi dan istrahat. Oh ya Bu, tidak perlu siapkan makanan karena aku sudah makan di kantor tadi "


Belum lagi berbagai macam masalah yang mengganggu pikiran nya dan juga makan dan istrahat yang tidak teratur membuat rasa sakit yang sering muncul di perut nya itu jadi semakin insten, namun tentu semua itu tidak di pedulikan nya.


" Awww....... ! apa aku panggil Ridwan saja.Tidak, kalau aku panggil Ridwan maka Ibu akan tahu dan tentu saja Ibu akan khawatir. Ya sudah, aku minum obat yang ada saja " Gumam Asrul seorang diri.


Ia mencari sisa obat yang sempat Ia beli di apotik, obat pereda rasa nyeri yang sering Ia konsumsi belakangan ini yang tentu saja tidak Ia konsumsi secara rutin. Ia hanya akan meminum nya saat rasa sakit itu datang menyerang nya.


" Mungkin ini yang seharus nya aku Terima dan aku ikhlas untuk itu " Batin nya lagi.


" Ahhhhh........! "


Habis air satu gelas berpindah ketubuh nya.


Hari demi hari itulah yang di rasakan Asrul. Hidup sehat yang pernah dia galang kan selama ini sekarang tidak lagi.


Bekerja dan bekerja hanya itu yang ada di pikiran nya, rokok yang tidak pernah di sentuh nya dulu kini menjadi teman kerjanya di kantor. Makanan yang sering di bawakan Romi sangat jarang di sentuh nya. Setiap kali mood nya buruk Ia akan berbicara dengan potret yang ada di meja kerja nya dan hal itu selalu sukses membuatnya semangat.


" Nak.......! " Sapa Bu Dian.


" Hmmm.......! " Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Asrul.


Tangan nya terus bermain di atas keyboard mengetik kata demi kata.


" Sudah dulu kerjanya Nak, makan dulu ya, ini Ibu bawakan makan. Yuk kita makan dulu mumpung masih hangat, Ibu temani ya "


Bu Dian sakit hati melihat kondisi Putranya dari hari ke hari. Setiap di tanya ada apa dia selalu menjawab tidak ada apa- apa, padahal dari tubuh nya saja sudah nampak kalau dia sedang tidak baik- baik saja.


" Nanti saja Bu, kerjaan nya masih banyak. Kalau sudah selesai nanti aku makan " Jawab Asrul.


" Cukup Nak........! kenapa kamu selalu seperti ini. Lihat dirimu Nak, kamu menyiksa dirimu dengan cara seperti ini. Ibu tahu kamu jarang makan, setiap hari nya kamu hanya minum saja. Katakan pada Ibu ada apa sebenar nya, mungkin Ibu bisa membantu meringankan beban kamu Nak. Kalau kamu diam seperti ini tidak akan ada yang tahu. "


Asrul tahu Ia akan sangat mengecewakan Ibu nya tapi memang belakangan ini nafsu makan nya hilang. Yang ada di pikiran nya hanyalah pekerjaan, tidak ada yang tahu apa yang di kerjakan Asrul setiap malam di saat tidak ada lagi pekerjaan yang menemani nya.


" Ibu, maaf tolong mengerti aku. Tidak ada apa- apa Bu, kalau aku lapar nanti aku makan, tapi saat ini aku sedang tidak lapar jadi aku mohon Bu jangan paksa aku untuk makan sementara aku tidak ingin " Ucap Asrul setengah memohon.


Bu Dian tidak tahu lagi harus berbuat apa, sebelum nya Romi yang terpaksa melaporkan kepada Bu Dian tentang sahabat nya itu. Apa yang sudah terjadi pada nya belakangan ini. Itulah sebab nya Bu Dian menanyakan nya langsung namun sayang sekali, Bu Dian pun tidak juga mendapat jawaban nya. Hanya ada satu cara yang di anggap Bu Dian mujarab dan kemungkinan berhasil.


" Baiklah kalau begitu Nak, mulai sekarang Ibu juga tidak akan makan. Selama kamu tidak makan, selama itu juga Ibu tidak akan makan. Bibi...... mulai sekarang Bibi masak sedikit saja, cukup untuk Bibi dan yang lain nya. Satu lagi, Bibi tidak perlu lagi menyiapkan makan untuk Ibu atau Pak Asrul. "


Bu Dian sengaja mengeraskan suara nya agar terdengar jelas oleh Asrul, usai mengucapkan itu Bu Dian langsung meninggalkan kamar Putra nya tanpa menoleh sedikit pun.


💐💐💐