Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Nenek Sihir


Erik benar benar tak habis pikir dengan sikap wanita yang berdiri tak jauh darinya itu, sesungguhnya Erik sangat ingin menghargai wanita itu andai peringainya baik, tapi sikapnya sendiri yang membuat Erik tak menaruh respek padanya.


" Sampah ? Apa nggak salah Tante, yang sampah disini siapa. Tidak tahu malu " Cibir Erik


Ia berlalu melewati Anggun seraya menggandeng tangan Alya membawanya ke kamar sang Ayah guna memastikan kondisi Ayahnya. Ia tidak ingin mengambil resiko kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi.


Erik membuka pintu perlahan, menarik nafas lega melihat sang Ayah tertidur di atas ranjang dengan wajah tenang. Nampak segar tidak seperti ketika masih di RS.


Setelah merasa yakin Ia pun membawa Alya keluar kembali, masih dengan menggandeng tangan Alya Ia membawa gadis itu ke sebuah ruangan, membuka pintunya perlahan.


Ia memandang seisi kamar itu dan menarik nafas berat, Ia rindu tempat itu.


" Mas, ini kamar siapa " Tanya Alya.


" Ini kamar Mas Al ketika masih tinggal disini, dan mulai sekarang ini akan menjadi kamarmu. Kamar ini tepat berada di seberang kamar Papa jadi kamu bisa leluasa untuk menjaga Papa siapa tahu nanti Papa butuh bantuan. Oh ya, mengenai tugas kamu disini sudah jelas kan. Mas tunggu informasi nya ya, langsung kabari Mas kalau ada apa apa "


Erik sebenarnya tidak tenang meninggalkan Alya di rumah itu, tapi Ia juga lebih tidak tenang meninggalkan sang Ayah tanpa pengawasan. Ia yakin Alya mampu melakukan tugas yang Ia perintahkan karena menurut penilaian nya Alya adalah gadis yang punya tanggung jawab. Meski nampak lemah dari luar tapi akan berubah ketika Ia merasa itu adalah tanggung jawabnya.


" Mas mau kemana, kenapa nggak tinggal saja disini, Mas kan bisa.... " Al menjeda kalimatnya karena Erik langsung memotong ucapannya.


" Aku tidak bisa tinggal disini, Aku mohon padamu jaga Papa dengan baik. Bukankah kamu sudah tidak punya Ayah, anggap saja Papa adalah Ayahmu dan aku yakin Papa akan sangat aman bersamamu "


Erik segera pergi setelah berpamitan, ponselnya sejak tadi sudah berbunyi menandakan beberapa pesan masuk disana.


" Iya, aku kesana sekarang " Balas Erik kemudian berlari kecil keluar rumah.


Deru mobil miliknya terdengar hingga kedalam rumah. Alya menarik nafas panjang, meyakinkan dirinya kalau semuanya akan baik baik saja.


" Ayolah Al, semangat..... ! kamu pasti bisa, kamu kan Angel, apa sih yang tidak bisa kamu lakukan. Cukup sudah kamu lemah selama ini, kini tanggung jawabmu sangat besar "


Alya tersenyum menyemangati dirinya sendiri tiba tiba Ia di kejutkan dengan kehadiran Anggun yang mendorongnya dengan kuat, Alya tersungkur karena tidak punya persiapan sama sekali. Beruntung di depannya adalah kasur empuk jadi Ia tidak merasakan sakit sedikit pun, hanya saja jantungnya yang hampir copot karena terkejut.


" Heh ******, pergi kau dari sini, aku tidak ingin melihat wajahmu ada disini. Carilah tempat untuk kau menjual diri tapi yang pasti bukan disini tempatnya "


Alya tertawa kecil bukannya marah Ia malah tertawa.


" ****** katamu, kita lihat siapa yang ****** disini. Aku atau kamu, ****** teriak ****** " Bisik Alya di telinga Anggun.


Ia keluar tanpa menoleh meninggalkan Anggun yang nampak terkejut dengan ucapan Alya, Ia tidak mengira kalau gadis yang Ia anggap lemah mampu membalas ucapannya.


" A - apa ! kau mengatakan aku ******, hey... tunggu kau Alya " Teriak Anggun mencoba menyusul kepergian Alya.


Sementara Alya yang bersembunyi di balik pintu hanya memandang kepergian Anggun yang melewati nya namun tentu saja Anggun tak melihat keberadaan nya.


" Sabar Alya, kamu pasti bisa melakukan nya. Go gadis bar - bar, tunjukan pesonamu. Wanita itu tidak akan mampu menyakitimu " Alya menyemangati dirinya sendiri.


Sebenarnya hatinya sakit mendengar ucapan Anggun yang begitu menyakitkan namun kepercayaan yang Erik berikan padanya membuat nya harus kuat.


Alya melangkah dengan santai seakan tidak terjadi apa apa, satu tujuannya adalah dapur rumah itu, sejak tadi perutnya sudah keroncongan, cacing cacing dalam perutnya sudah menabuh gendang minta jatah makan siang.


" Mbak Al lagi apa di dapur " Tanya seorang PRT rumah itu.


Alya cengengesan sambil garuk garuk kepala.


" Aku lapar Bi, mau cari makan "


Wanita yang sudah mulai berumur itu tersenyum lembut pada Alya.


" Non Alya duduk disini saja biar Bibi yang siapkan makan siangnya, memang Non Alya mau makan apa " Bi lela membimbing Alya di meja makan.


Alya terkejut dengan ucapan Ibu itu apalagi panggilan untuknya.


Bi Lela masih dengan senyum manisnya memandang hangat pada Alya, wajah Alya mengingatkan nya pada seseorang dimasa lalu.


Alya terus membujuk Bi Lela agar tidak di perlakukan seperti halnya seorang majikan


" Biar Alya ambil sendiri Bi makanannya " Pinta Alya memelas.


Segigih gigihnya Alya memohon namun akhirnya Ia menyerah juga dan duduk di meja makan dengan pikiran yang masih bingung. Matanya menatap ke lantai atas was was kalau Tuan rumah itu melihat nya seperti itu dan membuatnya dalam masalah.


" Ini Non makan siangnya, silahkan di makan " Bi Lela mempersilahkan pada Alya dengan ramah.


Alya baru saja memasukkan beberapa suapan ke mulutnya ketika sebuah suara mengejutkan nya.


" Wah wah ada yang mau jadi ratu ya sekarang. "


Alya menoleh dan lagi lagi terkejut melihat kehadiran Anggun, Ia sebenarnya gugup namun Ia berusaha untuk tenang. Anggun kembali memakinya ketika melihat menu makan siang wanita itu yang lengkap seperti makan siang mereka yang empunya rumah.


" Enak bener ya lo, datang datang langsung makan. Dasar manusia tidak tahu diri " Cemooh Anggun.


Ia menyingkirkan menu makan siang itu dari hadapan Alya dan melangkah kedapur mengambil sesuatu dari sana. Kembali ke meja makan meletakkan sesuatu yang Ia ambil dari dapur rumah itu.


" Mau makan kan, ini... menu makan siang mu yang cocok adalah ini "


Anggun menuangkan garam dan penyedap rasa di piring Alya dan mempersilahkan Alya untuk memakannya. Bibi yang melihat itu menjadi tidak tega.


" Nyonya, tapi itu hanya garam dan penyedap rasa, kasihan Non Alya "


Dahi wanita itu berkerut mendengar ucapan pelayan di rumahnya itu.


" Non Bi, apa nggak salah. Bibi memanggilnya dengan sebutan Non. Heh Bibi dengar ya, memang dia siapa sampai Bibi memanggilnya Non, asal Bibi tahu dia ini hanya ****** yang tidak tahu malu, jangan sekali kali memanggilnya Non, seolah olah dia orang penting "


Bi Lela hanya diam, Ia tidak tega melihat Alya di perlakukan seperti bukan manusia.


" Heh kamu, cepat habiskan makananmu sekarang " Anggun berdiri melipat tangan nya di dada.


Alya tersenyum penuh arti berdiri dan mendorong sedikit kursi yang Ia tempati, senyumnya makin kesini makin mengerikan.


" Hm sepertinya ada yang belum makan rupanya, aku sudah kenyang. Gimana kalau kau saja yang makan nenek sihir " Alya mengikuti gaya Anggun.


Sementara Alya nampak santai, Anggun malah terbakar emosi.


" A - apa kau bilang, nenek sihir....? Heh gini gini aku cantik dasar wanita kampungan "


Kedua wanita itu berdebat, di dapur beberapa pekerja menonton perdebatan mereka. Bi Lela nampak tersenyum bahagia, Ia tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti saat ini. Selama ini tidak ada satu orang pun yang mampu melawan majikan mereka itu, kini Ia bisa bernafas lega melihat gaya Alya


🌻🌻🌻


Huah lelah juga, RL butuh tenaga ekstra. Yuhu...... bagi dukungannya ya biar semangat lanjut.


πŸ‘‰ Like


πŸ‘‰ Komen


πŸ‘‰ Rate bintang ⭐⭐⭐⭐⭐


πŸ‘‰Vote kalau belum terpakai ya


πŸ‘‰ Fav juga ya


" Makasih ya buat semuanya, semoga berkah untuk semua "